Pemuda Tampan Incaran Wanita

Pemuda Tampan Incaran Wanita
Jalan-jalan


"Kak Naura?" kaget Diva membulatkan kedua matanya melihat perempuan yang sedang berdiri di depan pintu. Sementara Devano yang sedang berada di ruang tengah yang mendengar adiknya Diva menyebut nama Naura kaget dan langsung menuju ruang tamu.


"Apa itu Naura? Bagaimana Naura tahu rumah saya?" batin Devano yang berjalan menuju ruang tamu.


Setibanya di ruang tamu, Devano memperhatikan wanita yang berada di ambang pintu  "Eh ... bu Luna, ayo masuk bu Luna!" ajak Devano yang mempersilahkan Luna masuk.


"Apa ... bu Luna? Eh maaf bukan kak Naura yah. Maaf ya bu, saya kira tadi kak Naura tetangga kami di Surabaya. Wajahnya mirip banget soalnya," kata Diva yang sedikit malu bercampur kecewa melihat bukan Naura yang datang, melainkan perempuan yang mirip dengannya.


"Gak apa-apa kok," sahut Luna tersenyum. Lalu pandangan Luna beralih ke Devano. "Maaf ya pak Devan saya telat dan gak bisa bantu-bantu tadi. Saya tidak tahu kalau di rumah juga ada acara keluarga, jadi setelah selesai acara keluarga di rumah, saya baru bisa datang ke sini," kata Luna.


"Gak apa-apa bu Luna, lagian bu Luna telah membantu saya untuk memesan makanan. Terima kasih banyak!" kata Devano. "Ayo ke dalam saja, masih ada pak Juan di dalam," ajak Devano. Luna pun mengangguk pelan, lalu melangkah masuk ke dalam rumah milik Devano.


"Yah ... bu Luna kok telat, padahal tadi di tunggu buat ngasih sambutan. Alhasil yang ngasih sambutan baru mempelai prianya, mempelai wanitanya gak ada," canda Juan yang tersenyum menatap ke arah Devano dan Luna.


"Pasti kemakan gosip nih pak Juan," kata Devano.


Di sisi lain, Luna tersipu malu dengan perkataan Juan, walau ada sedikit rasa bahagia di hati Luna. Dia pun segera duduk di sofa ruang tengah, karena ruang tamu masih di bersih-bersihkan oleh Adit.


Tampak Diva menyuguhkan air minum dan kue yang masih tersedia sambil sekali-kali memperhatikan wajah Luna. "Kok wajahnya mirip banget kak Naura yah," batin Diva.


"Terima kasih banyak bu Luna bantuan cateringnya. Kue dan makanannya enak-enak dan tidak mengecewakan," ucap Devano tersenyum.


"Sama-sama pak Devan," sahut Luna.


"Ayo kuenya di cobain, sekalian makan saja yah. Masih ada makanannya kok, kuenya juga manis-manis."


"Lihat senyuman manis pak Devan aja udah cukup bagi saya kok," batin Luna melamun sambil senyum-senyum menatap Devano.


"Bu Luna?" ucap Devano yang membuat Luna tersadar dari lamunannya.


"Eh, gak usah pak Devan. Saya masih kenyang tadi makan di rumah, saya cobain kuenya saja." Luna langsung mengambil kue basah yang tersaji di meja.


Luna pun menikmati kuenya sambil berbincang-bincang santai dengan Devano, Juan dan Diva. Tampak Devano juga memperkenalkan kedua adiknya kepada rekan kerjanya Luna.


"Pak Devan, sepertinya tidak ada lagi yang harus saya kerjakan. Saya mau pulang saja," pamit Juan.


"Gak ngopi dulu dulu Mas Juan?"


"Terima kasih banyak pak Devan, saya langsung pulang saja," jawab Juan.


"Baiklah kalau begitu, terima kasih banyak yah Mas Juan buat bantuannya. Maaf merepotkan," ujar Devano.


"Tidak perlu berterima kasih Pak. Pak Devan juga sering membantu saya di kantor," ucap Juan tersenyum.


"Pak Juan mau pulang sekarang? Kita bareng ya ... soalnya saya tadi di antar ke sini," ucap Luna.


"Kenapa buru-buru bu Luna?" ucap Devano.


"Iya nih bu Luna, kenapa buru-buru. Kuenya kan masih banyak tuh, santai aja. Kirain tadi bu Luna langsung tinggal di sini," goda Juan sambil tersenyum menatap Luna.


"Apaan sih pak Juan, udah saya ikut pak Juan ke depan yah," kata Luna. "Saya pamit ya pak Devan!"


Devano pun mengantar rekan kerjanya Luna dan Juan sampai mereka masuk ke dalam mobil milik Juan. Luna pun melambaikan tangannya ke arah Devano lewat kaca jendela mobil yang terbuka. "Kami pamit yah pak Devan ...."


Devano kembali masuk ke rumahnya setelah mobil Juan melaju meninggalkan kediaman rumahnya. Di dalam rumah, tampak Diva sedang merapikan peralatan di dapur, sedangkan Kevin duduk santai di sofa sambil memainkan hpnya setelah pekerjaannya selesai.


"Kevin, mau ikut nganterin nasi box ke pantai asuhan gak?" ajak Devano kepada adiknya Kevin.


