
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Pembahasan tentang ranjang perawan berakhir saat tiba waktunya makan malam, semua kini sudah berkumpul di ruang makan tempat paling nikmat untuk memanjakan lidah dan perut. Tak ada yang tak enak makan di rumah utama apalagi jika Sang Nyonya Besar yang memasak langsung, tapi sayangnya akhir-akhir ia jarang terjun ke dapur kotor kecuali jika sedang benar-benar ingin atau saat suaminya memang mengizinkan.
"Terakhir makan disini kapan ya, aku lupa," bisik Pangeran sambil mengingat ingat tapi nyatanya tetap lupa.
"Ish, pasti udah lama banget lah," sahut Senja.
"Iya, dari jamannya aku ganteng," goda Pangeran lagi.
"terus sekarang jamannya apa?"
"Ganteng banget dong."
Senja mencibir, jika melihat Pangeran sekarang seperti tak jauh berbeda dengan Pangeran saat SMA dulu karna sikap dan tingkahnya yang pecicilan. Padahal saat bertemu kembali Senja merasa pria itu sudah jauh lebih dewasa tapi nyatanya malah balik ke setelan awal.
"Kalian mau menginap di sini?" tanya Appa Reza pada Cucu dan cucu mantunya yang sedari tadi sibuk berbisik berdua saja.
"Enggak, Appa. Kami pulang dulu," jawab Senja.
"Mertuamu memang sudah pulang?" tanya Pipih Langit yang tahu jika besannya sedang ada acara pertemuan di luar dengan Klien.
Senja menoleh kearah suaminya, sebab ia tak tahu kabar terakhir dari mertuanya tersebut.
"Sudah, Pih," jawab Pangeran.
Pipih Langit langsung tertawa dan itu membuat yang lain bingung serta keheranan sebab dari yang mereka dengar jawaban Pangeran tak terdengar lucu sama sekali melainkan sangat sopan.
"Ada apa sih, Pih?" tanya Mimih Cahaya yang penasaran.
"Kamu denger kan' kalau tadi aku cuma di panggil Papih? padahal selama ini selalu di sebut nya sebagai PiCaMer," kekeh Pipih Langit dan semua kini paham dan ikut tertawa.
Ucapan adalah doa, mungkin saat Pangeran memanggil Tuan Biantara kebetulan malaikat sedang lewat, di catatlah harapan tersebut untuk segera di kabulkan meski prosesnya cukup panjang dan berliku.
"Sekarang cukup Pipih aja, gak pake ribet," jawab Pangeran yang wajahnya merona menahan malu.
Bagaimana bisa tingkahnya 7 tahun lalu begitu konyol, padahal jelas ia di tolak terus menerus oleh Senja tapi memanggil Pipinya dengan sebuta PiCaMer dan itu juga yang ia lakukan pada Mimih Cahaya yang dulu begitu senang.
.
.
.
Usai makan malam bersama dengan perut yang sudah sangat kenyang, pasangan tersebut bergegas untuk pulang sebab tak ingin Mommy dan Daddynya menunggu lama di rumah. Pasangan itu tentu tak sabar juga menyambut anak dan menantu mereka untuk pertama kalinya.
"Kok aku deg degan ya, Ran?" ucap Senja sambil memegang dadanya.
"Kenapa? Mommy ku gak gigit kok," kata Pangeran, sudah jadi rahasia umum sepertinya jika menantu akan sedikit berdebar jika bertemu dengan ibu mertua apalagi seperti Senja yang tak kenal dekat.
"Bukan gitu, apa aku bisa menjadi menantu yang baik? aku saja tak yakin sudah jadi anak yang baik bagi Mimih dan Pipih, dan kini harus di hadapkan dengan Mommy Daddymu," jawab Senja yang semakin resah sebab perjalanan menuju tempat tinggal suaminya hampir sampai.
"Setiap ibu pasti bahagia melihat anaknya bahagia, jadi saat kamu bisa membahagiakanku, Mommy pasti menerima mu dengan baik," ujar Pangeran mencoba menenangkan.
