
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Cerita ini hasil dari kehaluan semata yang turun dari kepala ke jempol, jadi jika ada rasa greget, marah dan sedih silahkan gigit ujung baju masing-masing ya, jangan gigit Laba-laba di tolongan pake sambel kacang 🤣🤣🤣 enak dan kenyang itu...
☪☪☪\* **Happy Reading ☪☪☪**
Waktu terus berjalan, Pangeran benar benar menepati ucapannya jika tak ada lagi saling sapa di antara mereka sebab terbukti dua kali bertemu mereka seolah asing padahal sama-sama pernah menikmati nyamannya sebuah pelukan.
Rasa yang baru bersemi ternyata tak gugur meski tak pernah saling tatap apalagi kembali duduk berdua seperti yang pernah mereka lakukan saat mengobrol tentang banyak hal termasuk perasaan masing-masing.
Seperti hari ini, tak ada senyum terukir di ujung bibir Senja. Tatapan matanya kosong melihat benda berbentuk kotak berwarna putih di tangannya yang baru di berikan oleh salah satu pelayan kediaman Biantara.
Ya, itu tak lain dan tak bukan adalah surat undangan Pangeran dan Putri yang akan di selenggarakan akhir pekan ini, tak ada air mata sebab Senja sudah cukup banyak menjatuhkannya secara percuma.
"Pangeran memang pantasnya bersama Putri, mana bisa berjodoh dengan Senja," gumamnya sambil terkekeh untuk menghibur dirinya sendiri.
Ia usap nama calon pengantin pria dan tanpa bisa di bendung lagi cairan bening akhirnya jatuh juga tepat di nama Pangeran RaViandra Bramasta, laki-laki yang selalu ia tolak cintanya tanpa alasan jelas karna yang ia tahu, ia tak pernah merasakan debaran apapun saat bersamanya, tapi kini seolah berbanding terbalik. Rindu itu terus menyelinap direlung hati Senja dengan atau ia ingat dengan Pangeran.
Tok.. tok.. tok...
"Masuk," jawab Senja sambil menaruh benda yang ia pegang ke dalam laci meja rias, tak lupa ia juga menghapus air matanya agar tak ada yang tahu betapa kasihannya ia hari ini.
Cek lek
"Sen, kamu--, gak apa apa kan?" tanya Awan yang masuk kedalam kamar adik kembarnya, keduanya duduk saling berhadapan diatas ranjang yang sedih berantakan.
"Memang kakak pikir aku kenapa?" tanya balik Senja mencoba menghindar tapi sayangnya tak berhasil. Tangan wanita itu di cekal seakan diminta untuk diam dan tetap tinggal bersamanya.
"Sudah dapat surat undangan dari Pangeran? acaranya akhir pekan ini, kan?"
"Kita datang bersama jika kamu mau, karna semua keluarga besar di undang, tapi kalau tak mau tak apa-apa. Tenangkan saja hatimu," ujar anak sulung Biantara tersebut.
"Apa alasanku untuk tak datang? memang kami kenapa? aku tak pernah menganggap dia musuhku atau apapun itu. Kamu berteman baik dan kamu tahu akan hal itu," kata Senja sedikit menaikan nada bicaranya.
"Aku hanya tak ingin kamu pingsan di sana, Sen!" ledek Awan sambil mencibir dan itu berhasil membuat adiknya murka lalu berteriak hingga suaranya cukup menggema ke seisi kamar.
Awan yang berlari tentu langsung di kejar, tak perduli dengan umur yang kini sudah menginjak usia 25 tahun, karna jika sedang ribut pasti akan seperti bocah taman kanak-kanak.
"Hey, kalian ini kenapa?" tanya Papih Adam mulai berteriak.
"Kak Awan ledekin aku, Pih. Pecat dia!" titah Senja manja dan menggemaskan.
"Ada apa?" Mamih Diana yang baru datang pun nampak bingung saat melihat cucu kesayangannya ada dalam pelukan Sang suami.
"Nih, Senja, belagu banget mau datang ke acara nikahan Pangeran, kalau nanti pingsan kan kita yang repot gotong," jelas Awan, dan kedua mata pasangan baya itu kini sudah terarah pada Senja.
"Benar begitu, Sen?" tanya Papih Adam yang di iyakan dengan anggukan Kepala.
.
.
.
Tidak, Mamih tak setuju jika Senja datang.