
Hari sabtu pagi di rumah Devano tampak ramai di huni beberapa orang. Ternyata Devano mengumpulkan keluarganya untuk nantinya menghadiri acara pernikahannya yang akan berlangsung hari ini. Tampak kedua adik Devano Diva dan Kevin turut hadir di hari yang berbahagia untuk kakaknya.
Kedua adiknya tiba di Jakarta sejak kamis pagi dan kedua paman dari adik ayahnya pakde Reza dan pakde Krisman beserta istrinya baru datang semalam dan tiba di Jakarta.
Sementara keluarga dari ibu Devano ada saudara ibunya yang tinggal di Surabaya, tante Ana, tante Rida bersama suami dan anak-anaknya sudah tiba bersamaan dengan kedua adiknya sejak kamis pagi.
Setelah mereka sarapan bersama, pukul 08:00 mereka bersiap-siap berangkat menuju gedung yang telah di sewa oleh Stephanus untuk pernikahan putrinya dengan Devano. Beberapa bingkisan di masukkan ke dalam mobil, masing-masing mobil membawa satu bingkisan. Dan sisanya di bawa di bagasi mobil Devano.
Ya ... walaupun acaranya hanya akad nikah, namun seperti kebiasaan pada umumnya Devano membawa bingkisan seserahan sebagai hadiah untuk Keisha sebagai calon istrinya.
Tidak lupa dia membawa cincin pernikahannya yang akan di pasangkannya ke jari calon istrinya. Saat membeli cincin tersebut, dia temani oleh adiknya Diva karena ia tahu bahwa adiknya Diva ahli dalam memilih perhiasan yang di sukai wanita.
Tepat pukul sembilan pagi, Devano dan keluarganya tiba di sebuah gedung yang di hiasi oleh pernak-pernik khas pernikahan, di mana tempat tersebut akan di laksanakan akad nikah pada pukul sepuluh pagi nanti. Walaupun Stephanus mengatakan acara pernikahannya akan di langsungkan secara sederhana, tapi setelah melihat dengan mata kepala mungkin jauh dari kata sederhana.
Megah dan mewah merupakan dua kata yang cocok untuk mendeskripsikan gedung yang akan menjadi tempat di laksanakan akad nikah nantinya. Tampak juga beberapa penjagaan yang ketat di setiap pintu masuk, mungkin Stephanus mengingini pernikahan putrinya berjalan dengan lancar dan aman tanpa gangguan apapun.
Tampak Stephanus, Lucky, dan beberapa kerabat Stephanus menyambut rombongan keluarga Devano. Keluarga Devano pun langsung di arahkan memasuki gedung tempat berlangsungnya akad nikah. Kursi untuk undangan pun sudah tersusun rapi. Ruangan itu cukup luas untuk menampung undangan yang tidak mencapai lima puluh orang karena memang hanya keluarga dekat saja yang di undang.
Tampak calon mertua Devano sedang duduk berbincang dengan para tamu yang tak lain adalah kerabat dekat keluarga Stephanus. Astri terlihat sehat dan wajahnya terlihat bahagia, sepertinya dia bahagia menyaksikan pernikahan putrinya yang sangat di harapkannya.
Melihat Devano dan keluarganya, Astri langsung menyambut dengan sapaan dan di sertai senyuman. Astri pun tampak kaget melihat bingkisan yang di bawa lebih dari sepuluh bingkisan yang di kemas dengan rapi, elegan, dan pastinya menarik. Padahal pihak keluarga Keisha tidak mengharapkan ada bingkisan seserahan segala.
Devano pun duduk di salah satu tempat yang telah di sediakan. Dia tampak gagah dengan setelah jas berwarna blue navy, tampak serasi dengan kemeja putih dan dasinya. Wajahnya yang tampan terlihat cerah karena senyumannya yang selalu terukir di bibirnya.
Tampak keluarga Keisha yang baru pertama kali bertemu dengan Devano saling berbisik satu sama lain. Mereka mengagumi Devano yang akan menjadi menantu Stephanus dan Astri. "Pantesan mba Astri buru-buru menikahkan Keisha, toh calon suaminya ganteng begini," bisik adiknya Astri.
"Sepertinya dia juga pria yang baik. Pasti Keisha bakalan nempel terus sama suaminya, biar gak di rebut orang. Hahaha," ucap Jena sepupunya Keisha.
