Pemuda Tampan Incaran Wanita

Pemuda Tampan Incaran Wanita
Mimpi


Diva terus mengoceh dan berusaha memberi pengertian pada abangnya Devano. “Harusnya sebelum pulang kampung, kabarin dulu sama kak Naura. Bang devan kan bisa ngirim pesan pada kak Naura, kayak gak punya hp canggih aja,” kata Diva.


“Nah … sekarang nyesal kan, gak bisa ketemu. Apalagi bang Devan mau pergi jauh ke Sulawesi dan belum tahu ketemu lagi kapan. Pasti nyesak nahan rindu di hati hu … hu … hu,” kata Diva sambil menguyah nasi goreng buatannya.


“Gak apa-apa kalau kak Naura mau sabar menunggu bang Devan selama delapan bulan. Tapi kalau gak sabar ke buru di ambil orang, jangan salahin Diva yah bang. Udah tahu jodoh ada di depan mata, tapi masih malu-malu ungkapin persaan,” lanjutnya terus mengoceh.


Di sisi lain, Devano hanya membiarkan adiknya Diva terus mengoceh. Setelah kembali dari dapur, Devano kembali duduk di depan Diva, dari raut wajahnya dia memperhatikan adiknya seolah-olah dia serius mendengarkan. Sesekali dia menganggukan kepalanya untuk memperlihatkan seolah-olah serius mendengarkan penuturan dari adiknya Diva.


Begitulah cara Diva menggoda kakaknya, dia akan terus mengoceh dengan berbekal kata-kata yang telah dia susun. Devano pun terbiasa dengan sikap adiknya, kalau Diva tidak mengganggunya malah serasa ada yang kurang.


Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Devano pun berpamitan kepada ibu dan kedua adiknya untuk kembali ke Jakarta, dan sekaligus pamit minggu depan bertugas di Sulawesi untuk urusan pekerjaan yang telah di percayakan padanya.


Tampak Devano mencium tangan kanan ibunya, lalu mencium kedua pipinya dan memeluknya. Entah kenapa Devano merasa berat untuk melepaskan pelukannya. Seolah-olah ini merupakan pelukan terakhir dan tidak bisa bertemu dengan ibunya lagi.


"Jaga kesehatan yah, Bu. Jangan terlalu pikirin biaya kebutuhan sehari-hari, nanti Devan akan kirim uang setiap akhir bulan," kata Devano melepas pelukannya.


"Div ... jaga ibu ya. Kalau ada apa-apa dengan ibu, segera hubungi. Kamu juga semangat kuliahnya," pesan Devano sambil memeluk adiknya Diva.


"Iya, Bang."


Cuaca siang itu tampak mendung dengan awan-awan tebal berwarna hitam yang mulai menutupi indahnya langit biru. Seolah cuaca mendukung dan merasakan kesedihan hati Devano.


Lalu ibunya mencium kening Devano. "Berangkatlah, Nak. Sepertinya akan mau turun hujan. Doa ibu akan selalu menyertaimu," ucap ibunya tersenyum dan tanpa sadar bulir-bulir kristal mulai berjatuhan bebas membasahi pipinya.


"Aku tidak akan pergi kalau ibu terus menangis," kata Devano mengusap air mata ibunya.


Setelah ibunya kembali tersenyum, Devano berjalan menuju ke arah Kevin yang sudah siap mengantarkan Devano dengan motornya menuju tempat travel yang akan mengantarkan Devano kembali ke ibu kota.


Ibu dan Diva tampak melambaikan tangan ke arah Devano dan Kevin yang perlahan menjauh. "Hati-hati di jalan!" teriak Diva. Ibu dan Diva baru masuk ke rumah setelah Devan dan Kevin menghilang dari pandangan mereka.


****


3 minggu kemudian.


Waktu terus berjalan, tidak terasa hampir tiga minggu Devano berada di tempat kerja barunya, di sebuah kota yang sedang tumbuh pembangunannya menjelma kota maju dan modern.


Terlihat waktu saat ini menunjukkan pukul 00:00 tengah malam. Udara malam saat itu terasa lebih dingin sampai menyeruak masuk ke tulang-tulang. Itulah yang di rasakan Devano di balik selimut tebal, hingga lewat tengah malam pun, dia belum bisa memejamkan kedua matanya.


Entah kenapa malam itu Devano tidak bisa memejamkan kedua matanya dan tidak bisa tidur, padahal besok pagi dia harus kembali bekerja.


Beberapa wajah orang yang di sayanginya membayangi pikirannya, seolah-olah hal tersebut menari-nari dalam pikirannya. Ibunya, Diva, Kevin, dan Naura muncul dengan jelas menari-nari di dalam otaknya.


