Pangeran Senja

Pangeran Senja
Pembantu TAJIR untuk TUAN MUDA


        🍂🍂 Part 10 🍂🍂


Shaquenna yang berada di kamarnya masih tak percaya, bahkan ia sendiri tak pernah sekali pun masuk kamar pembantu di rumah.


Jadi, untuk saat ini wajar ia merasa kaget karna tak pernah tahu dan melihat secara langsung.


"Ranjangnya kecil banget, ini sih gue bisa jatoh kalo tidur," ucapnya yang sadar diri.


Shaquenna yang lasak memang membutuhkan kasur yang besar seperti di kamarnya. Tapi bagaimana dengan sekarang?


"Kenapa gak pake AC sih? ternyata Daren itu pelit!" cetus Shaquenna yang kesal sendiri.


Ia yang duduk di tepi ranjang hanya bisa membuang napas kasar. Sesak rasanya berada di ruangan sempit seperti ini padahal pintunya terbuka lebar. Sedangkan ini semua di luar dari pemikiran awal. Shaquenna hanya membayangkan ingin dekat dengan Daren tanpa ingat apa saja tugas pembantu yang sebenarnya.


.


.


.


Sedang di kamar sang majikan, Daren yang memang kurang sehat memaksa untuk bisa tidur. Ia ingin melepaskan semua yang jadi beban pikirannya akhir akhir ini. Tapi, nyatanya tak semudah yang ia bayangkan, semakin di paksa terlelap ia smakin resah.


"Kenapa gak bisa tidur sih?!"


Daren bangun dan turun dari ranjang, kini ia sudah bergegas keluar dari kamar dan menuju dapur. Segelas jus buah rasanya akan begitu nikmat lewat dari tenggorok kan nya saat ini yang cukup lumayan kering.


"Ya ampun, gak ada stok buah ternyata," gumam Daren dengan buangan napas berat.


Ia yang kemarin kemarin pulang malam hari dari kantor memang sedikit tak memperhatikan isi lemari pendingin karna sampai Apartemen ia sudah dalam keadaan perut kenyang, ia hanya tinggal mandi dan istirahat saat sampai.


"Nul----, Minuuuuul," panggil Daren, sebenarnya ia malas menyebut nama itu karna rasanya aneh di dengar oleh telinganya sendiri, apalagi jika di dengar orang lain.


"Duh, pintunya terbuka," bathin sanh majikan, ia takut pembantunya itu sedang tidur atau apapun itu karna baginya kamar adalah area privasi.


"Nul--- , kamu lagi apa?" tanya Daren yang berdiri di samping pintu, ia tak berani dan sungkan jika harus di depan pintu yang terbuka, karna tak ada yang menjamin apa yang ada di depannya nanti pantas atau tidak di lihat olehnya, karna bagaimana pun ia adalah laki laki dewasa dan si Minul adalah gadis muda yang di sadari Daren memilki kulit yang begitu putih bersih.


Pembantu dan Majikan adalah sebutan dalam sebuah pekerjaan, tapi kenyataan nya mereka tetap manusia yang punya privasi masing-masing yaitu harus saling menghormati dan menghargai karna sadar kedua nya saling membutuhkan.


"Ya, Tuhan! gak di jawab juga. Apa dia tidur?" Daren yang kesal akhirnya mencoba untuk sekali lagi memanggi.


"Nuuul--- Minuuuuuuul," teriak Daren yang sengaja meninggikan suara nya berharap pembantunya itu keluar, karna menahan untuk berdiam diri seperti ini sangatlah sulit.


Sedangkan gadis di dalam sana masih asik duduk bersandar dengan earphone di telinganya, tapi ia kaget saat ada tangan yang sedang mengetuk pintu kamarnya itu.


"Waduh! siapa tuh?" Shaquenna yang kaget langsung terlonjak dan keluar.


"Tuan--"


"Kamu ini lagi ngapain sih? saya panggil panggil, Minul---, Nul, Minuuuuuul. Gak keluar keluar juga!" omel sang majikan dengan kesalnya sambil memperagakan lagi panggilannya barusan.


"Minul? siapa Minul?" tanya Shaquenna bingung.


"Kamu! MINUL," sentak Daren.


.


.


.


Ah iya, Lupa....