
"Mau pindah kemana lu bro?" tanya Emir penasaran. "Apa lu gak satu ruangan kerja lagi sama kita gitu?"
"Iya Bang, sepertinya ke depan kita gak satu ruangan lagi. Saya di tempatkan di bagian pengawasan Bang, mengganti salah satu manajernya yang pensiun," jawab Devano.
"Wow ... keren banget lu bro!" sorak Emir yang turut bahagia mendengar sahabatnya kini naik jabatan sebagai manajer pengawasan.
"Lu emang cocok di posisi itu Bro! Selamat ya ... selamat," ucap Emir menyalami Devano dan menepuk bahu Devano. Emir sendiri mengakui Devano cocok di posisi itu. Devano orang yang jujur, teliti, bertanggung jawab, dan optimis dalam bekerja. Yah ... walaupun usianya masih tergolong sangat muda, Emir yakin Devano bisa menjalankan amanah barunya.
"Terima kasih banyak, Bang. Tapi ada satu masalah bang," ucap Devano.
"Masalah apa?"
"Saya belum percaya diri bang. Saya rasa saya lebih senang bekerja di ruangan ini daripada ruangan baru yang akan saya tempati. Di sini kan ada bang Emir yang selalu dukung saya," keluh Devano.
"Gak, gak ... lu pasti mampu bro, gua yakin seratus persen," ucap Emir meyakinkan Devano.
"Baiklah bang, saya akan berusaha untuk belajar. Oh yah ... saya pamit dulu ya bang, mau ke bagian umum. Nanti kita ngopi bareng ya bang kalau saya gak sibuk, nanti saya hubungi." Tampak Devano berdiri dari tempat duduknya dan mengambil tasnya.
"Sombong lu, mentang-mentang baru jadi manajer udah sok sibuk," kata Emir bercanda.
"Hahaha, ini kan hasil didikan bang Emir juga," ucap Devano yang tidak bisa menahan tawanya.
"Kalau boleh tahu, mau ngapain lu ke bagian umum?"
"Ngambil kunci mobil bang, jadi sekarang gak ngojol lagi. Hehehe," jawab Devano.
"Mantap bro!" kata Emir mengacungkan jempolnya. "Kapan-kapan kita jalan pakai mobil lu yah, sekalian gua ajak Renatta."
"Mobil inventaris bang," kata Devano menegaskan.
"Sama aja kali! Itu kan mobil inventaris lu. Eh, bentar-bentar gua berubah pikiran, gue gak jadi ajak Renatta deh. Bisa-bisa dia bucin lagi sama lu, bisa sia-sia usaha gua. Hahaha," ujar Emir meralat ucapannya sambil tertawa.
"Tenang saja bang, saya gak akan ambil Renatta dari abang kok. Abang manfaatin aja momen itu untuk meraih hatinya."
"Idih ... kepedean lu. Udah sana lu ... keburu pulang bagian umumnya. Ntar nyesel jalan kaki sampai ke rumah," ucap Emir menggiring Devano bak anak kecil keluar ruang kerjanya. Di sisi lain, Juan hanya senyum-senyum sendiri melihat kelakuan lucu antara kedua sahabat itu.
"Terima kasih ya bang, saya pamit dulu dan sampai ketemu besok! Sampaikan salamku buat Renatta," goda Devano yang membuat Emir mencibirkan bibirnya. Setelah Devano hilang dari pandangannya, Emir pun berbalik menuju ke ruang kerjanya.
****
Setelah Devano keluar dari lift, dia langsung berjalan masuk ke ruangan bagian umum. Terlihat ada petugas yang menunggunya. "Selamat sore Pak. Maaf yah Pak lama menunggu saya," kata Devano.
"Selamat sore pak Devan. Gak apa-apa kok," ujar si laki-laki yang berkacamata dan berpostur lebih tinggi dari Devano. "Ini surat serah terimanya tinggal di tanda tangani. Ini kunci dan SNTK mobilnya. Silahkan di cek pak Devan," ucap si laki-laki itu dengan ramah sambil menyerahkan kunci dan SNTK mobil plus lembar serah terima.
"Kalau boleh tahu, apa pak Devan mau langsung pulang? Sepertinya ini sudah waktunya jam pulang kantor," ucap si laki-laki tersebut sambil melirik jam dinding. Tampak waktu sudah menunjukkan pukul jam lima sore lebih.
"Iya, Pak. Saya akan langsung pulang."
"Kalau begitu lebih baik pak Devan nunggu di pelataran lobi saja. Saya akan meminta tolong driver untuk mengambil kendaraannya. Maaf ... boleh saya ambil kuncinya Pak?" ungkap laki-laki tersebut.