Walaupun Devano sering berkomunikasi dengan ibu dan kedua adiknya lewat telpon maupun video call, tetap saja keinginannya untuk bertemu dan berkumpul dengan keluarganya terasa begitu kuat. Devano tidak bisa menahan rasa rindu pada keluarganya apalagi dengan ibunya.


Sehingga tak jarang Devano menghadirkan kebersamaan dengan keluarganya dalam lamunannya yang kadang membuat ia senyum-senyum sendiri.


Salah satu nama yang sering muncul dalam pikirannya adalah Naura. Ya, Naura ... nama itu sepertinya tertanam dalam hati Devano. Devano sepertinya merasakan perasaan yang sedikit berbeda saat mengingat nama Naura. Devano sadar akan perasaan itu yang seharusnya belum saatnya hadir.


Saat ini Devano belum siap melamarnya untuk membina sebuah rumah tangga, karena saat ini pikirannya hanya terfokus untuk membahagiakan ibu dan kedua adiknya.


Dia berusaha menghilangkan wajah Naura dan tidak mau bermaksiat membayangkan wanita yang belum sah menjadi pasangan hidupnya. Dia kembali memunculkan wajah ibunya dan melihat dengan jelas ibunya tersenyum ke arahnya.


Senyuman yang sudah jarang sekali Devano lihat semenjak dia jauh dari sisi ibunya. Tak lama kemudian rasa kantuk pun datang membuat matanya perlahan terpenjam.


Hingga tiba-tiba terdengar suara yang sepertinya sedang memanggil namanya. "Devan ... Devan ... " suara samar terdengar seseorang yang sedang memanggilnya.


"Devan ... Devan .... " Sekali lagi Devano kembali mendengar suara itu dan sepertinya suara tersebut tidak asing di telinganya.


"Ibu ... " teriak Devano setelah beberapa saat dan langsung terbangun dari tidurnya. Dia pun mengusap kedua matanya dan melihat ke arah sekitar kamarnya. "Ah ... ternyata cuma mimpi," batin Devano lega sambil mengusap keringat dinginya.


Devano membuka ponselnya dan terlihat waktu menunjukkan pukul empat pagi. Rasanya baru sebentar Devano memejamkan kedua matanya, waktu sudah melewati beberapa jam. Devano mencoba mengingat-ingat yang ada di mimpinya.


Di dalam mimpinya, Devano mendengar suara ibunya memanggilnya dari arah luar rumah. Devano pun keluar rumah untuk menghampiri ibunya yang terus memanggilnya. Saat keluar rumah, dia melihat ibunya terlihat masih muda, sedang berada di halaman rumah bersama ayahnya.


Tampak kedua orang tuanya bermain-main dengan seorang anak kecil yang berusia sekitar tiga tahun. Dia melihat ibunya memanggil-manggil anak kecil itu dengan nama Devan. Yah ... nama yang sama dengannya. Apakah itu adalah dirinya waktu kecil saat bersama dengan kedua orang tuanya?


Devano pun memberanikan diri untuk keluar rumah, bermaksud menghampiri ibu dan ayahnya. Tapi mereka malah berjalan menuju taman yang luas, indah dengan hampar rumput yang hijau. Anak kecil tersebut pun tiba-tiba menghilang.


Wajah kedua orang tuanya tampak bahagia, mereka tersenyum dan terus berjalan bergandengan tangan. Sesekali mereka melihat ke belakang ke arah Devano dan melambaikan tangannya.


Devano terus berlari mengejar ibu dan ayahnya tapi mereka semakin menjauh hingga akhirnya ibu dan ayahnya tidak terlihat lagi, seakan tertelan oleh cahaya putih.


Devano berusaha keras berteriak memanggil ibunya, hingga akhirnya Devano terbangun dari tidurnya. Sebuah mimpi yang aneh, kenapa semakin di kejar malah semakin menjauh bahkan menghilang.


Devano pun duduk di tempat tidurnya dan mulai menenangkan dirinya. Setelah sedikit merasa tenang, Devano kembali membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya. Devano mencoba mencerna mimpinya, adakah hubungannya dengan ibunya?


Apakah mimpinya adalah pesan untuknya bahwa akan terjadi sesuatu dengan ibunya? atau mungkin karena Devano merasa rindu dengan ibunya hingga terbawa ke dalam mimpinya. Bukankah mimpi hanya sebagai bunga tidur? Tapi terlepas dari semuanya itu, mimpinya sedikit membuat Devano gelisah.


Akhirnya Devano beranjak turun dari tempat tidurnya dan menuju dapur. Dia meneguk air dalam gelas, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk sekedar mencuci kaki dan membasuh mukanya.


...~ Bersambung ~...