
🍂🍂🍂🍂🍂
"Ndut, Abul ya?" Andra yang melakukan video call sambil cekikian menatap putranya.
"Apaan sih, Dadd!"
Senja yang mendengar percakapan pria di sebelahnya pun hanya diam sambil tersenyum simpul, tak ada yang hal lain kecuali bertanya dimana, mau kemana dan dengan siapa, tak lupa juga kapan Pangeran akan pulang.
Sambungan telepon hampir 20 menit itupun akhirnya berakhir masih dengan gelak tawa Daddy Andra yang mendapat banyak cubitan dari istrinya.
"Daddy mu lucu ya, anaknya di bilang kabur," ujar Senja yang sedari tadi hanya menyimak.
"Hem, saking baiknya sampe pengen ku tuker tambah," sahut Pangeran dengan nada kesal.
Drama nikah muda orang tuanya memang menguntungkan bagi pasangan tersebut karna bisa berbangga diri sebab sudah memiliki anak sebesar Pangeran di usia yang belum genap setengah abad, jadi tak salah juga mereka malah sering bertengkar tak jelas layaknya teman.
"Kaya Pipih, ribut terus sama kak Awan," balas Senja.
Keduanya terus mengobrol tentang keluarga hingga tak terasa sampai juga di pemakaman umum. Dibantu oleh Pangeran, Senja pun turun dan berjalan dalam rangkulan pria yang selama tiga tahun selalu di tolak nya itu.
"Ini makamnya?" tanya Senja dengan mata menatap kearah batu nisan bertuliskan nama, tanggal lahir dan wafat.
Hatinya yang mencelos langsung menitikan air mata hingga kembali membanjiri wajahnya yang masih sedikit pucat. Pangeran yang berada di samping Senja hanya bisa mendampingi dan mendengarkan apa yang sedang wanita itu ungkapkan meski yang terlontar hanya kata maaf yang entah sudah berapa kali.
Sebenarnya sejak awal Pangeran tak setuju menemani Senja karna justru takut ia semakin tertekan, tapi bukan bungsu Biantara namanya jika tak keras kepala.
Dan hari yang semakin sore itulah membuat keduanya tak bisa berlama-lama lalu memutuskan untuk pulang.
.
.
.
Di kediaman Biantara, Pangeran bertemu dengan Awan, dua sahabat itu melepas rindu dan banyak juga yang kini mereka bicarakan, mulai dari kenangan masa sekolah sampai kini urusan pekerjaan.
"Kemana sih? masih sore," kata Awan yang masih ingin bertukar dengan teman baiknya itu.
"Gue dari pagi ini," kekeh Pangeran lagi, tubuhnya yang tak nyaman seolah ingin segera di bersihkan.
"Loh, mau kemana? makan malam dulu disini, Mimih sudah siapkan," sambung Cahaya yang tiba-tiba datang juga bersama Senja.
Tatapan Pangeran tentu tertuju pada wanita itu, wanita yang namanya masih terukir jelas dengan cinta yang masih penuh dan utuh. Senjanya begitu cantik dan terlihat jauh lebih dewasa. Namun yang di rasakan Pangeran saat malah ingin memaki habis habisan pemilik hatinya tersebut.
"Aku pulang aja, Mih," tolak Pangeran halus.
"Tanggung, ayo makan dulu." Cahaya dan Awan berlalu lebih dulu ke ruang makan meninggalkan Senja dan Pangeran yang kini berdiri saling berhadapan.
"Mau kan temenin aku makan?" pinta Senja yang mengulurkan tangannya.
Pangeran tak langsung meraih tangan yang dulu sangat di dambanya itu, ada sesuatu yang seolah kini tengah mencubit hatinya hingga ia memilih memejamkan matanya untuk menikmati rasa bersalah.
"Ran, ayo. Kita udah di tunggu," ajak Senja yang bingung dengan sikap pria di depannya kini.
"Aku harus pulang, lain kali mungkin aku bisa makan malam dengan kalian."
"Kenapa?" tanya Senja dengan dahi mengernyit.
.
.
.
.
Ada yang sedang menunggu kabar dariku, Sen...