
Keesokan harinya.
Gelap berganti terang, tidak terasa pagi sudah menyapa. Devano saat ini sudah bangun dari tidurnya, seperti biasa dia meluangkan waktunya untuk berdoa kepada Tuhannya.
Dia benar-benar berserah diri kepada sang penciptanya meminta di berikan petunjuk dalam menentukan pilihan jodoh yang terbaik untuknya. Dia selalu meluangkan waktunya berdoa tiap hari, hingga hari ke lima Devano belum memiliki kemantapan dalam mengambil keputusan atau menentukan pilihannya.
Menurutnya ini adalah pilihan yang sulit dan berat. Dia tidak mau terburu-buru dalam mengambil suatu keputusan yang akan membuat menyesal seumur hidup.
Kegiatan di kantornya sebagai salah satu manajer pengawasan membuat Devano sedikit sibuk karena harus mempelajari beberapa hal yang menurutnya baru baginya. Ya ... Devano berusaha beradaptasi dengan jabatan baru yang telah di percayakan kepadanya.
Dalam melakukan pekerjaannya, Devano di bantu seorang asisten manajer. Seorang laki-laki yang usianya lebih tua dari Devano dan di bantu tujuh orang staf. Stafnya pun menyambut baik kehadiran Devano.
Siapa sih yang tidak senang memiliki atasan seorang laki-laki muda, ganteng, ramah, berkelakuan baik, dan enak di ajak berdiskusi seperti Devano. Apalagi staf perempuan sekalian bisa cuci mata setiap hari melihat Devano. Staf perempuan yang masih single bersemangat bekerja, bahkan mereka datang lebih pagi dan pulang melebihi jam kerjanya.
Hari ini adalah hari terakhir bekerja sebelum libur akhir pekan. Sebelum jam kantor selesai, Devano mengumpulkan stafnya untuk memberikan beberapa sedikit arahan. Tidak lupa Devano menyampaikan undangan acara syukuran rumahnya yang telah satu minggu selesai dan telah dia tempati. Acara syukuran tersebut akan di laksanakan besok pukul satu siang.
"Saya harap Bapak, Ibu, dan teman-teman semua bersedia datang ke acara syukuran rumah baru saya," ujar Devano mengedarkan pandangannya ke seluruh stafnya. "Kalau boleh ajak juga keluarganya sekalian kita bisa lebih saling mengenal. Nanti alamatnya saya share loc di group WhatsApp."
"Baik Pak, saya pasti datang!"
"Besok saya usahain datang Pak bersama istri saya."
Mereka tampak bersemangat untuk datang ke acara syukuran rumah Devano. Melihat antusias para stafnya, Devano mengukir senyuman di bibirnya.
Hari ini juga Devano mendapat telepon dari kedua adiknya tersayang di Surabaya. Mereka mengabari bahwa mereka akan tiba esok pagi, mengingat hari ini Diva ada kegiatan tambahan di kampusnya.
****
Keesokan harinya.
Tampak Devano sibuk menyiapkan rumahnya untuk acara syukuran nantinya yang akan di laksanakan jam satu siang. Terlihat kursi dan beberapa meja telah di susun dengan rapi. Dalam menyiapkan rumahnya, Devano di bantu oleh sahabatnya Emir dan juga Juan yang merupakan rekan kerjanya saat di divisi proyek.
Untuk masalah konsumsi, Devano meminta bantuan Luna untuk mengatur semuanya mulai dari snack, minuman dan sajian makanan. Luna pun memesan makanan melalui catering langganannya.
Saat Devano hendak berjalan ke dapur, tiba-tiba terdengar nada panggilan di ponsel miliknya. Devano langsung mengangkat panggilan dari adiknya.
"Halo Kevin, kalian sudah sampai di mana?" tanya Devano yang tidak sabar bertemu dengan kedua adiknya. Lalu Kevin menjelaskan posisinya di mana. Dia dan kakaknya Diva menaiki kereta api Surabaya-Jakarta. Saat ini mereka sudah tiba di Jakarta dan sedang dalam perjalanan menuju rumah Devano.
"Baik Kevin, sepertinya itu sudah dekat dengan rumah abang. Kalian lurus saja, belok kanan ada gerbang besar di sebelah kiri. Masuk saja, dari situ sudah dekat, nanti tanya aja security," jelas Devano.
