
🍂🍂 Part 20 🍂🍂
"Nduuuuuut, anakmu mana sih Nduuuut, Daddy kangen Nduuuuuut, suruh pulang napa Nduuuuut," teriak Daddy Andra saat sarapan pagi.
Pangeran yang di teriaki seperti itu tepat di telinga kanan buru buru mengusapnya karna terasa langsung berdengung.
"Daddy apaaan sih? berisik tahu!" protes anak hasil pemerkosaan halal tersebut.
Tak hanya Tuan besar Bramasta, karna nyatanya papahnya sendiri pun merasakan hal yang sama, putri tunggalnya itu sulit sekali di hubungi, yang lebih parahnya lagi Shaquenna sering sekali menolak panggilan video callnya jika siang hari.
"Mbuuuuul--," lirih pria baya itu lagi, di banding yang lain ia yang paling uring uringan karna terasa sekali kehilangannya.
Rumah jelas menjadi sepi karna tak ada lagi rengek kan, gelak tawa dan tingkah si Mbul dalam waktu beberapa hari ini.
"Nanti aku coba ke rumah Sagara, Mbul masih di sana atau di rumah utama ya?" tanya Senja yang bingung sendiri, karna terakhir ia melakukan Video call Sepertinya itu bukan kamar Embun atau SyahRaa sebab ia sekilas pernah melihat kipas angin menggantung di dinding.
"Coba nanti di telpon lagi ya," sahut Pangeran pada istri tercinta.
Senja yang mengangguk ingin sekali di bisiki oleh Daddy Andra jika si Mbul tak ada di dua tempat yang di sebutkan oleh sang menantu barusan. Ingin sekali pria baya itu mengatakan juga jika anak tunggal pasangan Pengeran Senja kini sedang menjadi Pembantu Tajir untuk Tuan Muda Darren di sebuah Apartemen.
.
.
.
"Nul, nanti ke pasar ya," ucap Darren saat pembantunya itu sedang cuci piring.
"Ngapain?" tanya Shaquenna sambil menoleh.
"Belanja sayur, masa iya tidur," jawab Darren. Kadang, nada bicara pria itu tak seformal seperti majikan dan pembantu dan itu seringkali membuat Shaquenna senang sampai lupa dengan misi penyamarannya.
"Beli apa? susu sama buah masih ada," ucapnya yang membuta Darren mendengkus kesal.
"Iya, itu kan makananmu, memang Mama cukup cuma minum susu sama Buah?" tanya Darren, entah dari mana asal pembantunya itu yang jelas perasaan aneh seringkali terlintas di pikiran pria dewasa tersebut.
"Iya, terus mau beli apa ke pasar? gak ke swalayan aja?" tawar Si pembantu jadi jadian yang hanya sering mendengar tapi tak pernah menginjakkan kakinya di sana.
"Oh, iya, Tuan."
"Bisa bikinnya?" tanya pria itu lagi.
"Enggak!" jawaban singkat jelas padat yang langsung membuat sang majikan lemas.
"Kamu tuh bisanya apa sih, Nul? selain bikin Mama emosi!" Darren yang malas bicara langsung pergi ke ke kamarnya.
Sedangkan Shaquenna yang di tinggalkan mulai bertanduk karna tak. Terima dengan yang di katakan oleh pria incarannya.
"Enak aja bilang aku gak bisa apa apa, ini cuci piring bisa!" oceh Shaquenna yang nampak bangga karna baru bisa itu saja selama menjadi pembantu.
Baru juga ia selesai merapihkan meja makan, Darren kembali datang dan langsung berdiri di depannya dengan kedua tangan melipat di dada.
"Apa?" tanya Shaquenna.
"Ayo kepasar, kamu lupa?"
"Enggak, cuma pura pura gak inget aja," jawab Shaquenna yang kesal karna ia tak ingin ke pasar apalagi hari beranjak siang.
"Cepat, saya tunggu 5 menit!"
"Hem" Shaquenna masuk kedalam kamarnya hanya untuk mengambil jaket dan masker, membayangkan baunya saja ia sudah mual apa lagi jikan benar benar ada disana.
Tak sampai 5 menit, keduanya keluar dari Unit Apartemen menuju parkiran mobil. Namun, saat keluar dari Lift Shaquenna langsung menunduk dan berjalan merapat pada Darren hingga pria itu bingung sendiri.
.
.
.
Mampus gue! abis ketemu bapaknya sekarang ada anaknya. Tuhan, bikin kedua mata Bapaknya MariMar kali ini siwer kunang kunang ya.....