
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Makan siang yang penuh gelak tawa nyatanya berakhir di area parkir Resto karna Mommy langsung di ajak Daddy untuk ikut ke kantornya, meski rasanya Pangeran tak yakin tapi tak apalah bukankah itu juga kesempatan untuknya, ia bisa berdua saja dengan Senja yang jika beruntung mungkin keduanya akan mengulang hal nikmat seperti beberapa jam yang lalu.
"Sayang, yakin kita pulang?" tanya Pangeran memastikan.
Senja yang sudah memasang Seatbelt hanya mengangguk. Ia bingung harus kemana karna jika pulang kerumahnya atau ke rumah utama rasanya kadang tak ingin pulang lagi.
Tak ada jawaban dari Sang istri membuat Pangeran mantap melajukan mobil mewahnya menuju rumah. Ia yang sesekali melirik kearah Senja bisa menebak sepertinya wanita itu mulai mengantuk, dan benar saja, saat Si kereta besi hendak masuk garasi ia melihat Senja sudah terlelap.
"Ya ampun, kalau kenyang lahir bathin ya begini. Mulut atas bawah abis kena servisan enak," kekeh Pangeran yang kemudian membawa istrinya masuk kedalam rumah dengan cara di gendong.
Pangeran yang di bantu salah satu ART rumah membuat ia mudah saat masuk sebab ada yang membukakan pintu. Kini ia sudah membaringkan Senja di tengah kasur yang barusan di pakai mereka bercocok tanam ala ala menanam singkong.
"Tidur ya, Cantik. Aku mau kebawah dulu sebentar," bisik Pangeran yang lalu menciumi wajah sendu dan lelap istrinya.
Meski rasanya ia tak pernah puas sama sekali saat memandang paras cantik bidadari dunianya.
Pangeran keluar dari kamar begitu saja untuk bicara pada ART di rumahnya, ada hal penting yang harus ia beritahu karna kini ada Senja di rumah tersebut.
.
.
.
Senja yang tak tahu jika sudah sampai di rumah apalagi terbaring di ranjang mulai bergeliat kaget saat ia mendengar suara ponsel berbunyi yang jelas itu bukan miliknya. Ia mencari cari benda pipih tersebut yang nyatanya ada di dekat bantal yang tak lain itu kepunyaan suaminya.
Kesadaran yang belum penuh dan sedikit rasa pusing karna bangun mendadak membuat Senja harus berkali-kali membaca nama yang tertera di layar ponsel yang kini ada di tangannya.
"Putri," ucapnya lirih sambil menikmati gemuruh dalam dadanya yang tiba tiba sesak.
Senja yang bingung mau mengangkatnya atau tidak tetap berusaha menetralkan suaranya agar terdengar biasa saja meski nyatanya tetap tak akan baik baik saja.
Ehem..
Dehemah kecil di lakukan oleh Senja sebelum ia menggeser icon hijau di ponsel milik Pangeran.
"Hallo," sapa Senja seramah yang ia bisa.
"Hem, enggak kok' ada apa ya?" tanya Senja yang wajar jika menaruh curiga sebab wanita yang kini tengah berbicara dengannya adalah satu-satunya yang paling dekat dengan Pangeran.
"Gak ada kok' aku cuma mau ingetin aja, kalau besok jadwalnya Pangeran suntik Vitamin. Nanti kan dia udah mulai masuk kantor sedangkan Pangeran itu gila kerja jadi staminanya harus benar-benar stabil agar tak mudah lelah. Aku hanya tak ingin itu terlewat saja, makanya aku telepon untuk mengingatkannya," jelas Putri yang entah kenapa di dengar oleh Senja agak lain, ada nada sedikit mencibir disana.
"Ah, iya. Nanti ku sampaikan, Terima kasih juga sudah mengingatkan," balas Senja yang mulai sedikit menggigit bibir bawahnya.
"Iya, sama sama, Sen. Oh ya, apa kamu tahu makanan yang tak boleh ia makan?" tanya Putri lagi.
Senja malah langsung menggeleng kan Kepalanya seakan mereka berdua sedang berbicara secara langsung.
"Jangan beri Pangeran Cumi ya, bukan hanya tak boleh tapi ia juga memang tak suka," sambung Putri yang hanya di iyakan oleh Senja.
Satu persatu semua di beritahu oleh Putri, dan kini sedikit banyak ia paham tentang suaminya.
"Baiklah, terima kasih banyak ya, aku sangat terbantu akan hal ini. Terima kasih juga sudah menjaga Pangeran dengan baik selama ini," ucap Senja yang kali ini ia begitu tulus, ia kesampingkan ego dan rasa cemburu karna ternyata Putri tak seburuk yang ia kira.
"Jangan sungkan tanya saja padaku apapun yang kamu tak tahu tentangnya. Aku tahu semua yang ada dalam diri suamimu."
Deg...
Ada saatnya hati Senja mencelos mendengar hal tersebut. Ia wanita biasa yang baru jatuh cinta dan apapun yang kini jadi miliknya tak akan ia biarkan ada satu orang pun menyentuhnya.
"Senja--," panggil Putri lagi saat tak terdengar suara apapun.
"Eh, iya. Maaf, kenapa? ada yang mau kamu sampaikan lagi, hem?" tanya Senja yang sadar dari lamunannya.
"Maaf ya, aku hanya merelakan Pangeran untukmu, tapi sejujurnya aku belum ikhlas melepasnya. Aku teramat mencintainya hingga detik ini. Tak mudah bagiku melupakan sosok pria yang kini jadi suamimu. Terlalu banyak kenangan yang terjadi di antara aku dan dia. Tak perlu ku katakan apapun, kamu pasti paham apa yang dua orang dewasa lakukan selama 7 tahun tinggal bersama tanpa pengawasan orang tua," ucap Putri.
.
.
.
Memang, apa yang sudah kalian lakukan?