"Tante, calon suaminya Keisha punya adik laki-laki gak?" tanya Jena tersenyum menatap Astri.
"Ada ... nanti Tante kenalin," jawab Astri tersenyum melihat tingkah keponakannya.
Sepertinya hari ini Keisha lebih banyak diam, bahkan senyuman manjanya yang selalu terukir di bibirnya seakan menghilang. Tampak matanya sedikit sembab karena semalam ia terus menangis saat menumpahkan perasaannya kepada sahabatnya Tiara.
Melihat sahabatnya tertunduk lesu, Tiara mengajak Keisha untuk berbicara. "Keisha ayo senyumlah ... mana ada pengantin cemberut gitu! Di mana-mana pengantin tuh bahagia. Ayo jadikan hari ini hari bahagia untukmu," ucap Tiara mengepalkan tangannya memberi semangat kepada Keisha.
Sementara Keisha hanya diam saja memandang wajahnya di depan cermin. Pikirannya masih belum percaya kalau ia akan menikah hari ini dan mungkin beberapa menit lagi akan resmi menjadi istri Devano Alfari.
"Keisha ... bukankah kamu sendiri yang ingin memutuskan melanjutkan perjodohan ini, setelah mas Devan membatalkannya? Jadi, terimalah semua ini dan yakinlah ini yang terbaik untukmu Keisha," ujar Tiara merangkul lalu memeluk bahu Keisha dari belakang. Tiara masih tidak mengerti dengan sahabatnya yang satu ini, dia yang melanjutkan perjodohan tapi sikapnya seolah memperlihatkan penolakan.
Seketika bulir-bulir kristal jatuh bebas membasahi pipi mulus Keisha, seolah tak bisa lagi menahan air mata yang sedari tadi di bendungnya.
"Eh ... jangan menangis lagi! Nanti make upnya luntur," ucap Tiara dengan sigap mengusap air mata yang menetes di pipi Keisha dengan tissue. "Tuh lihat, pengantin pria sudah datang," ucap Tiara yang seketika membuat jantung Keisha berdetak lebih cepat.
Andai saja waktu bisa di putar kembali, Keisha ingin meralat ucapannya untuk tidak mengucapkan bersedia menikah dengan Devano. Entah kenapa dia harus mengatakan itu, padahal Devano sendiri sudah membatalkannya.
Tapi nasi sudah jadi bubur, semuanya sudah terlanjur terjadi. Tinggal ia menikmati bubur itu walaupun terasa tidak enak. Tidak mungkin kan dia menarik ucapannya untuk membatalkan pernikahannya dengan Devano di saat dua keluarga sudah berkumpul.
Tiara pun mengajak Keisha untuk berdiri dan membawanya keluar menemui calon suaminya. Terlihat tatapan demi tatapan tertuju kepadanya hingga membuatnya semakin gugup. Tampak Keisha terus menggenggam tangan Tiara seolah takut di tinggalkan. Tiara merangkul bahu Keisha berusaha terus menenangkannya.
Sementara jantung Devano terasa semakin kencang, tangannya terasa dingin dan basah. Beberapa kali Devano terlihat menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya agar tidak grogi. Tidak lupa dia mengeringkan tangannya yang basah dengan tissue. Butiran keringat pun terlihat di kedua pelipisnya, padahal suhu di ruangan itu tidak terlalu panas karena ruangan tersebut menggunakan AC.
Proses pernikahan pun berlangsung, mereka pun saling mengucapkan janji suci pernikahan dan di saksikan oleh dua keluarga mempelai. Kurang lebih setengah jam, akhirnya Devano dan Keisha sah menjadi suami istri.
Tampak Stephanus dan Astri menitikkan air mata bahagia. Begitu juga dengan Devano yang tak bisa menahan air matanya yang perlahan membasahi pipinya. Dia teringat dengan ibunya yang dulu sangat mengharapkan Devano segera menikah. Dan hari ini Devano memenuhi janji yang di ucapkannya kepada ibunya sebelum meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Keharuan juga terlihat pada kedua adik Devano. Diva terlihat mengusap air matanya yang membasahi pipinya, bahagia bercampur sedih yang di rasakannya. Diva dan Kevin teringat dengan kedua orang tua mereka yang tidak bisa menyaksikan momen kebahagiaan yang mungkin hanya di alami sekali dalam seumur hidup kakaknya Devano.
...~ Bersambung ~...