Pemuda Tampan Incaran Wanita

Pemuda Tampan Incaran Wanita
Kembali Bertemu


Tidak jauh dari tempat duduk Devano, terdapat tiga orang perempuan sedang asyik mengobrol sambil sekali-kali tertawa keras.


"Guys ... gila ada yang ganteng tuh!" ujar salah satu perempuan berkacamata.


Perempuan berambut pendek di sampingnya langsung meluruskan pandangannya dan menemukan seseorang yang di maksudkan teman di sampingnya. "Pria yang di sana kan Jes? Asli benar cakep banget!" ucap Tiara.


"Em, gue mau buat tantangan nih. Siapa yang bisa ngajak cowok itu datang ke sini trus mau kenalan sama kita, gue traktir seminggu!" ucap Jeslin kepada ke dua temannya.


"Tapi tunggu di sebelahnya ada ceweknya," ucap Tiara.


"Sepertinya bukan ceweknya deh, lihat wajah mereka mirip, mungkin saja itu adiknya. Udah kalian berani gak? Kalau gak gue yang datangin, tapi kalian berdua yang traktir gue kalau berhasil yah," ucap Jeslin menaikkan alisnya.


"Bentar dulu dong! Aku belum lihat cowoknya ganteng atau tidak," kata perempuan yang berada di depan Jeslin. Dia pun menoleh ke belakang, karena dia duduk membelakangi cowok yang di maksud Jeslin dan Tiara.


Tampak perempuan itu menyipitkan kedua matanya, bermaksud memperhatikan cowok yang di maksud oleh kedua temannya. "Apa ... Itu kan mas Devan!" batinnya.


"Baiklah, guys. Aku terima tantangannya," ujar si perempuan itu sambil beranjak dari tempatnya menuju tempat duduk Devano.  Kedua temannya Jeslin dan Tiara tampak melongo melihat temannya yang berani langsung bergerak melakukan tantangan tersebut.


"Halo, Mas Devan ... " sapa perempuan itu sambil tersenyum setelah tiba di tempat duduk Devano.


Devano yang sedang sibuk dengan ponselnya membuka sosial media miliknya seraya menunggu pesanannya, seketika langsung menoleh ke arah suara yang memanggilnya.


"Keisha?" kata Devano kaget melihat perempuan tersebut yang merupakan putri semata wayang pak Presdirnya. Entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdetak kencang, Devano tidak menyangka akan bertemu seseorang yang dalam beberapa hari ini ada di pikirannya.


"Lagi jalan-jalan ya Mas?" tanya Keisha.


"Iya Keish ... lagi ngajak adek jalan-jalan, kebetulan mereka lagi main ke Jakarta," kata Devano. "Nih kenalin kedua adik saya, yang perempuan namanya Diva dan laki-laki namanya Kevin." Diva dan Kevin pun mengenalkan namanya sambil bersalaman dengan Keisha.


"Perkenalkan nama saya Keisha," ucap Keisha memperkenalkan dirinya.


"Kalau boleh tahu, Keisha dengan siapa di sini?"  tanya Devano sambil celingak-celinguk hendak mencari seseorang, namun tidak terlihat Stephanus dan istrinya berada di tempat itu.


"Sama teman-teman kampus Mas, kebetulan juga kami sedang berbelanja di sini," ungkap Keisha sambil menunjuk ke arah kedua temannya lalu tersenyum.


Sontak kedua temannya yang dari tadi memperhatikan Devano dan Keisha di buat melongo dan tercengang melihat tingkah teman mereka Keisha. "Gila si Keisha ... dengan mudahnya dia akrab dengan laki-laki berparas tampan itu!" ujar Jeslin tidak percaya.


"Benar, sepertinya Keisha telah menghipnotis cowok itu deh," kata Tiara berbisik di telinga Jeslin.


"Mas Devan, bolehkah saya meminta sesuatu?" tanya Keisha yang kembali memandang Devano.


"Silahkan!" jawab Devano.


"Apa mas Devan bisa berkenalan dengan teman-teman saya yang di sana, mereka pasti senang kenalan dengan mas Devan," pinta Keisha meminta Devano untuk berkenalan dengan kedua temannya, dan ini juga adalah tujuan utamanya memenuhi tantangan dari sahabatnya Jeslin.


Devano sendiri pun tidak keberatan berkenalan dengan teman-teman Keisha. Dengan wajah penuh kebahagiaan Keisha berjalan menuju kedua temannya yang masih melongo memperhatikannya. Tampak Keisha membawa Devano berkenalan dengan temannya Jeslin dan Tiara.