"Iya, Bang. Kami akan segera ke sana," ucap Adit penuh antusias.
Setelah beberapa menit, akhirnya Diva dan Kevin pun sampai di rumah baru Devano. Diva dan Kevin segera masuk ke dalam rumah dan langsung di sambut oleh Devano dengan pelukan kerinduan setelah beberapa bulan tidak bertemu.
"Apa-apaan ini ... baru datang udah nangis aja," ucap Devano dengan mata yang berkaca-kaca sambil mencoba menghapus air mata kedua adiknya.
"Hiks ... hiks ... hiks. Jadi kangen ibu bang," ucap Diva yang bercucuran air mata.
"Iya, kita semua pasti kangen dengan ibu. Tapi ibu kita tidak mau kalau kita terus menangis dan bersedih seperti ini. Jadi ... sudahi nangisnya, kalian juga membuatku menangis," ucap Devano tertawa kecil sambil menghibur kedua adiknya.
"Oh iya, maafkan abang ya Diva Kevin belum sempat pulang ke Surabaya karena esok hari itu abang langsung kerja di kantor," kata Devano. "Ayo kita masuk dulu, mana barang-barangnya biar abang bantuin bawa," ucap Devano.
Setelah itu mereka pun masuk ke dalam rumah. "Wihhh ... rumahnya keren banget bang! Saya suka desainnya," puji Diva yang langsung berkeliling melihat-lihat seluruh bagian rumah Devano.
Devano hanya tersenyum melihat Diva bisa melupakan kesedihannya. Lalu Devan berbalik menghadap adiknya Kevin. "Kevin, tasnya di simpan di kamar abang saja di kamar itu. Nanti malam tidur sama abang yah, dan untuk tas Diva simpan di kamar sebelah sana," tunjuk Devano beberapa kamar yang ada dalam rumahnya.
"Iya, Bang."
"Pak Devan sepertinya mobil catering sudah datang," ujar Juan memberitahu Devano.
"Di suruh masuk aja Mas Juan," sahut Devano sambil membereskan meja makan yang akan di gunakan untuk menyimpan hidangan maupun kotak makan yang telah di pesan.
Tampak petugas catering pun menurunkan barang-barang, snack, dan makanan. Devano dan Emir langsung menatanya untuk di suguhkan saat tamu datang.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu siang. Para tamu pun mulai berdatangan, tampak rekan-rekan kerja Devano turut hadir dalam acara syukuran rumah barunya. Ada yang datang membawa keluarganya maupun dan ada juga yang datang sendirian.
Renatta pun hadir datang sendiri, dia langsung masuk bergabung dengan rekan kerja lainnya yang ia kenal. Penampilannya terlihat santai namun elegan.
Tepat pukul satu siang acara syukuran pun di mulai yang langsung di isi dengan kata sambutan dari Devano sebagai tuan rumah. Tampak para tamu yang hadir saling berbincang memuji desain rumah Devano. Acara selanjutnya adalah jeda atau acara makan-makan.
Setelah acara makan telah selesai, sebagian tamu langsung pulang dan sebagian lagi masih tinggal di rumah Devano sekedar berbincang dengan Devano. Waktu terus berjalan, satu persatu rekan kerja Devano pamit meninggalkan rumah Devano.
Hanya tinggal Juan yang masih membantu merapikan rumah Devano. Sementara Emir harus duluan pulang untuk mengantar maminya kebandara menemui kakaknya yang baru saja pulang. Tampak Petugas catering pun masih terlihat membereskan peralatan dan makanan yang tersisa.
Devano juga di bantu oleh kedua adiknya Diva dan Kevin, untuk merapikan rumah Devano yang tampak sedikit berantakan setelah acara syukuran selesai.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang perempuan dari arah luar rumah Devano. "Permisi!" ucap perempuan tersebut.
Sontak orang yang berada di dalam rumah menjawab kompak sambil menengok ke arah sumber suara. Diva yang sedang berada di kamarnya untuk membereskan beberapa bajunya, langsung menuju ruang tamu bermaksud melihat siapa yang datang.
"Kak Naura?" tanya Diva membulatkan kedua matanya melihat perempuan yang sedang berdiri didepan pintu. Sementara Devano yang sedang berada di ruang tengah mendengar Diva menyebut nama Naura kaget dan langsung menuju ruang tamu.
...~ Bersambung ~...