Pemuda Tampan Incaran Wanita

Pemuda Tampan Incaran Wanita
Rindu Ibu


Lima bulan kemudian.


Akhirnya Devano bisa menyelesaikan pekerjaannya sebagai pimpro di Sulawesi. Hanya dalam kurun waktu kurang lebih lima bulan, Devano bisa menyelesaikan proyek perumahan di Sulawesi dengan baik.


Devano pun memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan kembali bekerja di perusahaan Arkana group. Dia tidak sabar menemui rekan-rekan kerjanya setelah beberapa bulan tidak bertemu. Sebelumnya dia mengabari kepulangannya pada kedua adiknya di Surabaya.


Setelah hampir satu jam, akhirnya pesawat yang di tumpangi Devano tiba di bandara. Setelah turun dari pesawat, Devano langsung berjalan ke area pengambilan barang untuk mengambil koper miliknya.


Setelah selesai, Devano kembali berjalan menuju lobi dan sepertinya sedang mencari seseorang. Tiba-tiba ponselnya berdering menandakan panggilan masuk. "Diva ... " ucapnya kala membaca nama kontak pemanggil yang tertera di layar ponselnya.


"Halo, Div?" kata Devano yang langsung mengangkat panggilan dari adiknya.


"Bang Devan udah nyampe Jakarta?" tanya Diva di balik telepon.


"Iya, Diva. Pesawat abang baru landing beberapa menit yang lalu," kata Devano sambil berjalan mendorong kopernya.


"Oh ... syukurlah," lirih Diva. "Em, terus bang Devan kapan ke Surabaya lagi?" Diva sangat bersemangat menanyakan pertanyaan yang satu ini, sudah tidak sabar melihat Devano segera melamar Naura.


Sebetulnya, Diva kasihan melihat Naura yang menaruh harap banyak pada kakaknya. Diva tahu Naura mengharap Devano untuk melamarnya dan dia juga tahu abangnya Devano bermaksud menjadikan Naura sebagai pendamping hidupnya. Jadi, kenapa harus di tunda-tunda? Itulah yang di pikirkan Diva.


"Diva ... jangan bahas itu dulu ya, abang juga baru nyampe. Sepertinya satu minggu ke depan abang bakalan sibuk," kata Devano.


"Sabtu depan kamu dan Kevin ada waktu kosong gak? Kebetulan rumah baru abang udah bisa di tempati. Rencananya sabtu depan abang mau bikin syukuran ngundang teman kerja bang Devan, gimana?"


"Asyik ... rumah baru! Baik deh aku dan Kevin usahakan datang deh bang, sekalian ajak kak Naura yah?" kata Diva.


"Jangan dulu Div, gak enak. Kamu sama Kevin kan nanti nginap di rumah abang. Kalau bisa hari jumat sore kamu sama Kevin sudah di Jakarta ya, sekalian bantu-bantu abang nyiapin acaranya besok. Hehehe," ucap Devano.


"Baiklah bang, aku dan Kevin usahain datang jumat sore atau malam ya bang," ujar Diva yang sedikit kecewa karena Naura tidak termasuk yang di undang hadir di acara syukuran rumah baru Devano.


"Oke, makasih banyak adikku sayang. Kamu dan Kevin jangan lupa makan yah," kata Devano mengakhiri sembungan telepon dengan adiknya Diva.


Setelah ponselnya di masukkan ke saku celananya, Devano langsung mencari seseorang yang sudah berjanji akan menjemputnya, tapi orang tersebut belum terlihat batang hidungnya.


Setelah hampir lima menit, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun muncul. "Halo Bro ... tambah ganteng aja nih mas bro. Di lihat-lihat kulitmu tambah glowing, kayaknya tiap hari lu luluran kali yah," kata seseorang yang menepuk pundak Devano.


"Eh, bang kirain siapa. Gimana kabarnya bang?" tanya Devano.


"Kabar baik mas bro," jawab Emir. Emir memang sahabat baik Devano. Saat Devano menyampaikan akan kembali ke Jakarta, Emir menawarkan untuk menjemputnya.


Mereka berdua pun berbincang beberapa saat. Setelah itu, mereka berdua berjalan menuju parkir mobil dan langsung menuju rumah baru Devano yang tidak jauh dari pusat ibu kota.


Mobil mereka melaju membelah jalanan yang tampak ramai di padati oleh banyak kendaraan. Sesampainya di depan rumah baru Devano, mereka langsung turun dari dalam mobil.


Rumah fasilitas karyawan yang Devano beli dengan mencicil, di potong gajinya tiap bulan melalui perusahaan, tanpa melalui KPR bank sehingga tidak terkena bunga.


"Yah ... pasti kerenlah bang, dia kan emang jago dalam hal mendesain rumah. Mungkin bikin saya betah di rumah nantinya. Kalau penasaran kita lihat sama-sama aja bang," kata Devano.


