Pangeran Senja

Pangeran Senja
Pembantu TAJIR untuk TUAN MUDA


          🍂🍂 Part 39 🍂🍂


"Tanggung jawab apa maksudmu?" tanya Bella yang hidungnya sudah mengeluarkan asap. Tatapannya yang tajam seperti siap menerkam itu nyatanya di pergunakan dengan baik oleh ShaQueena.


"Tuan--," serunya dengan suara pelan dan se menyedihkan mungkin.


Tanpa di duga oleh kedua gadis yang ada di sana, Darren mengulurkan tangannya pada si pembantu jadi jadian. Bak dayung bersambut, ShaQueena tentu menerimanya dengan senang hati, tapi tanpa senyum lebar melainkan masih dengan wajah menunduk.


Gadis itu di tarik dan di sembunyikan oleh Darren di belakang punggungnya karna takut kena murka oleh Bella, jika dengannya yang seorang laki-laki saja Bella berani menaikkan nada bicaranya, lalu bagaiamana dengan nasib pembantunya kelak?


Itulah yang di pikirkan Darren, jadi tak salah jika ia akan melindungi si Minul andai saja Bella tak bisa menahan emosinya.


"Dia asisten rumah tanggaku, yang selama ini mengurus semua tentangku di Apartemen, ku rasa kamu tak lupa itu kan?"


"Apa yang di lakukan untukmu? mamamu saja pusing terhadapnya. Dia ini bukan pembantu tapi benalu!" tegas Bella yang hampir menjambak ShaQueena jika Darren tak menahannya.


Tak ingin ada keributan, Darren meminta SPG swalayan memanggil Security untuk mengamankan Bella dari pada terjadi hal yang tak di inginkan terlebih sudah ada beberapa yang juga memperhatikan keributan mereka meski cuma Bella yang sejak awal mengomel.


Darren yang merangkul pembantunya membuat Bella kesal luar biasa, ia yang di tahan oleh petugas keamanan terus memanggil Darren sambil menyumpahi gadis yang kini berjalan dalam dekapan pria incarannya.


.


.


.


Braak...


Darren masuk lalu menutup pintu mobilnya setelah ShaQueena sudahd duduk dan memakai Seatbelt nya. Bukan hanya kali ini, karna sejak pertama ia dan si pembantu memang selalu duduk bersama di kursi depan jika sedang keluar .


"Makasih, Tuan." ShaQueena menerimanya dan langsung meneguknya sedikit.


Aktingnya kali ini sungguh luar biasa sampai membuat Darren ikut merasa sedih juga. Padahal, jika ketauan keluarga, sepupu sampai si genk kompor meledug pastilah Tuan putri Bramasta itu akan di tertawakan, mengingat ia bukan tipe gadis yang diam saat di injak harga dirinya.


"Maaf ya, kamu pasti takut," ucap Darren, ia sedih karna tujuannya belanja bersama si Minul justru membuat gadis itu sedih.


"Tak apa, Tuan. Saya pantas mendapatkannya," jawabnya masih dengan suara parau dan wajah memelas benar-benar seperti manusia paling menyedihkan semuka bumi. Padahal nyatanya ia bukan satu satu makhluk yang sedang terdzalimi.


"Jangan bicara begitu. Tak ada orang yang berhak menghinamu, Nul. Memang mereka siapa? saya saja yang menggajimu dan bertanggung jawab padamu tak sekali pun pernah sekasar itu," balas Darren yang kini duduk menghadap si pembantu jadi jadian.


"Iya, kan sama-sama makan nasi ya, Tuan. sahut ShaQueena.


" Enggak! kan kamu gak makan nasi."


"Oh iya, Lupa!" kekeh ShaQueena sambil menutupi wajahnya dengan telapak tangan, niat hati ingin memberikan perumpamaan yang umum terdengar tapi ia sendiri lupa kalau selama ini justru jarang sekali makan makanan tersebut.


"Jangan sedih lagi ya, kamu ini gadis baik dan ceria jangan sampai karna omongan orang lain saya jadi gak lihat semangatnya kamu lagi," pesan Darren sambil menepuk pelan kepala si Minul.


Lalu, pandangan keduanya pun kini bertemu, mereka saling menatap satu sama lain, pasangan yang tak lebih dari majikan dan pembantu itu pun semakin lama semakin tenggelam dalam rasa yang bergejolak dalam hati masing-masing hingga tak sadar wajah keduanya kian dekat dan..


.


.


.


Tok.. tok.. tok...