Pemuda Tampan Incaran Wanita

Pemuda Tampan Incaran Wanita
Rencana Pernikahan


Di gedung Arkana Group, Stephanus baru saja selesai melaksanakan rapat dengan kepala cabang dan kepala divisi Arkana Group. Setelah para pegawainya meninggalkan ruang rapat, Stephanus meminta asisten pribadinya Lucky untuk memanggil Devano ke ruangannya.


"Baik Pak," sahut Lucky yang segera memanggil Devano melalui panggilan telepon. Setelah di hubungi Lucky, Devano pun segera menghadap Stephanus di ruangannya. Kemudian Stephanus mengajak Devano duduk di sofa agar terkesan lebih santai.


"Bagaimana keadaan tante Pak? Apa keadaannya sudah membaik? Maaf saya belum sempat mengunjungi lagi tante ke rumah sakit," ucap Devano.


"Tante sudah membaik, bahkan tante sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Mungkin lusa sudah boleh pulang," jawab Stephanus.


"Syukurlah Pak, saya turut senang mendengarnya."


"Emm, maaf Pak ... kalau boleh tahu, ada apa yah Bapak memanggil saya?" tanya Devano.


"Saya hanya cuma mengucapkan terima kasih banyak kepadamu. Terima kasih sudah membawa pulang Keisha dan juga maafkan karena sebelumnya Keisha sempat menolakmu," ungkap Stephanus yang merasa malu kepada Devano karena sikap penolakan putrinya yang membuat Devano membatalkan perjodohannya.


"Sama-sama Pak, sudah seharusnya saya harus membantu Bapak. Bapak telah banyak membantu saya, jadi saya hanya mencoba membalas kebaikan Bapak satu persatu, hehehe. Masalah Keisha tentang perjodohan saya bisa mengerti Pak," ucap Devano yang memang tidak merasa kecewa atau sakit hati dengan penolakan Keisha.


"Devan, waktu di rumah sakit kamu dengar sendiri kalau Keisha bersedia menikah denganmu," ucap Stephanus berhenti sejenak,. lalu kembali melanjutkan ucapannya. "Apakah kamu masih bersedia melanjutkan perjodohan ini?" tanya Stephanus menunggu keputusan dari Devano.


Devano pun mengukir senyuman di bibirnya. "Bila memang Keisha menerima saya, saya bersedia melanjutkan perjodohan ini Pak." Devano sendiri sudah memikirkan kembali, dan keputusannya kalau memang Keisha bersedia menerimanya, Devano pun akan melanjutkan perjodohannya.


Seketika ekspresi wajah Stephanus terlihat bahagia, matanya terlihat berbinar. Padahal sebelumnya, Stephanus telah menyiapkan diri kalau Devano tidak akan melanjutkan perjodohan ini, dia harus menerimanya dengan lapang dada.


Namun jawaban Devano di luar dugaannya. Dia memang tidak salah memilih Devano untuk menjadi pendamping hidup putrinya. Menurut Stephanus, Devano merupakan jodoh yang di tentukan Tuhan untuk putrinya Keisha. Lalu Stephanus menghampiri Devano dan memeluknya dengan terus mengucapkan terima kasih.


****


Setelah menjalani perawatan dalam kurun waktu satu minggu, akhirnya Astri sudah di perbolehkan untuk pulang karena kondisinya sudah semakin membaik. Astri sendiri pun tidak sabar untuk segera mengajak suaminya untuk membicarakan rencana pernikahan putrinya dengan Devano.


Setelah berdiskusi, akhirnya Stephanus dan Astri sepakat menentukan pernikahan Devano dan Keisha akan di langsungkan satu minggu lagi. Stephanus pun berencana untuk mengundang Devano ke rumahnya untuk makan malam sambil memberitahukan rencana pernikahan.


"Baik Pak, saya pasti datang," ucap Devano menutup sambungan panggilan dari Stephanus.


Pukulan 20:00 malam Devano sudah berada di rumah mewah Stephanus. Mereka pun langsung berkumpul di meja makan, karena tujuan awal Stephanus mengundang Devano ke rumahnya adalah untuk makan malam bersama. Tampak beberapa menu masakan yang menggugah selera tersaji di meja makan.


Tidak ada obrolan sama sekali saat berlangsungnya acara makan malam, hanya suara Stephanus dan Astri yang meminta Devano untuk mencicipi semua hidangan.


Bahkan tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut Keisha karena dia hanya benar-benar menikmati makan malamnya yang tidak berselera. Tidak ada senyum maupun sapaan untuk laki-laki yang duduk di depannya yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.


