
🍂🍂 Part 25 🍂🍂
"Apa? kamu kenapa?" tanya Darren yang ikut kaget dan panik karna pembantu jadi jadiannya itu mengetuk pintu dengan cukup keras di tambah sambil beteriak juga.
"Aku di kejar kejar pop corn," jawab Shaquenna yang menutup wajahnya dengan tangan yang masih memegang spatula.
"Tukang pop corn maksudmu?" tanya Darren lagi, sebagai manusia WARAS tentu apa yang sedang terjadi di Apartemen nya tak pernah terlintas dalam otaknya.
"Bukaaaaaan! ayo liat tersangkanya!" jawab Shaquenna yang malah kesal sendiri karna majikan sementara nya itu tak paham dengan apa di ceritakan nya barusan.
Ia yang menarik tangan Darren langsung berjalan ke arah dapur, seolah benar-benar sedang mendapat serangan mereka pun melangkah dengan sangat pelan sambil mengendap endap layaknya tengah main perang perangan lalu merasa takut ketahuan oleh musuh.
"Hey! kalian sedang apa?" tanya Mama Darren yang ternyata lebih dulu pulang sebelum semua selesai di rapih kan.
"Mama--," sahut Darren.
Kedua mata wanita paruh baya itu langsung mendekat karna melihat tangan putra nya dan si pembantu jadi jadian masih saling menggenggam.
Plaaaak....
"Apa apaan ini? kamu buta nuntun anak saya?" teriak Mama yang sabarnya setipis rambut Cipung.
"Lah, kalau saya yang nuntun berarti Tuan Darren yang Buta, mana ada buta jalan duluan, ngusruk berdua dong?!" sahut Shaquenna
"Loh, kamu kenapa jadi ngatain saya, Nul?" tanya Darren yang langsung melayang kan protes.
"Eh, maaf, Tuan. Saya cuma meluruskan yang bengkok dan letoy saja," jawab Shaquenna sambil cekikikan.
Apakah otaknya kini sedang terbang?
"Alah, ngomong apa sih kamu! cepet beresin nih dapur," titah Darren yang entah kenapa malu sendiri.
Untuk menghalau rasa aneh tersebut, ia menarik tangan Mama ke ruang tengah, ia biarkan pembantu nya itu membereskan kekacauan yang di perbuat nya itu seorang diri.
Pembantu putranya itu benar benar menguras emosi dan rasa sabarnya yang tak pernah ia rasakan selama jadi nyonya besar di keluarga Aldrich.
"Sabar, Mah. Tadi Minul cuma bawa Darren ke dapur kok buat liat--," jawab pria tampan itu.
"Liat dapurmu yang sekarang kaya kapal pecah, gitu?" potong Mama yang naik lagi nada bicaranya.
Darren hanya bisa menggaruk kepala nya yang tak gatal karna memang dapurnya kini bagai sudah sangat berantakan dengan popcorn yang berserak di lantai.
Entah kenapa, meski si Minul begitu sangat merepotkan tapi Darren tak pernah berniat memecat pembantunya itu, di tambah Mama juga sudah sering meminta hal tersebut.
"Ya sudah, Mama masuk kamar ya, biar Darren ke dapur dulu liat si Minul," titahnya yang di iyakan oleh Mama yang kepalanya kini sudah berdenyut hebat.
"Marahi dia, jangan kamu bantu bereskan dapur!" ancam Mama yang di iyakan oleh sang putra agar wanita itu tak lagi marah marah.
Saat memastikan Mama sudah masuk kamar, kini saat nya Darren menuju dapur, ia membuang napas kasar saat melihat Pembantunya itu sedang menyapu.
"Belum semua?" tanya Darren yang berada di belakang Shaquenna hingga gadis itu ter lonjak kaget sambil memutar badannya.
"Ya ampun, Tuan! ngagetin," katanya sambil mengusap dada.
"Maaf, kaget ya," kekeh Darren.
.
.
.
Bisa di ulang gak? kali aja yang ini saya pingsan....