"Ke pantai asuhan? Boleh bang, sekalian jalan-jalan lihat kota Jakarta," jawab Kevin mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya .


"Diva mau ikut? Kirain mau tiduran aja di rumah, kali aja cape habis dari perjalanan jauh dari Surabaya."


"Ih ... bang Devan gak ngertiin perasaan adik-adiknya. Emangnya abang gak ada niat gitu ngajakin adik-adiknya jalan-jalan keliling kota Jakarta, melihat gedung-gedung tinggi, taman kota, mall-mall besar, atau sekedar jajan aneka makanan yang enak di ibu kota gitu?"


"Mulai lagi nih ... ya udah ayo siap-siap. Selesai mandi, baru kita berangkat," ucap Devano.


"Hore ... gitu dong bang, bisa ngertiin perasaan adik-adiknya. Masa jauh-jauh ke sini cuma di rumah aja, benarkan Kevin?" tanya Diva mengedipkan sebelah matanya ke arah Kevin.


"Udah, udah buruan siap-siap! Sebelum abang berubah pikiran," kata Devano yang langsung membuat kedua adiknya mengambil langkah seribu untuk bersiap-siap.


Melihat hal tersebut Devano hanya bisa tersenyum dalam hati, lalu dia berjalan menuju dapur mempersiapkan beberapa nasi box untuk mereka bawa ke panti asuhan.


Setelah beberapa menit, Devano dan kedua adiknya pun siap menuju ke panti asuhan, sekalian Devano mengajak adiknya jalan-jalan ke mall sambil membeli beberapa barang yang di butuhkan di rumahnya.


"Kevin ... bantuin masukin nasi box ke mobil  yah, Diva bawain juga satu kantong." Mereka bertiga keluar rumah dengan menenteng nasi box dan memasukannya ke dalam mobil.


"Eh ... bentar, ini mobil siapa bang?" tanya Diva.


"Mobil inventaris Div, bisa di bawa pulang," ungkap Devano.


"Wah ...bang Devan keren yah di kasih mobil inventaris!" puji Diva sambil masuk ke dalam mobil, lalu di ikuti oleh Kevin.


Devano pun melajukan mobilnya menyusuri jalanan yang tidak terlalu padat. Setelah beberapa menit, mereka mampir ke sebuah panti asuhan untuk memberikan nasi box dan sedikit santunan untuk yayasan panti tersebut.


Saat berada di panti asuhan, Diva sempat meneteskan air matanya. Diva jadi teringat  dengan kedua orang tua mereka yang sudah tiada. Walaupun begitu Diva belajar mengikhlaskan dan menerimanya dengan lapang dada.


Setelah dari panti asuhan, Devano mengajak kedua adiknya ke sebuah mall yang cukup besar di kota Jakarta. Mereka berjalan dengan santai sambil melihat-lihat area mall yang mereka lewati.


Saat melewati sebuah tokoh aksesoris, Diva langsung masuk dan memilih beberapa aksesoris seperti ikat rambut, penjempit rambut, dompet kecil, dan gelang. Diva kalau melihat pernak-pernik yang lucu langsung ekspresinya seperti anak kecil yang gemas ingin memiliki boneka yang lucu.


Setelah memilih beberapa aksesoris, lalu Diva memperlihatkan ke Devano. "Bang bayarin yah!" ujarnya pada Devano dengan ekspresi senyum lucu. Devano langsung mengeluarkan dompetnya dan membayarnya ke kasir.


"Em ... Kevin kamu mau beli apa? Kamu lagi butuh apa buat keperluan kuliahmu?"  tanya Devano kepada adiknya Kevin yang akan melanjutkan kuliah. Kevin baru saja lulus sekolah satu bulan yang lalu dan rencananya ingin melanjutkan kuliah jurusan teknik informatika.


"Kevin mau tas kuliah aja bang, buat cadangan kalau musim hujan," jawab Kevin.


"Oh, ya udah ayo kita cari!" ajak Devano.


"Gitu ya ... Kevin aja di tawarin. Kok aku gak di tawarin juga sih," kata Diva merayu Devano.


"Tadi juga kan udah di beli?"


"Cuma beberapa aksesoris doang. Diva juga mau sepatu sneakers yah ... buat cadangan musim hujan juga," pinta Diva tersenyum sambil mengedip-ngedipkan matanya.


Devano hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap Diva yang sangat berbeda jauh dengan Kevin. Walaupun begitu, Devano sangat menyayangi kedua adiknya.


Setelah mengelilingi sebagian area mall, akhirnya Diva dan Kevin menenteng barang yang di inginkannya.


"Aduh ... capek juga ya," ucap Diva yang menghentikan langkahnya. "Bang ... haus, lapar juga! Kevin kamu juga haus kan?" tanya Diva meminta dukungan Kevin.


"Ya udah kita cari makan dulu," kata Devano yang membuat Diva tersenyum lebar.


Lalu Devano pun mengajak kedua adiknya masuk ke sebuah kafe yang menyediakan aneka minuman dan makanan. Devano memilih tempat duduk di tengah ruangan. Sambil menunggu pesanan datang, Devano berbincang-bincang dengan kedua adiknya.


Tidak jauh dari tempat duduk Devano, terdapat tiga orang perempuan sedang asyik mengobrol sambil sekali-kali tertawa keras.


...~ Bersambung ~...