Pemuda Tampan Incaran Wanita

Pemuda Tampan Incaran Wanita
Keberadaan Keisha


Di tempat yang berbeda, Keisha baru saja tiba di kota Kembang bersama sahabatnya Tiara, dengan menggunakan travel tibalah mereka di rumah orang tua Tiara. Keisha tampak bahagia bisa pergi bersama sahabatnya. Sahabat Tiara memang berencana untuk pulang ke rumah orang tuanya karena kakak perempuannya akan menikah di akhir pekan ini.


Ternyata Keisha pergi dari rumahnya dan ikut dengan Tiara ke Bandung dengan maksud tinggal beberapa hari di rumah orang tua Tiara, karena Keisha benar-benar tidak akan pulang ke rumahnya hingga ayah dan ibunya membatalkan perjodohannya dengan Devano.


"Keisha ... kita makan dulu apa ke kamar?" tanya Tiara meminta pendapat Keisha. Tampak juga ibunya Tiara ada di sana menyambut kedatangan mereka.


"Ke kamar aja beb. Aku juga gak lapar, masih kenyang," jawab Keisha. Mereka tadi sempat makan saat sopir travel istirahat di rest area.


"Sepertinya temanmu butuh istirahat, Nak. Kalian istirahat aja, nanti kalau lapar tinggal panasin aja makanannya," ucap ibunya Tiara.


"Iya, Bu." Lalu Tiara pun mengajak Keisha masuk ke kamarnya. Sesampainya, Keisha langsung melompat dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Tampak Keisha mengguling-gulingkan tubuhnya bak anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan.


Sementara Tiara memilih mengganti bajunya dan mengeluarkan beberapa baju dari tas, lalu kemudian di susun di lemarinya.


"Tempat tidurmu nyaman sekali beb," ucap Keisha. "Eh, itu fotomu waktu kecil? Lucu sekali!" ucap Keisha yang langsung bangun dari tempat tidur lalu mendekat ke salah satu foto yang terpajang di dinding kamar sahabatnya.


"Iya, Keisha. Saat itu saya masih berusia tiga tahun. Hmm ... tidak terasa yah udah beberapa tahun berlalu. Ingin sekali rasanya mengulangi masa-masa kecil, yang di pikiran hanya bermain, bersenang-senang, dan tidak punya beban pikiran," ucap Tiara sambil terus memasukkan satu persatu baju ke lemari.


"Iya yah, Beb. Saat kecil kita mengira bahwa kehidupan orang dewasa itu menyenangkan, namun hidup dewasa itu ternyata sulit dan melelahkan," ucap Keisha sambil memeluk sahabatnya Tiara dari belakang.


"Oh ... bukannya kehidupan dewasamu menyenangkan? Punya orang tua yang perhatian dan kaya raya juga," ucap Tiara yang langsung berbalik menatap Keisha.


"Itu menurutmu," ucap Keisha menghela nafas, lalu berjalan dan duduk di tepi ranjang tidur.


Seketika terbesit di pikiran Tiara bahwa alasan Keisha ikut dengannya karena dia bermasalah dengan kedua orang tuanya. "Oh iya, Keisha. Sebenarnya ada apa sih? Kenapa kamu tiba-tiba meninggalkan rumah dan ikut denganku? Ayah dan ibumu pasti sangat khawatir," ucap Tiara penasaran.


Keisha memang hanya mengatakan pada Tiara bahwa dia sedang bermasalah dengan kedua orang tuanya, dan belum menceritakan akar permasalahannya. Dan saat ini, Keisha berencana hanya memberi tahu Tiara karena Tiara bisa menyimpan rahasia.


Sedangkan sahabatnya Jeslin dan Tiny tidak perlu mengetahuinya, bisa-bisa bocor sampai satu kampus kalau mereka sampai tahu. Apalagi Jeslin adalah kerabatnya Nuel, dan Keisha tidak mau hal ini sampai ke Nuel.


"Ara ... aku mau cerita kepadamu," ajak Keisha sambil menarik tangan Tiara dan duduk bersamanya. "Tapi jangan cerita ke lain yah, termasuk Jeslin dan Tiny. Aku tidak mau yang lain ada yang tahu selain aku dan dirimu," ucap Keisha dengan wajah sendu.


"Kamu seperti tidak mengenalku saja. Aku janji kok gak cerita ke siapa pun, kamu tahu kan aku gak suka bocorin rahasia orang apalagi nyebar gosip," ucap Tiara sambil mengangkat dua jarinya untuk meyakinkan Keisha.


"Iya deh, aku percaya." Lalu Keisha menarik nafas panjang dan kemudian menceritakan dengan detail rencana ayahnya menjodohkannya dengan karyawan kesayangan ayahnya, Devano.


