
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Waktu yang berbeda antar dua negara membuat Komunikasi antara Pangeran dan Putri tak sebaik biasanya, belum lagi saat ponsel dengan sengaja di Silent atau bahkan di nonaktifkan hanya demi fokus pada satu sosok yang masih bertahta dalam hati.
"Pergi lagi, iya?" tanya Putri.
"Bukankah aku sudah bilang padamu, hem?"
"Iya, kamu hanya bilang mau pergi dengan temanmu, tapi saat ku tanya siapa, kamu justru langsung hilang," sindir Putri dengan nada jengkel karna lelah menunggu kabar.
"Yang penting sekarang aku ada untukmu, ayo ceritakan ada apa hari ini?" tanya balik Pangeran, selelah apa pun ia sekarang nyatanya masih harus meladeni tunangannya.
Pangeran tentu tak lupa itu, meski di matanya kini terbayang senyum manis Senja.
"Tak bisakah pulang lebih cepat? aku merindukanmu," pinta Putri penuh harap.
"Bukankah sejak awal sudah tahu, kapan aku harus kembali kesana?"
"Iya, tapi perasaanku tak enak. Aku ingin kamu cepat kembali, Ran. Aku takut," ucap lirih Putri yang tak ingin menunduh tapi nyatanya ada yang mengganjal dalam hatinya.
"Sudahlah, tenangkan hati mu. Aku kembali sesuai rencana. Tak akan ku rubah karna hanya urusan pribadi seperti ini," balas Pangeran menenangkan.
Dengan atau tanpanya Senja, ia memang akan kembali pada waktunya nanti sebab masih ada yang harus ia urus dan Putri tahu itu sejak awal. Ia tak bisa menuruti maunya Sang Tunangan meski nyatanya kini wanita itu sedang merajuk kesal.
"Baiklah, kabari aku jika sudah mau berangkat ya.
Ingat, ada aku yang menunggumu disini," pesan Putri yang hanya di iya kan bersama dengan anggukan kepala seolah Putri ada di depannya
Sambungan telepon pun berakhir dengan isakan tangis tak kuasanya wanita itu menahan Rindu dan cemas yang kini bersatu menyesakan dada calon menantu Bramasta tersebut.
.
.
.
Hari berlalu dan semua pekerjaan hampir selesai tepat pada waktunya, mengingat esok pagi Pangeran sudah harus kembali ke negara yang 7 tahun ini ia tinggali bersama Sang Tunangan.
"Sudah semua?" tanya Daddy Andra saat masuk kedalam ruang kerja putra kebanggaannya.
Siapa sangka, di umurnya sekarang ia bisa bekerja sama dengan anaknya sendiri mengurus perusahaan. Sudah berkali-kali ia berterimakasih dan mengucap syukur atas perjodohan dan pernikahan mudanya terdahulu meski begitu berat di awal.
"Sudah, Dadd."
"Pertengahan bulan depan Mommy dan Daddy akan datang kesana," ujar pria paruh baya itu yang sudah duduk di sofa panjang yang di peruntukkan untuk tamu atau klien.
Ia tahu, ada hal penting yang akan di lakukan orang-tuanya dengan Putri disana, yang tak lain yaitu mengenai pernikahannya yang tinggal hitungan bulan jika semesta merestui, sebab tentunya TAKDIR tak akan bisa berubah.
"Mommy mu masih marah?"
"Entah, tadi pagi masih mencubit ku, dan itu rasanya sangat sakit, Dadd," adu Si anak tunggal yang tak punya saudara untuk berbagi keluh kesah, jadilah hanya pada Sang Daddy ia selalu mencurahkan segalanya.
"Baru kena cubitan segitu doang, Daddy nih 27 tahun sama Mommy kamu berasa kuping makin lebar karna seringnya di jewer," balas Daddy Andra tak mau kalah.
Dan kini kedua pria itu pun tertawa bersama, mau segalak dan semenakutkan apapun Mommy Viana wanita itu tetap yang terbaik dan paling cantik diantara mereka berdua.
.
.
Selepas kepergian Sang Daddy yang kembali ke ruangannya, Pangeran meraih ponsel yang tergeletak begitu saja, nama Senja pun di pilih untuk ia hubungi menjadi teman ngobrol sebelum pulang nanti.
Satu, dua, tiga kali nada tunggu masih di dengar hingga akhir suara Senja yang menggantikan untuk menyapa.
"Iya, Ran. Kangen ya?" kekeh Senya tanpa basa basi.
Dan itu lah yang membuat Pangeran selalu mengembangkan senyumnya tanpa sadar. Semakin hari wanita itu terlihat nampak semakin Bucin dan terbuka dengan perasaannya yang kadang terbungkus oleh lelucon konyol, dan itu membuat hari dan obrolan mereka kian menyenangkan.
"Hem, menurutmu?"
"Pasti, kan aku gak minta di telepon," jawabnya lagi penuh percaya diri, beruntungnya apa tebakan Senja benar.
"Besok pagi aku pergi ya, jaga dirimu baik baik, aku tak bisa menenangkan mu lagi mulai lusa. Jangan buatku berat meninggalkanmu ya," pesan Pangeran, ini adalah kalimat menyakitkan kedua kalinya yang ia lontarkan setelah di bawah pohon nangka.
"Iya, jaga dirimu juga disana. Aku akan ingat semua yang pernah kamu katakan dan kamu lakukan untukku, itu sudah cukup menjadi penenang ku saat aku merindukanmu," balas Senja dengan suara parau menahan tangis, hari yang paling ia takutkan akan sebuah perpisahan nyatanya kini sudah di depan mata.
"Sen--Senja," panggil Pangeran dengan menggigit bibir bawahnya, ia dongakkan juga wajahnya agar cairan bening di mata tak jatuh ke pipi.
"Hem, apa? aku masih disini," jawab Senja.
.
.
.
Ku mohon, jangan menungguku ya...