Pemuda Tampan Incaran Wanita

Pemuda Tampan Incaran Wanita
Kembali Memburuk


Jam lima pagi Devano bangun dari tidurnya yang beralaskan karpet dan kasur lipat tipis. Tampak kedua adiknya masih tertidur pulas, begitu juga dengan penunggu pasien lainnya yang masih tertidur. Devano pun beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju toilet sekedar mencuci mukanya.


Pagi ini Devano harus mengantarkan Kevin pulang, karena bertepatan hari ini adiknya Kevin mengikuti ujian semester di sekolahnya. Sedangkan hari ini Diva memutuskan tidak pergi ke kampus, dia memilih untuk menemani ibunya.


Devano pun langsung membangunkan Kevin yang masih tertidur pulas. "Kevin ... bangun dek, katanya hari ini Kevin ada ujian di sekolah," kata Devano.


Mendengar suara abangnya, Kevin langsung bangun dari tidurnya. "Iya, Bang. Kevin cuci muka dulu," ujar Kevin sambil mengusap kedua matanya, lalu beranjak dari tempatnya.


Setelah selesai, tampak Kevin membereskan beberapa bukunya yang sempat dia bawa semalam untuk persiapan ujiannya. Devano pun langsung mengantarkan adiknya pulang, tak lupa Devano pamit pada adiknya Diva.


Matahari terus merangkak naik dan tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Devano saat ini sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.


Tiba-tiba ponsel milik Devano bergetar di saku celananya, membuatnya terpaksa menepikan motornya di sisi jalan. "Diva ... " ucapnya kala membaca nama pemanggil yang tertera di layar ponselnya.


"Apa ibu baik-baik saja!" kata Devano yang langsung berpikir bahwa sesuatu terjadi pada ibunya.


"Iya, halo Div?"


"Lagi di mana, Bang?" tanya Diva.


"Nih abang lagi dalam perjalanan menuju rumah sakit, bentar lagi sampai kok. Kenapa Div, ibu baik-baik sajakan?" tanya Devano khawatir.


"Bang kata perawat bang Devan di suruh masuk ke ruangan menemui ibu. Ibu terus memanggil bang Devan," kata Diva.


"Iya, iya. Bentar lagi abang akan sampai, tolong temanin ibu dulu." Devano langsung bergegas menuju rumah sakit.


****


Sesampainya di rumah sakit, Devano segera bergegas menuju ruangan ibunya. Dia berhenti sejenak di ruang penunggu pasien kala melihat Diva berjalan mondar-mandir, sepertinya dia menunggu kedatangannya.


"Akhirnya bang Devan datang juga," lirih Diva melihat kedatangan abangnya Devano. Diva langsung meminta Devano untuk segera menemui ibu di dalam, karena sejak dari tadi ibunya memanggil-manggil nama Devano.


"Div ... abang masuk dulu!" kata Devano mengusap pelan kepala Diva.


"Iya, Bang."


Setibanya di ruangan, tampak seorang perawat sedang merapikan tempat tidur dan wajah ibunya terlihat cerah dan segar. Perawat di ruang ICU memang sangat telaten merawat ibunya. Sudah tidak ada lagi selang pernapasan yang terpasang dari mulut ibunya.


Menurut info dari perawat, tadi malam ibunya sudah melewati penyapihan ventilator dengan hasil observasi stabil sejak hari kemarin dan di ganti dengan masker oksigen. Sementara selang di hidungnya masih terpasang untuk memberikan nutrisi cair, karena reflek menelannya belum optimal.


Melihat Devano di sampingnya, ibunya sangat bahagia. Devano pun membantu ibunya untuk duduk. Lalu Devano menyuapi ibunya untuk sarapan. "Ibu makan yang banyak yah. Biar tenaga ibu kembali pulih," ucap Devano yang bahagia melihat kondisi ibunya semakin membaik.


Perawat yang melihat momen haru antara ibu dan anaknya hanya bisa tersenyum. Perawat tersebut meminta Devano untuk terus menemani ibunya. Lalu perawat tersebut berjalan keluar memberi ruang untuk ibu dan anaknya agar leluasa berbicara.


Tampak juga perawat shift pagi mulai berdatangan untuk melakukan operan shift dengan perawat shift malam.


"Syukurlah, Bu. Devan sangat senang mendengarnya."


"Devan kapan kamu nikah?" tanya ibunya dengan suara yang pelan hampir tidak terdengar kalau Devano tidak mendekatkan telinganya ke mulut ibunya. Mungkin setelah selesai sarapan, ibunya kembali menggunakan masker oksigen jadi ucapnya tidak terdengar jelas.


Devano sedikit kaget mendengar pertanyaan dari ibunya. "Ibu sehat dulu yah. Setelah ibu sehat, nanti temanin Devan melamar calon pendamping Devan. Doakan setelah selesai proyek di Sulawesi, Devan akan segera menikah," jawab Devano sambil mengusap kening ibunya.