Senja hanya tersenyum sambil mengangguk paham, ia menghargai apapun yang di katakan Pangeran meski nyatanya tetap gelisah.
.
.
.
Sampai di rumah orang-tua Mommy Viana, keduanya turun dari mobil yang kali ini di bawa sendiri oleh Pangeran. Mereka masuk kedalam rumah yang begitu banyak kenangan yang tak mudah di lupakan oleh semua penghuninya termasuk tentang Ayah yang sampai kini bagai mimpi buruk sebab pria itu pergi secara mendadak tanpa ada kata pamit untuk yang terakhir kalinya.
"Ayo, Sayang." Pangeran yang menggenggam tangan Senja ikut berhenti saat wanita itu menghentikan langkahnya secara mendadak.
"Aku takut, sumpah."
"Ada aku, yuk," ajak Pangeran lagi dan akhirnya Senja pun mengangguk.
Ini pertama kalinya ia datang ke rumah Pangeran, meski bertahun-tahun kenal tapi ia tak punya alasan untuk berkunjung, berbeda dengan suaminya yang sering datang ke kediaman Biantara bahkan ke rumah utama dengan segudang alasan yang kadang tak masuk akal.
"Assalamu'alaikum," ucap Pangeran dan Senja berbarengan sambil terus melangkah masuk, ruang tamu, tengah dan makan nampak sepi jadilah mereka kini melanjutkan langkah menuju lantai dua berharap Momny dan Daddy ada disana.
Dan benar saja, pasangan suami istri yang masih nampak harmonis itu sedang duduk di sofa depan TV sambil memeluk, jika dulu Pangeran sering merasa iri tentu tidak untuk sekarang sebab kini ia pun punya pasangan yang tepat untuk bermanja.
"Mom, Dadd--," panggil Pangeran.
"Eh, Ndut," jawab Daddy Andra dengan senyum lebarnya.
Senja yang mendengar hal tersebut langsung menoleh dengan cepat kearah suaminya, bagaimana pun panggilan itu aneh di telinganya mengingat postur tubuh Pangeran yang tinggi jauh dari kata gendut.
Mommy Viana yang peka langsung mencubit perut suaminya hingga pria itu meringis menahan sakit, bisa di hitung berapa kali Daddy Andra memanggil anaknya dengan nama yang baik dan benar. Padahal jelas Pangeran RaViandra Bramasta adalah nama yang ia pilih untuk putra tunggalnya tersebut.
"Maaf, Sayang. Aku lupa."
Pangeran yang merengut kesal langsung di goda oleh Daddy nya, ia malu sebab Senja tak pernah tahu akan hal tersebut berbeda dengan Putri yang sudah biasa mendengarnya.
"Kalian baru sampai? sudah makan malam belum?" tanya Mommy Viana mencoba mengalihkan rasa jengkel anaknya.
"Sudah, Mom." kali ini Senja yang menjawab, tentu ia harus ikut berbaur dengan keluarga suaminya dengan cepat.
"Ya sudah, tadinya Mommy mau pesan makan kalau kalian belum makan," balas Mommy Viana sambil mengusap punggung Sang menantu.
"Sudah kok, Mom. Mommy sendiri sudah makan belum? memang Pangeran gak bilang kalau kami akan makan malam bersama di rumah utama?" tanya balik Senja.
"Bilang, Mommy juga sudah makan tadi pakai telur dadar buatan Daddymu," jawab Mommy Viana, makanan sederhana yang paling ia sukai sebab di buat langsung oleh tangan suaminya.
Daddy Andra yang mendengar hal tersebut tentu langsung berbangga diri, padahal jelas Pangeran sedang mencibir kearahnya.
"Cih, dari jaman aku belum lahir bisanya bikin telor dadar doang," ledek Pangeran tak mau kalah seolah ingin balas dendam.
"Wah, baru datang udah jadi mode Anak Durhakim," sahut Daddy Andra yang gemas, perdebatan dua pria itu malah membuat para istri mereka terkekeh.
