Pangeran Senja

Pangeran Senja
Cenayang


🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Iya, Ran," jawab Senja saat ia sudah mengangkat telepon dari pria yang sudah di tunggu kabarnya sejak pagi itu.


"Apa aku menganggumu?" tanya Pangeran yang kini sedang merebahkan diri di atas ranjang untuk sekedar merenggangkan otot tubuhnya yang lelah.


"Enggak, kok. Aku gak lagi ngapa-ngapain."


Selama dan sesering apapun mereka mengobrol tak sekalipun Senja bertanya kapan pria itu kembali karna sesuai janjinya ia tak ingin menunggu meski harapan itu tetap terselip dalam hatinya.


Dan Pangeran seolah candu dengan semua yang di ceritakan oleh Senja. Ya, dia senang menjadi pendengar sebab nyatanya kadang ada seseorang yang tak butuh solusi atas semua masalahnya, cukup ada sepasang telinga yang siap mendengarkan segala apa yang ingin di utarakan, tak perlu membantu sekedar mengurangi sesak dalam dadapun itu sudah lebih dari cukup.


"Jadi hari ini kamu tak melakukan apapun?"


"Iya, tapi besok aku mau pergi," jawab Senja yang kadang bingung sendiri sebab hidupnya masih saja lurus seperti jalan Tol sebab selalu di pastikan aman terkendali oleh Papih dan Daddy nya yang seolah terus berlomba memberikan yang terbaik untuk cucu bangsu perempuan satu-satunya mereka itu.


"Hati-hati, dan pastikan tidak sendiri ya," pesan Pangeran yang selalu saja khawatir karena takut kejadian dulu terulang lagi.


Karna tak jarang Senja masih sering mengeluh tak bisa tidur nyenyak sebab mimpi buruk yang ia alami. Bayangan korban dan teriakan para saksi ketika menyalahkannya masih hadir saat malam menemani kesendiriannya.


"Tentu, aku di temani sepupuku nanti, aku pergi dengan kak Ola," jawab Senja. Pangeran tersenyum simpul merasa gadis itu akan aman saat keluar rumah nanti.


Tak di ceritakan alasan perginya, sebab sambungan telepon di akhiri oleh Pangeran karna ada telepon masuk di ponselnya. Senja yang tak mungkin menahan pun hanya mengiyakan karna Pria itu berjanji akan menghubunginya lagi nanti.


Apa yang di butuhkan Senja sudah di berikan oleh Pangeran tanpa ia harus repot repot merengek atau mengemis kabar juga perhatian. Dan itu sudah lebih dari cukup baginya untuk tahu tanpa mencari tahu.


.


.


.


"Tadi suruh buru-buru, tapi yang ngajak malah belum mandi," ledek Ola sambil terkekeh.


Senja yang manja malah berhambur memeluk kakak sepupunya yang sudah duduk di atas ranjang.


"Nanti, aku baru bangun tidur. Aku gak bisa tidur nyenyak sekarang," adunya yang entah sudah berapa kali.


"Jangan lupa baca doa, Sen. Kamu pasti tenang nantinya," jawab Ola sambil mengusap punggung Senja.


"Sudah, tapi tetap sama."


Aurora tahu, bukan hanya rasa sesal dan trauma yang akhir akhir ini menganggu malam malam seorang RahaSenja Biantara, tapi ada rindu juga untuk seseorang yang sangat jauh darinya.


"Berarti ada hal lain yang mengganggu pikiranmu, benarkan?" goda Ola, ia yang selalu bijak padahal kisah cintanya saja sangat sangat menyakitkan hingga membuat orangtuanya memohon untuk ia menyerah, tapi sayangnya ia selalu percaya jika Jodoh yang di kirim Tuhan adalah yang terbaik untuknya.


"Hey, kamu ini manusia atau cenayang?"


"Apapun itu pastinya bisa menebak dari matamu, Sen," jawab Ola sambil tersenyum.


"Hem, ternyata berat ya menahan Rindu? kenapa harus ada perpisahan?"


.


.


.


Sen, tak ada yang namanya benar-benar berpisah bagi 2 hati yang selalu mendoakan terjadinya sebuah pertemuan.