Tapi entah kenapa yang terbayang oleh Devano calonnya itu adalah wanita yang menjadi temannya sejak kecil. Siapa lagi kalau bukan wanita yang tinggal di depan rumahnya ... Naura.


Mendengar penuturan dari Devan, ibunya pun mengangguk tersenyum. Ibunya sekarang merasa tenang karena anaknya sudah punya niat untuk menikah. Tapi ibunya tidak menanyakan siapa calon yang akan di lamar putranya sebagai pendamping hidupnya.


Tampak tangan ibunya memegang erat tangan Devano. "Devan, ibu mau pulang," ucap ibunya yang sepertinya kangen dengan rumah dan rindu berkumpul dengan anak-anaknya.


"Ibu akan segera pulang kalau ibu pulih kembali. Ibu harus semangat yah, biar cepat sehat dan cepat pulang." Devano berusaha menghibur ibunya sambil mengelus-elus tangan ibunya.


"Diva dan Kevin mana? Kamu harus jagain mereka," kata ibunya. Belum sempat Devano menjawab pertanyaan ibunya, Diva datang mendekat. Sepertinya Diva tidak sabar ingin bertemu dengan ibunya yang mulai membaik.


Begitu bahagianya Diva melihat ibunya yang tampak begitu segar, wajahnya terlihat lebih cerah di bandingkan hari kemarin saat ibunya dalam keadaan koma. "Selamat pagi, Bu. Diva sangat merindukan ibu," ucap Diva mencium dan memeluk ibunya, tak terasa bulir-bulir kristal jatuh bebas membasahi pipinya.


Diva menangis bukan karena sedih, tapi dia meneteskan air mata bahagia. Air mata penuh harap ibunya segera pulih kembali dan mereka bisa berkumpul seperti dulu lagi.


"Diva, ibu ingin dengar kamu nyanyi," kata ibunya yang meminta Diva bernyanyi. Diva memang hobi bernyanyi, bahkan saat di rumah Diva selalu bernyanyi untuk ibunya. Saat ibunya tengah sedih ataupun merindukan Devano, Diva menghibur ibunya dengan nyanyian. Sehingga ibunya bisa melupakan kesedihan dalam hatinya.


Diva segera memenuhi permintaan ibunya, dia mendekat dan duduk di kursi yang di duduki Devano sebelumnya. Devano sendiri berdiri di samping tempat tidur sambil mengelus-elus kepala ibunya, seperti tidak mau jauh dari ibunya.


Diva pun menyanyikan sebuah lagu yang merupakan lagu favoritnya. Lagu tersebut menceritakan ucapan terima kasih seorang anak pada ibunya. Diva berusaha melanjutkan nyanyiannya walau sempat terhenti karena tidak bisa menahan air matanya. Lagu tersebut seakan mengekspresikan perasaannya saat ini.


Belum selesai Diva mengakhiri nyanyiannya, tinggal beberapa lirik lagi. Tiba-tiba ibunya berusaha untuk menarik nafas namun terlihat kesulitan. Suara alarm monitor pun berbunyi membuat Devano dan Diva tersentak kaget melihat ibunya kesulitan bernafas.


Diva langsung berdiri dan memanggil perawat. "Suster ... " teriak Diva yang di penuhi rasa kecemasan.


Dua orang perawat yang sudah mendengar alarm segera berlari mendekat dan langsung memeriksa kondisi ibunya. Para perawat tersebut melihat tanda vital di layar monitor dan tampak angka denyut jantung meningkat, respirasi pernapasan menurun dan kadar SPO2 menurun.


"Pasien kesulitan bernafas!" kata salah satu perawat yang memeriksa kondisi ibunya Devano dan Diva. Perawat langsung mengatur posisi meluruskan tempat tidur dengan remote control. Satu perawat lainnya mencoba memasang kembali selang pernafasan ke mulut ibunya Devano dan Diva.


Devano yang berada di dekat ibunya hanya bisa berdoa agar ibunya tidak kenapa-napa, sementara Diva mundur beberapa langkah sambil berlinang air mata menjauh dari ibunya untuk memberikan ruang bagi petugas yang menangani ibunya.


Tak lama kemudian, datang dokter dan satu perawat memasuki ruangan untuk membantu menangani. Tampak dokter tersebut langsung melakukan tindakan khusus pada pasien dan di bantu oleh beberapa perawat.


Kemudian dokter tersebut memberikan penjelasan kepada Devano bahwa ibunya bisa saja kembali mengalami henti nafas, sehingga harus di pasang alat bantu nafas agar pertolongan yang di berikan maksimal dan dapat membuat pasien bertahan.


...~ Bersambung ~...