Pangeran Senja

Pangeran Senja
Pembantu TAJIR untuk TUAN MUDA


          🍂🍂 Part 26 🍂🍂


Jangankan Pangeran Senja, karna nyatanya Shaquenna pun begitu rindu dengan sosok orang tua serta Daddy Mommy nya yang tak pernah jauh darinya.


Jadi, tak salah jika gadis cantik itu kini sedang menangis di balik bantal yang cuma ada satu di atas ranjang kamar pembantu.


Ia yang sesegukan memakai kain selimut untuk menghapus air mata yang membasahi wajah mulusnya. Ya, kali ini Shaquenna memang sedang tak menjadi si Minul, tanpa riasan dan juga tompel bentuknya kini tentu sebagai Nona muda Bramasta.


"Mbul pengen pulang, Dadd. kangen di sawer duit lagi," liriknya sambil terisak.


Hingga perlahan, rasa kantuk menyerangnya. Mimpi indah pun mulai menggodanya saat ia merasa kepalanya seolah ada yang mengusap lembut.


.


.


"Gak usah bangun, Nul," sindir Mama Darren saat pembantu jadi jadia putranya itu masuk ke dapur.


Shaquenna yang melirik ke arah jam langsung membuang napas kasar.


"Cuma telat satu jam, biasa bangun jam 5 ini jam 6," sahutnya tanpa rasa berdosa.


"Cuma kamu bilang?"


"Bangun siang juga aku udah cuci piring, Tuan Darren kan gak pernah sarapan," jawabnya lagi yang memang kadang bingung harus apa saat pagi.


Shaquenna yang memang sudah merapihkan semua sebelum tidur, kini kembali ke kamar setelah membawa satu buah pir dan beberapa anggur dalam piring kecil, tak lupa juga dengan segelas susu coklat kesukaannya.


Sedang Mama yang melihat kelakuan si pembantu hanya bisa geleng geleng kepala.


"Kenapa, Mah? liatin apa sih?" tanya Darren yang ikut melihat ke arah kamar pembantu.


"Si Menul, masa bangun cuma ambil buah dan susu habis itu masuk kamar lagi, alasannya kamu tak suka sarapan di rumah lalu Mama bagaiamana?" ocehnya yang selalu sama setiap pagi.


"Gara-gara dia gak makan nasi, kamu sampe gak punya beras, aneh!" sindir Mama yang di abaikan oleh Darren, pria tampan itu hanya tersenyum kecil, karna makin di timpali sang pemilik Surganya akan terus mengomel tiada henti.


Lagi pula, yang mama ucapkan itu benar, di Apartemennya tak tersedia banyak beras karna Darren tetap memilih makan dengan Catering yang kini tak hanya untuknya tapi juga untuk mama, sedangkan si pembantu sudah punya makanannya sendiri di dalam kulkas.


.


.


Shaquenna yang duduk sendiri di tempat jemur baju melamun sambil mengunyah buah pir yang ia makan dengan cara di gigit bukan di potong seperti biasa, hari ini suasana hatinya sangat kacau bagai balon hijau yang meletus, Dooor..


"Ya Tuhan!" pekik Shaquenna yang kesal saat melihat Darren justru tertawa, entah sejak kapan majikannya itu ikut duduk juga di sampingnya.


"Kenapa ngelamun, mikirin apa?" tanya Darren, ada rasa yang tak bisa ia tahan untuk tidak memperlakukan gadis itu layaknya seorang pembantu kecuali di depan mama.


"Hem, lagi mikirin nasib, kalau di Pecat sama Tuan aku kerja apa lagi ya?" tanya Shaquenna dengan memasang wajah menyedihkan, sebab ia tahu jika Mama Darren habis mengadu seperti yang sering wanita itu lakukan pada putranya.


"Memang siapa yang mau pecat kamu?" tanya Darren karna hal tersebut tak pernah terlintas di benak nya.


"Ya kali aja, Tuan. Makanya, kalau mau pecat saya jangan dadakan soalnya saya bingung," kata Shaquenna alisa si Minul.


"Bingung kenapa lagi?"


.


.


.


Ya, bingung aja, soalnya gak bisa apa-apa, sedangkan mau jual diri takutnya laku keras....