Pangeran Senja

Pangeran Senja
Si Ndut


🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Memang kamu mau kemana?" tanya Pangeran bingung, ia harap ini bukan sebuah kode atau firasat yang kurang menyenangkan dalam pernikahan mereka yang masih dalam hitungan hari.


"Gak kemana-mana, mau tidur. Aku ngantuk," jawab Senja yang kembali memejamkan kedua matanya.


Pangeran yang menatap bidadari dunianya hanya mengangguk pelan, ia eratkan pelukannya seolah tak ingin wanita itu beranjak dari sisinya meski hanya sejengkal jauhnya.


Cukup ia menunggu 10 tahun, ia pastikan tak ada lagi yang namanya perpisahan setelah ini. Bisa gila dan hancur dunia seorang Pangeran jika saja ia di tinggalkan oleh Senjanya, yang bukan hanya sekedar istri tapi teman hidup hingga mereka mati nanti.


"Jangan pernah pergi ya, tetaplah bersamaku dalam proses pendewasaan kita. Aku sangat mencintaimu," bisik Pangeran yang lalu mencium kening Senja dan mulai ikut terlelap juga.


Gurauan yang di layangkan Sang istri barusan ternyata sampai ke alam bawah sadarnya, Pangeran sampai tak nyenyak hingga ia memilih bangun dan keluar menuju balkon kamarnya.


Ia yang tak pernah merokok hanya berdiri menatap langit yang terlihat begitu gelap karna memang cuaca sedikit mendung sore tadi tapi tak ada grimis maupun hujan yang turun.


Dulu, Pangeran sangat berharap jika Senja menjadi kekasihnya, namun Tuhan malah menjadi kan wanita itu istrinya. Dan sekarang ia tambah harapan tersebut dengan ingin menjadikan Senja ibu dari anak anaknya kelak.


"Maaf, aku selalu memaksa jika tentang Senja. Senjaku terlalu indah, Tuhan," ucapnya pelan sambil tersenyum.


Pangeran menoleh lalu membalikan badannya, ia nikmati tubuh Senja yang meringkuk di balik selimut tanpanya sekarang.


"Seindah dah seimut itu, bodoh sekali jika aku mengabaikannya," ujarnya lagi yang kemudian masuk.


Setelah mengunci pintu kaca dan menutup gorden, Pangeran naik kembali ke atas ranjang. Sama seperti istrinya ia juga bersembunyi di balik selimut mendekatkan kedua tubuh mereka untuk kembali memeluk.


"Malam ini kamu aman, Sayang. Tapi entah malah selanjutnya."


.


.


.


Pagi hari, Senja yang sudah berniat untuk tidak bangun siang langsung keluar kamar meski suaminya masih terlelap. Di rumah nya ia memang seorang Nona Muda tapi di sini ia tak lebih dari seorang istri dan menantu. Rumah yang tak sebesar kediaman Biantara hanya ada dua ART disana untuk membantu Mommy Viana.


"Mom--," panggil Senja saat melihat ibu mertuanya itu sedang membuat secangkir kopi yang mungkin untuk Daddy nya.


"Senja? sudah bangun, Nak?"


"Iya, Mom. Mommy lagi bikin sarapan?" tanya Senja mulai basa basi karna ada beberapa sayuran di atas meja.


"Iya, Daddy mu ingin sarapan nasi kuning sama ayam goreng," jawab Mommy sambil tersenyum.


"Tapi kok---, banyak banget?" tanya Senja lagi yang keheranan.


"Iya, buat sekalian di bagiin nanti pakai kotak makan, udah biasa kok setiap minggunya sebelum akhir pekan."


"Bukan, ke anak anak di jalan atau pedagang kecil yang keliling atau juga mangkal," jelas Mommy


Deg...


Kenapa keluarga suaminya mirip sekali dengan keluarga besarnya yang kerap sering berbagi pada orang-orang yang jauh lebih beruntung.


"Senja, kenapa?"


"Enggak kok, Mom. Cuma inget keluarga ku yang sama seperti Mommy dan Daddy," jawabnya penuh haru karna belum apa apa ia malah rindu.


"Kami memang banyak belajar dari keluargamu, terutama Rahardian, Sen."


Senja tersenyum, Appanya itu memang yang terbaik dalam hal berbagi yang tak hanya harta tapi juga kasih sayang pada semua keturunan nya, tapi tidak dengan cintanya yang cukup untuk istrinya seorang.


Senja yang meski tak pernah turun ke dapur akhirnya mengambil beberapa sayuran untuk ia kupas termasuk wortel dan kubis, ia potong satu persatu hingga selesai semua, apa yang ia lakukan tak terasa sama sekali sebab sambil mengobrol dengan Mommy.


"Mom, memang Pangeran di panggil Ndut ya?" tanya Senja yang penasaran tentang kejadian semalam.


"Hem, iya. Daddy nya yang panggil Ndut kira kira dari umur 6 bulanan," jawab mommy yang lupa lupa ingat kapan tepatnya Pangeran mengembang seperti donat.


"Kenapa? apa dulu ia gendut?"


"Bulat, Chubby dan sangat menggemaskan." Mommy pun akhirnya memperlihatkan beberapa foto putranya semasa balita.


Kedua mata Senja langsung terbuka lebar saat satu figura kini ada di tangannya.


"Ini Pangeran, Mom?"


"Iya, itu suamimu," jawab Mommy sambil terkekeh.


"Ya ampun, ini pipi atau Bakpao? lucu banget sih, Mom. Aku pengen gigit," ujarnya gemas padahal itu hanya sebuah Foto. Entah jika Pangeran kecil ada di atas pangkuan Senja, mungkin sudah habis ia cubiti.


"Iya, Pangeran memang segemuk itu saat kecil, lucu sekali memang. Tapi Mommy sempat takut jika ia tak bisa kurus. Dan nyatanya ia setampan ini saat dewasa," kata Mommy yang memang khawatir dengan tubuh putra semata wayangnya tersebut.


"Moga anak kami setampan dan selucu ini ya, Mom nantinya."


"Aamiin, Sayang. Kalian tak menundanya?" tanya Mommy yang baru ingat perihal ini.


.


.


.


Tunda gimana? siangnya SAH malamnya langsung Silaturahmi...