Senja bersyukur karna keluarga Bramasta sama hangatnya dengan keluarganya sendiri. Ia jadi tak canggung karna semua mengalir begitu saja, entah obrolannya maupun candaannya, Senja juga tak perlu pusing mencari bahan perbincangan karna kedua mertuanya cukup menyenangkan.
"Istirahatlah, sudah malam," ujar Mommy Viana saat tak terasa waktu sudah hampir tengah malam.
"Iya, Mom, kami ke kamar dulu ya," pamit Pangeran yang bangun dari duduk bersama istrinya.
Mommy dan Daddy hanya mengangguk sambil tersenyum, mereka merasa lega karena Pangeran terlihat sangat bahagia.
Cek lek
Pintu di buka oleh Si empunya kamar, Pangeran masuk dan di ikuti oleh Senja. Keduanya kini sudah berada di dalamnya dengan berdiri saling berhadapan.
"Maaf, kamarku kecil," ucap Pangeran mulai tak enak hati.
"Jangan bicara seperti itu, asal tak kehujanan dan kepanasan itu semua sudah termasuk layak, Ran."
"Bilang padaku jika tak betah ya, nanti kita cari rumah atau Apartemen untuk kita tinggal secara mandiri," pesan Pangeran yang malah di jawab gelengan kepala.
"Ini sudah cukup, asal ada kamu bersamaku," jawab Senja.
Bangunan ini adalah rumah peninggalan orang tua Mommy Viana. Sebagai anak tunggal tentu ia lah yang menjadi pewarisnya. Apalagi semenjak Bunda memilih pergi, beruntungnya Daddy Andra tak pernah mempermasalahkan dimana mereka tinggal padahal kediaman Bramasta bak istana yang kini hanya di tinggali oleh Daffa beserta anak dan istrinya tersebut. Bagi yang tahu siapa Andra Bramasta pasti lah merasa aneh karna pengusaha kaya raya sepertinya hanya tinggal di rumah berlantai dua di komplek perumahan biasa.
"Kita coba tinggal beberapa hari dulu di sini ya, aku hanya ingin kamu nyaman di istana yang aku berikan untukmu."
Senja hanya tersenyum simpul, suaminya yang anak tunggal tentu membuatnya tak tega jika harus mengambil Pangeran dari pelukan orang tuanya yang jelas terlihat teramat sayang tersebut.
Dan kini, malam yang kian larut membuat pasangan tersebut memilih untuk cepat tidur, walau tak ada yang di lakukan hari ini hanya seputar kumpul keluarga tapi rasanya tetap lain.
"Kita tidur, Sen?" tanya Pangeran saat tubuh keduanya sudah bersembunyi di balik selimut tebal.
"Hem, memang mau apa?"
"Gak Silaturahmi dulu sebentar?" goda pria yang sudah bertelanjang dada tersebut.
Senja yang sudah memeluk langsung mendongakkan wajahnya, ia tatap Pangeran yang tersenyum lalu menggelengkan kepala.
"Aku ngantuk," jawabnya kemudian.
"Tapi aku tegang, minta di lemesin, gimana dong?"
"Kamar mandi sana!" usir Senja memberi saran dan itu malah membuat Pangeran terkekeh lalu mengeratkan pelukan.
"Gak enak sekarang kalo di kamar mandi, gak kaya dulu," sahut Pangeran.
Ia yang seorang pria normal tentu punya hasrat, belum lagi saat Putri sering menggodanya sedangkan ia tak ingin melakukan apapun di luar batas. Dan itu ternyata berpengaruh untuk sekarang, setidaknya Pangeran tak merasa bersalah tak jadi menikahi mantan tunangannya tersebut karna tak pernah berbuat macam macam kecuali sebuah pelukan dan ciuman kening.
"Sombongnya, awas kalau aku gak ada dan kamu balik lagi ke kamar mandi ya," ucap Senja yang dengan kedua mata terpejam.
.
.
.
Memamg kamu mau kemana?