Devano tidak meragukan lagi kemampuan Renatta dalam mendesain rumah. Ini di buktikan ketika Devano melihat sudut tiap ruangan rumahnya lewat foto yang di kirim Renatta.


Saat itu, Devano meminta tolong Renatta untuk mendesain interior rumahnya sesuai dengan selera Devano. Jadi isi dan tampak rumah Devano, Renatta yang mengaturnya semua termasuk memesan barang furniture nya.


Tentu saja ini adalah kesempatan yang membahagiakan Renatta dan dia sendiri tersanjung di minta tolong Devano. Sehingga satu bulan terakhir ini, Renatta sering berkomunikasi dengan Devano baik melalui telepon atau melalui chat pribadi.


Devano dan Emir pun melangkah menuju rumah baru Devano. Namun hanya beberapa langkah, tiba-tiba ponsel milik Emir bergetar di saku celananya. Emir langsung melihat siapa yang menelponnya, ternyata maminya nelpon minta di jemputin setelah mengikuti acara pernikahan kerabat.


"Bro ... gue minta maaf gak jadi masuk ke rumah loh, nyokap gue nelpon minta di jemputin di tempat acara pernikahan kerabat kami," kata Emir.


"Gak apa-apa bang, santai aja. Orang tua memang harus di dahulukan, apalagi yang nelpon tadi ibunya bang Emir. Kapan lagi kita bisa berbakti, mumpung waktu masih ada," kata Devano yang teringat dengan ibunya yang meninggalkannya.


"Terima kasih banyak yah Bang, sudah di jemput dan nganterin ke rumah."


"Oke, bro. Sekali lagi selamat buat rumah barunya yah," kata Emir, lalu kembali ke dalam mobilnya dan meninggalkan Devano.


Setelah mobil Emir hilang dari pandangannya, Devano kembali melangkahkan kakinya sambil membawa koper miliknya memasuki teras rumahnya. Sebuah rumah yang tidak terlalu besar hanya satu lantai dengan konsep tanpa pagar berada dalam cluster yang terdiri dari dua puluh lima unit rumah.


Devano membuka pintu rumahnya, lalu masuk menuju ruang tamu. Dia mencoba menggeser gorden yang menutup jendela agar ada cahaya bisa masuk. Tampak nuansa hitam, putih, dan biru mendominasi interior ruangan rumah Devano.


Di dalam rumah barunya tersebut terdapat tiga kamar tidur dan dua kamar mandi. Devan langsung mengeceknya dan merasa puas dengan desain interiornya yang sesuai dengan seleranya. Sepertinya Renatta sangat ahli dalam memenangkan hati konsumen dengan kemampuan mendesainnya.


Tak lupa ruangan dapur pun tak kalah kerennya, dengan peralatan dapur yang sudah lengkap dan tersusun rapi di tempatnya. Ruang dapur sepertinya akan menjadi ruang favorit Devano, mengingat dia mempunyai hobi memasak sama sepertinya adiknya Diva. Sejak kecil Devano terbiasa membantu ibunya di dapur saat memasak.


Setelah puas mengecek setiap sudut dalam rumahnya, Devano menyalakan AC di ruang tamu dan duduk di sofa yang lumayan empuk. Udara di Jakarta di siang hari memang terasa sangat panas, namun di dalam rumah Devano saat ini terasa sejuk karena pendingin ruangan, hingga membuat Devano perlahan memejamkan kedua matanya dan tertidur lelap.


"Ayo, Bu. Silahkan masuk!" Tampak Devano mencium tangan kanan ibunya dan mempersilahkan ibunya masuk.


"Rumahmu bagus, Nak. Ibu sangat suka."


"Devan senang kalau ibu suka. Sekarang mulai hari ini, ibu bisa tinggal di sini sesuka ibu."


"Ibu suka dengan rumahmu, Devan. Tapi ibu tidak bisa tinggal di sini, ibu harus pulang. Kasihan ayahmu sendirian di rumah. Jaga dirimu baik-baik yah."


"Ibu ... ibu tunggu dulu Bu!" teriak Devano yang langsung terperanjat kaget di sofa. Lalu dia mengusap kedua matanya dan melihat sekitar. "Ah ... ternyata hanya mimpi," lirih Devano.


Devano menarik nafas panjang sambil mengusap mukanya. Di dalam mimpinya, Devano menuntun ibunya masuk ke dalam rumahnya, namun kemudian ibunya keluar rumah meninggalkan Devano sendirian. Devano ingin mengejar ibunya, tapi entah kenapa kakinya tidak bisa digerakkan hingga dia berteriak memanggil ibunya untuk kembali.


Devano memang selalu merindukan sosok ibunya. Ibunya menjadi penyemangat Devano hingga Devano bisa mewujudkan satu per satu impiannya. Namun sayang saat Devano merasakan kebahagiaan memiliki rumah sendiri, ibunya tidak bisa ikut merasakannya.


...~ Bersambung ~...