Pangeran Senja

Pangeran Senja
Pembantu TAJIR untuk TUAN MUDA.


            🍂🍂 Part 51 🍂🍂


Tahu jika ShaQuenna kini ada di luar kota bersama dengan Darren, tentu keluarga Bramasta langsung menyusul tanpa memberi tahu gadis itu lagi.


Mereka yang sudah rindu serindu rindunyanya tak lagi bisa menahan rasa ingin memeluk si Mbul yang tak lain adalah seorang ahli waris yang di tinggalkan Darren saking kaya rayanya.


"ShaSha gak akan ngamuk kan kalau kita susulin kesana?" tanya Senja sebelum ia dan suaminya keluar dari kamar.


"Gak tau, anak itu kan sulit di tebak, kaya kamu," ledek Pangeran yang malah menarik pinggang istrinya lalu menyesap leher si cinta pertama dengan sangat lembut.


"Jangan berbekas, Pah!"


"Tapi aku mau yang di bisa di tinggali bekas, gimana dong?" goda Pangeran dengan senyum mesum yang mengharapkan sesuatu pada Senja.


"Waktu kita tak banyak, ayo cepat," ajak Senja sambil berusaha mengurai pelukan dari suaminya yang tangannya kini mulai nakal, yang tadinya ada di punggung merayap ke pinggang lalu ke BokOOnG, Pangeran mereMaaSnya cukup kuat karna ingin mendengar ******* dari wanita halalnya yang selama lebih dari 20 tahun menjadi candu baginya.


"Pah--, udah ah!"


Bukan Pangeran namanya jika mau mengalah, Senja yang sedikit menikmati sentuhan suamianya reflek memejamkan kedua mata hingga BirAhi itu kian bergejolak tak ingin ditahan apa lagi di tunda.


"Main bentar yuk," ajaknya yang sudah bisa di tebak oleh sang istri.


"Ish, apa sih?! enggak ah, aku mau ketemu anakku," tolak Senja yang ketakutan sendiri, karna jika benar terjadi, ia harus siap mendengar ledekan dari Daddy Andra.


"Tapi Si Jambrong juga pengen ketemu si Kribo, Sayang!"


.


.


.


Usai berbelanja, ia langsung masuk kedalam kamar hotel yang bersebelahan dengan Darren. Pria itu kini sedang menghadiri rapat dengan orang-orang yang pastinya sudah menunggu.


"Peeel-- Tompel, kenapa nyusahin banget sih, Mpeeeel. Ya Tuhan!" pekiknya yang baru saja selesai mandi bahkan ia masih memakai Bathrobe nya.


Tompel yang di gunakan ShaQuenna sebenarnya itu adalah alat make up biasa yang sangat tahan PapAy, meski berkeringat atau kena MiMoy dan badai sekali pun, si Tompel akan diam di tempat dan pastinya tak akan luntur seperti cintanya pada sang Direktur.


"Beli dimana ya? waktunya mepet banget ini. Ta Buuuuy, tolong Mbul dong," mohonnya sambil menangkup tangan di depan dada padahal si Buaya betina jelas tak ada bersamanya.


ShaQuenna yanh pasrah, pusing, dan bingung duduk di tepian ranjang. Ia yang hanya membawa ponsel merutuk dirinya sendiri karna begitu saja menurut pada Darren, ia tak berontak sama sekali saat pria itu menarik tangannya. Padahal, ia sudah bersikeras ingin tetap di Apartemen jika memang mama majikannya pulang, terkecuali memang keadaan berbanding terbalik.


"Gini nih kalau jatuh cinta sama orang yang gantengnya kelewatan, belum lagi keteknya yang Bewh---, haruuum!" ucap ShaQuenna yang tak akan berhenti memuji pria tersebut dalam dirinya.


"Tapi--, ganteng doang! nyalinya ciut mengkerut. Masa sama si ShaQuenna dia takut! payah," lanjutnya lagi, ingin benci pada sosok gadis itu tapi nyatanya itu adalah dirinya sendiri.


Helaan napasnya pun mulai terasa berat dan semakin berat mana kala mendengar suara bell pintu kamarnya itu berbunyi.


.


.


.


Mampus! siapa tuh??!