
🍂🍂 Part 06 🍂🍂
Shaquenna yang sedang menunggu nasi matang masih berdebar dadanya karna penasaran dengan hasil masakannya yang baru ia lakukan untuk pertama kali seumur hidupnya, bukan tak bisa tapi ia memang malas untuk melakukannya. Sebagai Tuan putri yang semuanya serba ada dan pasti di siapkan tentu ia tinggal terima kenyang.
Dari leluhurnya yang terdahulu, rata rata semua wanita nya dari kalangan atas termasuk Mommy Viana. Jangan tanya tentang Mamah Senja dan Mimih Cahaya karna keduanya asli keturunan konglomerat.
"Ya Tuhan, kenapa lama sekali?" gumam Shaquenna yang kini sedang bekerja sebagai seorang pembantu.
Baru saja ia selesai mengeluh, terdengar suara dari mesin penanak nasi yang menandakan jika yang ia masak beberapa menit yang lalu kini sudah matang.
Senyum merekah di ujung bibir Shaquenna, ia yang berjingkrak senang sampai bertepuk tangan lalu memutar tubuhnya sambil menari.
"Ups!"
"Kamu ngapain joged joged di dapur?" tanya Daren yang entah dari kapan ada di ruangan tersebut. Pria tinggi itu menatap heran ke arah pembantunya yang bukan unik tapi justru ajaib.
"Hem, Enggak, Tuan. Lagi nunggu nasi mateng. Tuan mau makan?" tawar Shaquenna yang selalu mengingat kan dirinya sendiri jika ia bukan nona muda di sini.
"Apa ya? buatkan saya Mie goreng tapi telurnya di dadar ya," pinta Daren dengan santainya, bahkan ia sudah duduk di meja makan sambil memainkan ponsel.
"Mampus gue," bathin Shaquenna yang menelan salivanya kuat kuat.
Mie instan ia tentu bisa memasaknya karna sering membuat makanan tersebut bersama Embun saat tengah malam jika lapar melanda usai saling curhat ala ala gadis remaja yang baru beranjak dewasa. Bayangkan, selama apa sepupunya itu jika sudah bercerita tentang ke 9 pacarnya sekaligus.
"Tunggu apa lagi?" tanya Daren saat Shaquenna belum juga melakukan apa apa.
Kaget dengan suara pria itu, Shaquenna buru-buru mencari tempat penyimpan mie instan yang ternyata ada di rak atas.
"Tuan--," panggil Shaquenna.
"Hem," jawab Daren yang hanya berdehem pelan.
"Gak nyampe," ucap Shaquenna karna rak itu memang tinggi ia hanya bisa membuka pintunya tapi tak bisa meraih si Mi InstanInstan yang tersusun di dalamnya.
Daren memperhatikan pembantunya itu dari ujung rambut hingga kaki, ia baru sadar jika kulit gadis di depannya sangat putih dan bersih.
"Ah iya." Daren yang tersentak meletakkan si benda pipih ke atas meja lalu bangun dari duduk, ia hampir pembantu jadi jadiannya yang berdiri didepan meja kompor.
"Minggir!" titah Daren yang membuat Shaquenna hanya menggeser satu langkah ke samping
Bisa di bayangkan sedekat apa dua manusia tersebut kali ini, karna Shaquenna yang tak beranjak dari posisinya sudah barang tentu kini ada di depan sang majikan.
"Mie gorengnya mana ya?" tanya Daren yang ternyata di dalam rak sana hanya ada mie kuah saja.
"Tuan nanya saya? saya nanya siapa?" sahut Shaquenna.
"Heh, kamu ngapain?" tanya Daren yang langsung menurunkan tangannya saat sadar jiwa wajah si pembantu begitu dekat dengannya.
"Cium ketek, Tuan."
Wajah Daren langsung merah, ia tak pernah semalu ini di depan seorang gadis yang tak jelas asal usulnya.
"Jorok!" cetus Daren.
Shaquenna yang terkekeh sangat menikmati sikap salah tingkah majikan nya itu yang jauh berbeda dari yang Shaquenna tahu selama kenal kemarin.
"Jadi, mau di buatkan tidak, Tuan?"
"Buatkan nasi goreng saja," titah Daren.
.
.
.
Mampus gue!!