
“Hantu? Apa yang kau katakan Maria? Mana ada hantu di rumah ini.” Seru Tias yang merasa anak nya ini mengada-ada.
“Betulan bu...!!” Ujar Maria ketakutan. Kilasan kejadian sebelum dia pingsan masih lekat di ingatannya. “Aku takut bu! Aku takut!!!” Maria terus menangis ketakutan. Dia takut hantu yang mendatanginya waktu itu kembali mendatanginya.
“Mungkin dia hanya bermimpi.” Ucap Sean, kepala pelayan di mansion itu.
“Tidak paman Sean!! Aku bersumpah aku melihat hantu. Ya,. Hantu wanita. Dia berjalan dari sana dan menembus tembok itu lalu duduk pas di dekat ku. Kemudian hantu wanita itu tersenyum. Sangat menakutkan sekali, paman! Aku mohon percaya lah pada ku!!” Maria terus meyakinkan semua orang.
“Aku rasa yang menyebabkan Yuni dan Lenna pingsan juga adalah dia..” Ujar Maria ingat kalau Yuni dan Lenna juga pingsan sebelum dia pingsan. “Ibu dan paman bisa menelpon keluarganya dan menanyakan hal itu.” Sebut Maria yakin.
“Kau jangan aneh-aneh Maria!! Mana mungkin aku atau pun paman Sean menelpon keluarga Yuni dan Lenna dan bertanya hal – hal tidak masuk akal seperti itu. Kalau memang mereka pingsan karena ada hantu di rumah ini, pasti mereka sudah menelpon kita terlebih dahulu. Tapi buktinya sampai saat ini mereka tidak ada menelpon kita untuk menanyakan hal itu. Tadi ibu mereka menelpon dan mengatakan kalau kedua anak itu hanya terlalu banyak minum maka mereka pingsan di sini.” Tukas ibu nya Maria.
“Minum? Kami bahkan tidak minum atau makan apapun, bu! Percaya lah pada ku!!” Teriak Maria frustasi.
“Sudahlah.. sebaiknya kau tenangkan diri mu Maria. Dan beristirahatlah. Aku akan meminta dokter untuk memeriksa keadaan mu kembali.” Ujar paman Sean.
“Benar yang dikatakan oleh paman Sean, Maria! Beristirahatlah.” Sebut sang ibu Maria yang mendukung perkataan kepala pelayan kediaman itu.
“Sebaiknya kita semua keluar agar Maria bisa beristirahat.” Ucap pama Sean dan membawa semua orang termasuk ibu Maria untuk keluar.
“Apa kau sudah puas?” Tanya Aether yang tiba-tiba muncul di belakang Mia yang sedari tadi ada di atas lemari boneka milik Maria.
“Astaga!!!” Ujar Mia sambil menampol wajah Aether yang bisa-bisa muncul di dinding itu.
Ya, saat ini hanya kepala nya Aether saja yang ada di belakang Mia. Entah di mana tubuh malaikat pencabut nyawa itu kini berada.
Tapi syukur nya Aether dengan cepat menarik kepalanya sehingga Mia tidak bisa menampolnya.
“Kenapa kau selalu menakuti ku Aether???” Tanya Mia geram. Rasa nya dia ingin menampol wajah Aether itu sekali itu.
“Dan kenapa juga kau masih saja terkejut dengan kedatangan ku.” Ucap Aether dengan wajah tak berdosanya. “Huft!! Dasar!! Kalau menakuti orang lain saja kau berani, giliran kau yang ditakut-takuti eh malah marah-marah...” Seru Aether dengan nada mengejek.
"Ya beda kasus kali pak."Sebut Mia asal.
"Tapi aku penasaran Mia. Bagaimana caranya kau membuat kedua teman Maria tutup mulut?" tanya Aether yang tadi mendengar kalau kedua teman Maria tidak menceritakan hal yang sebenarnya mereka alami hingga pingsan.
"Itu karena- Astaga Aether!! bisa tidak jangan mengejutkan ku! Bisa-bisa jantung ku jadi berdetak dan kembali hidup lagi kalau begini terus!" Gerutu Mia sebab ketika dia hendak menoleh ke belakang tempat dimana kepala Aether tadi muncul eh si Aether malah sudah duduk anteng disampingnya. Dalam hati Mia berkata, "Malaikat pencabut nyawa mah bebas... mau keluar dimana saja dan duduk dimana saja mah bebas!"