"Aku benar-benar kecewa dengan ayahku, ibuku juga mendukung ayahku dalam perjodohan itu. Ibuku tidak suka aku berhubungan dengan Nuelman," ungkap Keisha dengan mata berkaca-kaca hingga tanpa sadar bulir-bulir kristal perlahan jatuh membasahi pipinya.


Lalu Tiara memegang kedua tangan Keisha memberi kekuatan kepada sahabatnya. Dia merasakan apa yang di rasakan oleh sahabatnya. Tapi sebagai sahabat yang baik, Tiara juga harus mengingatkan bila ada tindakan sahabatnya yang kurang tepat.


"Keisha ... mungkin ayahmu punya alasan tertentu menjodohkanmu dengan laki-laki tersebut. Ibumu juga pasti punya alasan tertentu tidak menyukai hubunganmu dengan Nuelman. Bukannya kamu juga pernah bilang kalau si Nuel itu sering gonta-ganti pacar, mungkin itu alasan ibumu tidak menyukainya," ujar Tiara.


"Apa yang kau katakan memang benar, tapi sekarang kak Nuel sudah berubah. Dia ingin menjalin hubungan yang serius, mungkin karena tidak lama lagi ia akan lulus kuliahnya dan kembali ke Indonesia," kata Keisha.


"Dia memang ganteng sih, tapi aku tidak mencintainya. Aku hanya mencintai kak Nuel saja," jawab Keisha sambil membuang pandangannya.


"Oh ... jadi ternyata kamu sudah ketemuan laki-laki pilihan ayahmu?" tanya Tiara yang langsung di balas anggukkan kepala oleh Keisha.


"Ketemu di mana? Kapan?" tanya Keisha yang langsung penasaran, siapa laki-laki yang di jodohkan dengan Keisha.


"Kamu ingat kan laki-laki yang ada di resto saat kita ke mall bertiga dengan Jeslin?"


"Sepertinya aku lupa!" jawab Tiara.


"Aduh ... itu loh yang di bilang cakep oleh Jeslin, yang di ajak kenalan? Dia laki-laki itu."


"Apa ... laki-laki itu?" teriak Tiara yang baru mengingat. "Kok bisa?" ucap Tiara yang masih kaget. Tiara langsung mengingat laki-laki yang di maksud oleh Keisha. Ya ... laki-laki itu bernama Devano. Tiara ingat saat laki-laki itu memperkenalkan dirinya dan menyebutkan namanya.


"Ya ampun Keisha ... dia kan ganteng banget kek artis-artis Korea gitu. Kenapa kamu menolaknya? Sepertinya dia laki-laki yang baik, sopan lagi!" Tambah Tiara.


"Ya ... karena aku tidak mencintainya," jawab Keisha sambil memutar kedua bola matanya malas.


"Kamu itu ... udah tahu ada yang ganteng di depan mata, malah kamu menolaknya!" ucap Tiara tak habis pikir. "Lagian bagaimana kamu bisa mencintainya, kenal juga belum."


"Benar kata ibumu, sebaiknya kamu coba mengenalnya dulu. Kalau cocok lanjutkan, kalau gak cocok yah jangan di lanjut. Siapa tahu dia benar-benar jodoh yang Tuhan tentukan untukmu Keisha," lanjut Tiara sambil memberi semangat.


"Ish ... kenapa kamu jadi mendukung orang tuaku?" kesal Keisha sambil menyipitkan kedua matanya seperti tidak suka dengan yang di ucapkan Tiara.


"Keisha, tidak semua perjodohan itu membuat sengsara. Siapa tahu itu cara Tuhan menentukan jodoh masing-masing orang. Buktinya saja kakak-kakakku menikah lewat perjodohan, rumah tangga mereka baik-baik saja, bahkan terlihat serasi dan mesra," tutur Tiara.


Keisha hanya diam cemberut, tidak suka dengan ucapan Tiara yang malah mendukung orang tuanya.


Melihat Keisha memasang muka cemberut, Tiara pun menyudahi obrolannya. "Ya sudah lebih baik kamu tenangkan diri. Kemudian pikirkan baik-baik dengan jernih, jangan terbawa emosi tapi ambil keputusan dengan kepala dingin," ucap Tiara sambil berdiri.


"Oh yah, satu lagi. Besok kabarin ayah dan ibumu kalau kamu lagi di sini dan baik-baik saja, oke?" ujar Tiara tersenyum.


"Baiklah, terima kasih banyak," jawab Keisha yang juga membalas dengan senyuman.


Tampak Keisha mengusap mukanya, terbayang wajah ayah dan ibunya. Mereka pasti sedih dan mencemaskan keberadaannya. Ada perasaan menyesal kenapa ia pergi dari rumahnya.


Tapi Keisha juga ingin menunjukkan bahwa ia tidak mau di paksa menerima perjodohannya dengan Devano. Dengan meninggalkan rumah, Keisha harap ayahnya membatalkan perjodohannya.


...~ Bersambung ~...