Selesai acara makan malam, Stephanus mengajak duduk di sofa di ruang tengah. Tampak bi Kiki menyajikan empat cangkir teh hangat dan beberapa makanan ringan yang akan menjadi teman obrolan. Stephanus pun memulai percakapan.


"Devan, apakah kamu menikmati makan malamnya?" tanya Stephanus tersenyum sambil melirik istrinya yang duduk di sampingnya.


"Syukurlah kalau begitu," kata Stephanus. "Mah, apa kita katakan saja?" tanya Stephanus meminta persetujuan istrinya. Astri langsung mengangguk pelan sambil tersenyum.


"Devan, Keisha ... kami telah sepakat pernikahan kalian akan di langsungkan satu minggu lagi, tepatnya di hari sabtu. Kalian sudah siap kan?" tanya Stephanus berbicara dengan penuh wibawa.


Bagai di sambar petir di siang bolong, Devano tersentak kaget. Mengapa secepat ini? Sementara dia belum mempunyai persiapan apapun. Bahkan dia belum memberitahu keluarga dari ayahnya yang berada di Yogyakarta, memberi tahu pamannya sekaligus meminta restu.


Tidak mungkin Devano mengatakannya melalui telepon, rasanya kurang sopan dan tidak menghargai pamannya yang sekarang menjadi pengganti orang tuanya.


"Apa tidak terlalu cepat Pak? Bagaimana pernikahannya di langsungkan satu bulan lagi? Terus terang saya belum mempunyai persiapan apapun," ucap Devano jujur. Di pikiran Devano terbayang bahwa ia harus menyiapkan mahar dan seserahan untuk Keisha serta undangan untuk teman-temannya. Pasti itu semua membutuhkan waktu yang tidak sedikit.


"Kenapa malah dia yang tidak siap? Oh ... sekarang aku tahu bahwa dia hanya berpura-pura, biar terkesan dia tidak terlalu menginginkan pernikahan ini. Padahal dia tahu tinggal bawa diri saja, toh semuanya sudah di siapkan dady," batin Keisha.


Entah kenapa Keisha selalu berpikiran negatif terhadap Devano, padahal yang di pikirkannya kan belum belum tentu benar. Ya ... mungkin saja karena Keisha belum mengenal Devano lebih dekat dan hanya menganggap Devanolah yang merusak kebahagiaannya.


"Kamu tidak usah khawatir Devan, semuanya sudah di siapkan. Acara pernikahannya di laksanakan secara sederhana saja, hanya kerabat dekat yang akan hadir. Mungkin resepsinya menyusul setelah Keisha lulus kuliah, tidak masalah kan?" tanya Stephanus.


Ini memang permintaan Keisha yang hanya melangsungkan akad nikah saja, karena dia belum siap untuk mengumumkan pernikahannya terutama untuk teman-temannya. Apalagi kalau sampai Nuelman tahu, ia masih belum siap. Hubungan Keisha dengan Nuelman pun sampai saat ini masih terus berlanjut, padahal Astri sudah meminta Keisha untuk memutus hubungannya dengan laki-laki tersebut.


"Baik Pak, saya akan bersedia." Akhirnya Devano menyetujui pernikahannya di langsungkan pada hari sabtu depan.


"Maaf, Keisha ingin cincin seperti apa? Biar saya siapkan," ucap Devano menoleh ke arah Keisha yang beberapa hari lagi akan menjadi istrinya.


"Ish, sok-sokan nawarin cincin. Kalau mintanya cincin berlian, emang mau ngasih?" batin Keisha.


"Terserah mas Devan saja," ucap Keisha.


"Baiklah."  Walaupun Keisha tidak mengatakan cincin seperti apa yang di sukainya, Devano akan tetap memberikan cincin yang mahal yang terbaik untuk istrinya.


Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, pembicaraan untuk persiapan pernikahan pun sudah di sepakati. Hanya tinggal besok menyiapkan dokumen persyaratan untuk pengajuan ke kantor urusan agama.


Devano pun pamit pulang, tampak Stephanus dan Astri mengantarnya sampai ke teras rumah. Sementara Keisha lebih memilih masuk ke dalam kamarnya.


"Saya permisi dulu Pak," ucapnya menyalami tangan Stephanus dan di lanjut menyalami tangan Astri. "Saya permisi dulu Tante."


"Hati-hati di jalan Devan," ucap Stephanus dan Astri hampir bersamaan.


...~ Bersambung ~...