Pangeran Senja

Pangeran Senja
Cinta sebab terbiasa.


🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Cantik," bisik wanita paruh baya di telinga kanan Putri yang sedang melakukan Fitting gaun pengantin untuk ia pakai di acara resepsi malam pernikahannya nanti.


Ia adalah Iriana, ibu dari Putri yang tak lain adalah seorang dokter spesialis mata di salah satu rumah sakit ternama negeri ini, Putri yang seorang anak bungsu tentu di turuti segala inginnya termasuk saat ia ingin kuliah dan menetap jauh. Terlebih orang tuanya tahu siapa pria incaran anak mereka itu.


"Tentu, aku akan tampil sempurna saat resmi menyandang status Nona muda Bramasta," jawabnya berbangga diri.


Ibu Iriana yang tak kalah senangnya juga merasa sangat tak sabar ingin semua segera terlaksana, siapapun pasti berharap ingin berbesanan dengan keluarga kaya raya itu.


Jika biasanya ada saja yang ingin di rubah oleh Putri, tapi tidak untuk kali ini yang semua sudah sesuai seperti maunya. ijab Qabul yang tinggal hitungan hari itu memang sudah tak bisa membuatnya jadi banyak tingkah dan merajuk tak jelas.


Setelah semua beres, kini dua wanita itupun pulang dengan perasaan puas dan itu terlihat nampak jelas di wajah ibu dan anak tersebut.


"Kamu yakin mengundang wanita yang di cintai oleh Pangeran? apa tak takut jika acara pernikahan kalian nanti berantakan?" tanya Ibu Iriana yang sebenarnya khawatir dengan keputusan Putri.


"Pangeran sudah berjanji padaku, Bu. Ia cukup masih cinta tapi tak lagi mau menyapa dan itu kurasa sudah cukup sebagai pembuktian dia serius denganku," jawab wanita keras kepala itu.


Ibu Iriana bukan tak tahu, ia justru sering menenangkan amukan Putri jika sedang salah paham dengan Pangeran. Jadi tak salah jiwa ia begitu cemas takut acara nanti menjadi kacau karna anaknya tak bisa mengontrol emosi seperti yang sudah-sudah.


"Yakinkan hatimu lagi boleh? Pernikahan jika bisa tentu inginnya hanya satu kali seumur hidup, Nak. Apa kamu benar-benar siap hanya dapat raganya? karna Cinta sebab terbiasa nyatanya belum juga hadir untukmu."


"Tidak, Bu. Aku yakin setelah menikah nanti semua jauh lebih baik dari ini," sahutnya mencoba memenangkan sambil meraih tangan Sang ibu kandung.


Putri berharap, dengan status suami istri diantara mereka akan menambah keintiman keduanya, sebab meski 10 tahun dekat dan 7 tahun bersama pasangan itu tak pernah bersentuhan sama sekali termasuk berciuman. Dan dengan adanya pernikahan ini tentu semua akan halal bagi mereka. Dan anak akan jadi alasan paling kuat baginya untuk tetap mempertahankan Pangeran.


"Ibu hanya mendoakan, tapi tolong jaga sikapmu karna keluarga suami mu itu adalah orang terpandang dan kaya raya. Jangan pernah membuat malu namamu sendiri," pesan Ibu Iriana yang hanya di jawab anggukkan kepala oleh Putri.


.


.


Lain hal dengan Sang calon istri yang sibuk, Pangeran justru masih asik menikmati sisa waktunya. Ia tak pernah mau keluar rumah jika bukan urusan penting di satu pekan acara pernikahannya kelak. Ia tak ingin takdir lagi dan lagi mempertemukan ia dan Senja.


Ya, ia seolah sedang di permainankan oleh semesta yang terus saja menggoda hatinya yang masih ada nama wanita itu.


"Maaf," ucap lirih Pangeran yang kini sering menghabiskan waktu di tepi kolak ikan hias samping rumah.


"Maaf karna masih mencintaimu segila ini, meski tak lagi berharap kita akan bersama. Cinta yak harus memiliki, mungkin itu kalimat yang pantas untuk kita," tambahnya lagi sambil menarik napas dan di buangnya perlahan.


Dadanya sesak karena saat semua semakin serius, Senja hadir menawarkan Cinta yang ia damba selama ini. Sosoknya tepat meski datang di waktu yang salah.


Pangeran begitu banyak memiliki janji pada dirinya sendiri, termasuk tak lagi menyapa Senja saat bertemu. Tapi ada satu janji yang sulit untuk ia tepati yaitu antara melepaskan dan mengikhlaskan sebab keduanya berada di sisi yang berbeda.


Usaha untuk lepas dari bayangan Senja mungkin perlahan akan bisa ia lakukan, tapi untuk ikhlas?


.


.


Siapkah aku jika tahu ternyata ada pria yang melamarmu nanti?