Pangeran Senja

Pangeran Senja
Pembantu TAJIR untuk TUAN MUDA


         🍂🍂 Part 12 🍂🍂


Mentari yang melihat suaminya sedikit melamun usai berbelanja dari swalayan akhirnya tak kuat menahan rasa penasaran, ia yang sedari tadi ikut duduk bersama lantas mengusap punggung tangan Awan dengan lembut.


"Apa ada masalah, Pah?" tanya Mentari.


"Hem, enggak. Kenapa?"


"Habis belanja tadi kok melamun terus?" Meski mereka kaya raya, tapi menghabiskan waktu berdua seperti tadi adalah salah satu hal yang menyenangkan meski bisa di lakukan oleh ART.


Mereka tentu bukan berbelanja kebutuhan rumah, melainkan cemilan untuk mengisi waktu luang.


"Tadi aku bertemu dengan Daren, rekan kerja ku. Dia sama seperti kita tadi, hanya bedanya--," jelas Awan yang masih nampak ragu untuk bercerita.


"Apa yang beda, Pah?" tanya Ibu satu anak tersebut dengan kedua alis sedikit bertaut.


"Dia belanja bersama dengan pembantunya, Daren memang tinggal sendiri di Apartemen, aku tahu itu karna satu Apartemen dengan punya Heaven," jawab Awan yang masih tak di pahami istrinya.


"Bedanya apa? jika Papa tadi dengan istri lalu Daren dengan pembantunya, begitu? atau papa pikir mereka punya hubungan?" tanya Mentari yang aneh dengan sikap sang suami kali ini, biasanya Awan tak pernah perduli dengan urusan orang lain. Tapi sekarang justru pertemuan mereka seolah jadi beban pikiran bagi pria tersebut.


"Bukan itu emaknya Cimooooool!" jawab Awan yang bingung juga mengungkapkan apa yang sedang ia pikir kan.


"Udah ah, ngapain sih mikirin mereka! bantuin nih masukin permen ke toples," titah Mentari pada suaminya.


Tak perduli, se arogan dan sekaya apapun seorang RahardiAwan putra Biantara, ia akan tetap menurut dengan perintah istrinya.


Itu, Mbul!! aku yakin itu Mbul, tapi sejak kapan dia punya tompel ??


.


.


.


Sedang di tempat lain, pastinya di Unit Apartemen Daren, seorang wanita tengah lemas lemas nya dengan kejadian beberapa waktu lalu, dimana ia hampir saja ketauan oleh Unclenya sendiri, Shaquenna tak bisa membayangkan jika sampai mis penyamarannya itu terbongkar oleh Daren, pria incarannya.


"Gak apa apa, Tuan. Cuma bingung mau di taruh di mana aja," jawabnya terbata dan pastinya sibuk mencari alasan juga.


"Taruh di tempat yang mudah kamu jangkau, mie instan jangan di tak atas nanti kamu gak bisa ambilnya lagi," pesan Daren yang ingat dengan kejadian yang lalu.


Shaquenna hanya mengangguk dan melanjutkan lagi pekerjaannya. Membereskan tempat tidur saja ia tak pernah tapi kali ini justru ia harus merapihkan dapur milik orang lain.


Daren yang masih di posisi yang sama pun tetap fokus pada layar ponsel yang ia pegang. Ia sedang bertukar pesan dengan beberapa orang termasuk mamanya sendiri yang bertanya kabar tentang kondisinya saat ini.


"Tuan, sudah selesai. Boleh saya ke kamar?" pamit Shaquenna yang merasa lelah terutama otaknya yang masih Shock.


"Oh, iya. silahkan. Kamu kalau mau makan jangan sungkan ya," ucap Daren yang di iyakan.


Tapi, baru saja ia ingin melangkah ke kamarnya yang bagai sarang semut, dua orang itu menoleh bersama ke arah pintu yang bell nya berbunyi.


"Siapa yang datang?" gumam Daren yang tak biasa menerima tamu di Apartemennya ini, karna jika ada apa apa ia selalu memberi alamat rumah orang tuanya.


Shaquenna yang sama tak tahu nya hanya menggeleng kan kepala, ia lantas menurut saat di minta untuk membuka benda bercat coklat tersebut.


Cek lek


"Kamu siapa?" tanya seorang wanita yang terlihat kaget saat ada gadis di Unit apartemen putranya.


.


.


.


.


Mbul... eh MINUL....