"Oh iya, silahkan Pak," sahut Devano sambil menyerahkan kunci mobilnya plus lembar serah terima yang telah dia tanda tangani. Lalu Devano beranjak dari tempatnya menuju pelataran lobi.
Sesampainya di pelataran lobi, Devano melihat sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilat keluar dari area parkir. Mobil itu baru di beli perusahaan satu bulan yang lalu, terlihat dari bulan dan tahun yang tercantum di plat nopol yang berada di depan mobil tersebut.
Driver yang membawa mobil itu langsung menyerahkan kunci kepada Devano. "Ini kunci mobilnya, Pak!"
"Terima kasih banyak ya Mas."
"Sama-sama Pak ... saya permisi dulu!" ujarnya yang langsung pergi meninggalkan Devano bersama mobil barunya.
Sepeninggalnya driver tersebut, Devano segera masuk ke dalam mobil dan melanjukan mobilnya menuju rumahnya. Devano sangat bersyukur oleh kenikmatan yang Tuhan berikan kepadanya.
Keinginannya untuk memiliki kendaraan beroda empat, Tuhannya langsung mewujudkannya. Walaupun mobil inventaris setidaknya bisa memenuhi kebutuhannya. Mulai besok dia tidak lagi memesan ojek untuk mengantarnya ke kantor tempat dia bekerja.
Di sisi lain, pikirannya masih di hantui-hantui oleh permintaan Presdirnya sewaktu mereka di kafe. Dia tidak tahu apa yang menjadi keputusan yang tepat untuk dia ambil, yang di mana tidak memberatkannya maupun tidak mengecewakan Stephanus Presdirnya.
Akhirnya Devano sampai di rumahnya, dia langsung segera membersihkan tubuhnya yang terasa lengket, setelah seharian beraktivitas. Setelah selesai Devano menyelesaikan ritual mandinya dan mengganti bajunya, dia meluangkan waktunya untuk berkomunikasi dengan Tuhannya.
Saat ini Devano tidak ingin banyak berpikir menggunakan logikanya untuk mempertimbangkan permintaan Stephanus. Dia ingin menenangkan hati dan pikirannya yang terasa berantakan.
Dengan berdoa kepada sang Kuasa serta membawa pergumulannya, hati dan pikirannya tenang. Melalui doa-doa yang ia panjatkan, Devano ingin mendapatkan petunjuk dariNya untuk menetapkan hatinya dalam mengambil keputusan yang benar sesuai kehendakNya.
Jodoh adalah rahasia Allah dan sudah di tetapkan sebelum manusia lahir ke dunia. Jadi hanya Dialah yang mengetahui rahasia ini pada setiap masing-masing orang.
Tampak Devano memanjatkan doa-doanya untuk di berikan petunjuk dalam menghadapi persoalan yang dihadapinya. Devano memang sedang menghadapi persoalan yang membuatnya bimbang dan gelisah untuk mengambil suatu keputusan.
Devano sudah berencana tahun ini melamar seseorang untuk menjadi pendamping hidupnya dan rencananya adalah dia ingin melamar Naura. Ya ... perempuan yang sudah di kenalnya sejak kecil dan dia sudah mengenali sifat dan karakternya. Perempuan yang sangat dekat dengannya selain adiknya Diva. Hal tersebut yang membuat tumbuh benih-benih cinta yang telah ia pendam selama ini.
Devano sendiri yakin bahwa Naura mempunyai perasaan yang sama dengannya, sehingga membuat Devano yakin Naura akan menerima lamarannya. Masalahnya dia hanya mencari waktu yang tepat untuk mengutarakan perasaannya sekaligus melamarnya untuk menjadi pendamping hidupnya.
Namun saat ini Tuhan hadirkan satu pilihan lagi bagi Devano melalui permintaan Stephanus Presdirnya yang ingin menjadikan Devano sebagai pendamping putri semata wayangnya. Pilihan yang begitu sulit dan berat hingga membuat Devano harus berpikir ulang untuk menentukan siapa yang akan di pilih untuk menjadi pendampingnya.
Devano tidak ingin salah pilih dalam mengambil suatu keputusan hanya karena mengikuti hawa nafsunya saja. Jadi, Devano benar-benar menyerahkan persoalannya kepada sang pencipta langit dan bumi yang mengatur dan berkuasa atas hidupnya.
Setelah menyerahkan pergumulannya pada kepada sang pencipta, Devano pun beranjak dari tempatnya menuju tempat tidurnya. Dia pun membaringkan tubuhnya dan perlahan memejamkan kedua matanya hingga akhirnya dia tidur dengan lelap.