Pangeran Senja

Pangeran Senja
Datang sendiri


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Putri yang baru masuk kedalam ruangan Pangeran langsung memeluk pria yang sedang membereskan pekerjaannya tersebut. Hari ini memang mereka akan pulang lebih cepat karna besok ada Mommy dan Daddy yang datang. Seharusnya pasangan itu berkunjung pada pekan depan tapi entah alasan apa justru di percepat jadi esok sudah sampai di negara ini.


"Kita belanja keperluan untuk Mommy?" tanya Putri memastikan ajakannya tak di batalkan.


"Iya, habis ini selesai," jawab Pangeran dengan tangan masih sibuk memisahkan beberapa file di atas meja kerjanya.


"Aku sedang bicara padamu, Ran."


Putri yang tak suka tak di lihat saat sedang bicara langsung memalingkan wajah tampan Tunangannya agar menatapnya.


"Kamu ingin buru-buru kan? biarkan aku selesaikan semua ini dulu!"


Putri yang melepas pelukannya berlalu ke sofa untuk menunggu Pangeran merapihkan sisa tampukan berkas yang akan di bawa oleh sekertarisnya nanti.


Tak lebih dari 15 menit, Pangeran menghampiri Putri di sofa dan di detik yang sama pula wanita itu bangun lalu bergelayut manja di lengan Pangeran. Senyum terukir jelas di ujung bibirnya karna pasti bangga bisa bersanding dengan pengusaha dari keluarga Bramasta.


Langkah keduanya sejalan menuju mobil yang sudah di siapkan oleh supir di Lobby kantor, tak obrolan apapun dari pasangan tersebut karna Pangeran sedang fokus pada ponselnya yang menerima beberapa Email.


.


.


.


Sampai di salah satu swalayan, mereka langsung masuk dengan Pangeran membawa troli dan Putri yang akan memilih beberapa yang mereka butuhkan. Ini sudah sangat biasa terjadi pada mereka yang tinggal mandiri di negara orang tanpa ART seperti di rumah orang tua.


"Mau ku masakkan apa malam ini?" tanya Putri sambil terus berjalan pelan.


"Apa saja, terserah kamu," jawab Pangeran yang sejak dulu memasrahkan urusan perut pada Tunangannya tersebut.


Ia yang sudah biasa di atur seolah tak punya keinginan dan pilihan jika sedang berhadapan dengan Putri, itu semua karena tak ingin berselisih paham yang berujung pertengkaran. Jadi saat bersama dengan Senja yang hanya hitungan hari kemarin justru ada kesan dan bahagia tersendiri yang di rasakan Pangeran sebab ia bisa melakukan apapun yang ia mau sesuai inginnya.


"Jangan membuatku pusing sendiri, Ran."


Semua yang di butuhkan sudah penuh dalam satu troli besar dan kini saatnya mereka menuju kasir untuk melakukan transaksi pembayaran.


Niat untuk makan diluar pun mereka rencana kan setelah membersihkan diri di Unit Apartemen masing-masing, dan setelah itu barulah keluar untuk memanjakan perut di salah satu Resto yang pastinya pilihan Putri.


Wanita itu hanya ingin Pangeran bergantung padanya dengan mengatur semuanya yang akan mereka lakukan, dan itu seolah menjadikannya lupa jika pria yang sedang bersamanya punya hati dan pikiran.


.


.


.


Lain dengan Pangeran tentu lain juga dengan Senja yang berbeda negara dan waktu pastinya, ada selisih 6 jam di antara mereka berdua jadi jika ingin bertukar kabar tentunya harus memilih waktu yang tepat.


Ponsel yang sedari tadi hanya di mainkan di atas meja kayu akhirnya di tertawakan oleh Sang Kakak. Awan yang tahu apa yang di rasakan adiknya tentu langsung melayangkan ledekan hingga anak kesayangan pipihnya itu merengut kesal.


"Cie yang lagi kangen," goda Awan di selingi kekehan kecil.


"Siapa?"


"Kamu lah, lagi nunggu telepon pasti, iya kan? hayo ngaku!" desak pria itu lagi yang kini sembari mencibir.


Senja hanya menoleh sekilas lalu kembali memutar benda pipih mahalnya tersebut, terus memainkannya hingga ia dan Awan kaget saat tiba-tiba ponsel itu berbunyi cukup nyaring.


.


.


.


Pria kalau beneran CINTA, gak perlu di cari tapi ia akan dateng sendiri...