
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Dadd, nasi uduk nya Ndut bawa abul ya."
Jangan aneh jika melihat Daddy Andra terlonjak kaget karna nyatanya Si nasi uduk sudah tersimpan rapih dalam otaknya. Jadi saat ia mendengar apa yang di bisikan Pangeran otomatis bukan hanya Daddy yang bangun tapi juga para cucang dalam perutnya yang langsung minta jatah.
"Uduk? mana uduk!"
Tahu pria hebatnya sudah bangun, Pangeran pun buru-buru kabur kembali ke teras dimana Senja dan Mommy nya berada.
"Apaan sih, Ran?!"
"Enggak, Mom, aku--,"
"Uduk Daddy mana? di bawa kabur ya?" tanya Daddy yang berdiri di ambang pintu dengan sarung yang tersampir di bahunya.
Kedua mata Mommya dan Senja bukan tertuju pada Daddy melainkan pada Pangeran yang cekikian menahan tawa. Ada sesuatu yang sudah di lakukan anak itu pastinya.
"Ada diatas meja, sudah ku siapkan masing-masing satu bungkus, Dad," sahut Mommy.
Daddy pun kembali masuk menuju meja di ruang tamu, ia bisa bernapas lega karna sebungkus nasi uduk masih rapih belum tersenthb diatas piring.
"Huft, syukur lah, dirimu terselamatkan, Duk!" kekeh Daddy Andra sambil mengusap dadanya sendiri.
Ia yang tersenyum sumringah kembali ke teras, kehidupan keluarga itu sekarang jauh dari kesan mewah, mereka tanggalkan semua kekuasaan disini, menjalani detik demi detik bagai orang biasa. Nasi uduk kampung yang hanya ada bihun tempe semur serta sambal juga dua buah bakwan sayur siap di nikmati oleh Sang Tuan Bramasta, pengusaha sukses yang tak di ragukan lagi nilai kekayaannya.
"Enak, Dadd?" tanya Mommy yang duduk di depan suaminya.
"Banget, itu tukang uduk ajak pindah yuk, Mom. suruh jualan depan rumah," jawabnya dengan enteng
Uhuk... uhuk
Mendengar permintaan konyol Daddy nya, Pangeran langsung tersedak karna saking sukanya pria itu sampai punya pikiran tersebut.
"Yang bener aja," sahut Pangeran sambil memutar bola matanya malas.
"Makan yang kenyang habis itu mandi ya biar makin ganteng," ucap Mommy Viana yang awalnya mengusap pipi namun kini tangannya sudah beralih ke telinga. Sudah tak sabar rasanya ingin memelintir hingga merah seperti kepiting rebus.
Pria yang terlihat sedikit berantakan itu hanya menanggukkan kepala, ia tak tahu saja jika wanita halalnya sudah tahu akan kelakuannya semalam seperti apa dengan anak mereka.
.
.
Selesai mengisi perut, Daddy Andra langsung mandi seperti yang di perintah istrinya. Untunglah Pangeran sudah lebih dulu mandi jadi mereka tak perlu berebut kamar mandi.
"Nyari apa, Ndut?" tanya Daddy saat keluar kamar namun masih mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Ponsel aku dimana ya? semalam aku bawa pulang gak sih?" tanya balik Pangeran yang terus berputar di dalam pondok bunda, mulai dari dapur dan ruang tamu.
"Coba ingat ingat lagi," jawab Daddy nya yang ikut was was sebab tahu jika ponsel adalah benda cukup penting isi didalamnya.
"Aku ingatnya ke lempar, kan aku pakai lampu senternya. Habis itu aku mulai gali lagi, tapi pakai lampu korek Daddy kan?" Pangeran memastikan apa yang ia ingat dan di jawab anggukan oleh Daddy.
"Hem, iya."
"Lagi cari apa anak gantengnya mommy?" tanya Mommy Viana yang sontak membuat kedua prianya menoleh.
"Cari--,"
"Cari kutu, Mom," sahut Daddy Andra yang langsung membuat putranya kaget dan tak lama ia memegang kepalanya yang mendadak gatal.
.
.
.
Masa iya aku ganteng ganteng kutuan?