"Halo teman-temanku tercinta, nih ada yang mau kenalan!" ucap Keisha dengan wajah ceria sambil menaikkan alisnya menandakan bahwa dia berhasil melakukan tantangan.


Lalu Keisha memandang Devano di sampingnya. "Mas Devan, kenalin nih teman-teman Keisha," ucap Keisha yang berusaha menahan tawanya, bahkan dia mundur beberapa langkah sambil menahan tawanya dengan mulut di tutup oleh tangannya.


Jeslin dan Tiara pun langsung memperkenalkan diri mereka masing-masing. Jeslin yang masih penasaran dengan Devano langsung meminta nomor kontak Devano. Sontak hal tersebut langsung di soraki oleh Tiara dan Keisha. "Gak sekalian nomor sepatunya, Jes?" ledek Tiara.


Akhirnya Devano memberikan nomor handphonenya. Jeslin pun langsung melakukan misscall ke nomor Devano dan meminta Devano untuk menyimpan nomornya.


"Itu nomor saya yah Mas, siapa tahu nanti perlu bantuan saya. Boleh kok hubungi saya saja," kata Jeslin tersenyum. "Tiap hari nelpon pun gak apa-apa. Hehehe," lanjutnya dengan suara kecil.


Devano pun mengiyakan di sertai anggukan kepala. "Baiklah, sepertinya pesanan makanan saya sudah datang. Saya permisi dulu!"


"Terima kasih banyak yah Mas Devan," ucap Keisha dan kedua temannya hampir bersamaan. Sepeninggalnya Devano, Keisha langsung menagih janji Jeslin karena dia sudah berhasil membawa cowok yang di maksudnya.


"Mereka siapa, Bang?" tanya Diva pada Devano yang kembali duduk.


"Perempuan yang tadi ke sini anaknya Presdir, bos perusahaan tempat abang bekerja. Mereka bertiga adalah teman kuliah," jelas Devano.


"Anaknya Presdir? Abang sampai kenal dengan anaknya Presdir. Luar biasa!" kaget Diva.


"Pernah bertemu beberapa kali dan juga pernah makan siang bareng sama Presdir dan keluarganya," ungkap Devano.


"Bahkan ayahnya menjodohkan dia dengan abang, jadi dia calon istri abang kalau abang menerima lamaran ayahnya. Tapi dia seperti masih belum siap menikah, ia begitu bahagia berkumpul bersama teman-temannya," tambah Devano dalam hati.


"Keren ya bang, bisa dekat dengan keluarga Presdir," ujar Diva lagi.


Devano tidak menyahut ucapan Diva, dia lebih memilih menatap ke arah Keisha. Namun wajah Keisha tidak bisa di lihatnya karena Keisha duduk membelakanginya. Tampak Keisha dan dan teman-temannya tertawa keras, entah apa yang membuat mereka tertawa tapi Keisha sangat terlihat bahagia bersama dengan teman-temannya.


"Bang ... bang Devan ... malah melamun," kesal Diva sambil menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah Devano.


"Eh, apa Div?" kaget Devano melihat tangan Diva di depan mukanya.


"Ngelamun apa sih, bang?" tanya Diva. "Kok bisa bang Devan dekat dengan keluarga Presdir?"


"Presdir bang Devan pak Stephanus kan sahabat ayah kita, abang kan pernah cerita waktu masih ada ibu, kamu lupa?" tanya balik Devano.


"Oh, iya ... iya ... aku baru ingat!" sahut Diva sambil mengingat-ingat cerita Devano hampir satu tahun yang lalu


"Bang Devan ... " panggil Kevin sambil menunjuk jam tangan miliknya. "Udah mau malam bang, kita pulang yah."


"Oh iya ... ayo kita pulang," kata Devano berdiri lalu di ikuti oleh Diva dan Kevin. Setelah melakukan pembayaran, mereka langsung menuju pintu keluar kafe. Namun Devano kembali lagi menuju tempat Keisha. Dia pamit kepada Keisha dan teman-temannya.


Devano pun melajukan mobilnya menuju kediaman rumahnya. Selama perjalanan pulang menuju rumahnya, entah kenapa wajah Keisha terbayang jelas di pikiran Devano. Wajah cerianya, senyuman manisnya, cara bicaranya yang sedikit kekanak-kanakan terlihat jelas dalam ingatannya.


"Ya Tuhan apa ini petunjuk dariMu?" batin Devano sambil fokus menyetir mobil.


"Dari tadi melamun trus, kenapa sih bang?" tanya Diva sambil asik meng-unboxing barang belanjaannya.


"Gak kok Div," jawab singkat Devano.


...~ Bersambung ~...