
Hai.. berikut adalah Novel baru kak UPe.. silahkan di baca kalau suka boleh singgah
"Sudah jangan perdulikan dia! Pria lumpuh tidak berguna seperti nya memang nya tahu apa soal perusahaan?!!" Ucap Fen merendahkan Tien Chen, anak dari mendiang kakak laki-laki nya. Tak lupa tawa mengejek nya juga ia lemparkan pada keponakannya yang lumpuh itu.
Tuan Tang hanya diam mendengar perkataan putri kedua nya itu. Keadaan cucu pertama nya yang bernama Tien Chen memang sering membuat Tuan Tang kesulitan dalam memutuskan segala hal. Baik itu yang berhubungn dengan keluarga atau pun perusahaan.
"Ayah! Tien itu tetap cucu ayah! Apa ayah kira Tien menginginkan kaki nya lumpuh seperti itu??" Sebut Li Wei ( putri ke tiga Tang Cuen Chen) pada sang ayah yang selalu saja menjadi ragu-ragu karena hasutan kakak Li Wei yang bernama Fen.
Tuan Tang kembali terdiam. Setelah itu dia memandang dua orang cucu nya yang duduk di sebelah kanan nya bergantian.
Tuan Tang menatap cucu kedua nya dengan tatapan puas. Pemuda yang bernama Xi-Wang terlihat tampan dan gagah, benar-benar menggambarkan laki-laki keluarga Tang. Dan yang paling penting dari itu semua adalah Xi-Wang adalah laki-laki yang sehat. Tidak cacat seperti Tien Chen, cucu pertama nya.
Tuan Tang lalu menarik dan menghelakan nafas nya perlahan. Kini mata nya tertuju pada cucu pertama keluarga Tang itu yang bernama Tien Chen. Wajah Tien Chen sama sekali tidak kurang sedikit pun ketampanan nya dari Xi-Wang, bahkan semua orang pasti setuju kalau wajah Tien Chen jauh lebih tampan dari pada wajah Xi-Wang. Satu -satu nya yang membuat Tien Chen kalah dari Xi-Wang adalah Tien Chen tidak dapat berjalan. Atau dengan kata lain, Tien Chen lumpuh.
Tuan Tang kembali menutup mata nya. Walaupun berat, tuan Tang tetap harus membuat sebuah keputusan.
“Aku telah membuat keputusan. Mulai hari ini, Jingmi bukan lagi tunangan dari Tien Chen. Sebab Jingmi akan aku nikahkan dengan Xi-Wang. Demikian pula untuk perusahaan, aku akan mengangkat Xi-Wang direktur baru perusahaan Tang Comp 7. Aku melakukan hal ini semua semata-mata demi keluarga Tang. Keluarga Tang tidak bisa dipimpin oleh seorang pemimpin yang untuk berjalan saja dia membutuhkan bantuan orang lain atau pun alat bantu alat seperti tongkat dan kursi roda.” Ujar Tuan Tang dengan suara yang lantang sambil melihat kearah Tien Chen yang tengah melihat ke arah Tuan Tang dengan wajah tanpa ekspresi.
“Aku harap kau dapat menerima keputusan ku ini Tien Chen! Walaupun kau adalah cucu laki-laki pertama keluarga Tang, tapi sangat sulit bagi ku untuk mempercayakan semua aset keluarga Tang pada mu. Kau boleh marah pada ku Tien Chen, tapi keputusan ku tetap tidak akan berubah. Jingmi sudah bukan calon istri mu lagi dan kau sudah bukan direktur Tang Comp 7.” Sebut tuan Tang, seolah -olah benar-benar telah membuang Tien Chen dari keluarga Tang.
“Aku rasa Tien Chen tidak perlu marah. Kalau benar dia adalah putra keluarga Tang, dia akan melakukan apapun yang terbaik untuk keluarga Tang.” Fen ikut-ikutan bicara padahal di forum ini dia sama sekali tidak ada hak untuk bicara.
Li Wei mendengus kesal.
Li Wei memang sudah sangat hapal dengan tingkah saudari nya itu dimana disetiap rapat keluarga, Fen pasti selalu saja menjatuhkan Tien Chen.
Ketika Tien Chen masih bisa berjalan dengan kedua kaki nya saja, Fen tidak ragu-ragu untuk menjatuhkan Tien Chen, apalagi saat ini. Dikala Tien Chen hanya bisa mengandalkan kursi roda nya untuk kemana-mana.
Li Wei memang sangat menyayangi keponakan nya itu. Apalagi semenjak Tang Bien Chen, kakak pertama mereka meninggal. Li Wei lah yang menjadi ibu sekaligus ayah untuk Tien Chen. Hati Li Wei sangat sakit setiap kali Tien Chen mendapatkan perlakukan yang tidak adil semenjak Tien Chen mengalami kecelakan.
“Ayah! Aku sungguh tidak paham dengan cara ayah berpikir! Oke! Kalau ayah menurunkan Tien dari direktur menjadi menjadi wakil direktur! Tapi kenapa ayah juga harus membatalkan pernikahan Tien dan Jingmi. Mereka sudah lama bersama !! Sudah lima tahun ayah! Sudah lima tahun Tien dan Jingmi bersama. Kenapa ayah tega memisahkan mereka!!” Li Wei mendengus kesal. Dia tidak habis pikir mengapa ayah nya bisa setega itu pada Tien Chen. Walaupun Tien Chen lumpuh, darah yang ada di dalam tubuh Tien Chen adalah keluarga Tang. Tidak seharusnya, Tien diperlakukan seperti ini.
“Bibi.. Li Wei,”
Jingmi yang sedari tadi diam dan mengamati rapat intern keluarga Tang, akhir nya angkat bicara.
Li Wei yang masih belum hilang rasa kesal dari ubun-ubun nya itu kini menoleh pada Jingmi. “Awas saja kalau ide busuk ini berasal dari nya. Seakan belum cukup anggota keluarga Tang mengkhianati Tien Chen, harus kah Jingmi, orang yang Tien Chen cintai sepenuh jiwa raga Tien Chen juga ikut menusuk nya dari belakang.” Tukas Li Wei dalam hati sambil menunggu Jingmi melanjutkan kata-kata Jingmi.
Jingmi melihat ke seluruh anggota keluarga Tang dan juga Tien Chen pasti nya. Baru lah setelah itu Jingmi melanjutkan kata-kata nya.”Keputusan untuk membatalkan pernikahan ku dan Tien, itu bukan lah keputusan kakek. Itu murni adalah keputusan ku bibi. Aku sebagai putri tertua keluarga Goh, tidak bisa hanya memikirkan hati ku saja bi. Aku harus bisa melihat jauh ke depan. Sesuatu yang tidak hanya aku pertimbangkan dengan hati ku tapi juga pikiran ku. Oleh karena itu lah aku memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan hubungan ku dengan Tien Chen. Dan bersedia menikah dengan Xi-Wang.” Ungkap Jingmi yang kini tidak lagi berani menatap Tien Chen.
Dan sama seperti sebelumnya, wajah Tien Chen tetap terlihat datar. Tidak ada ekspresi yang tergambar di wajah nya. Padahal hari ini dia sudah mendapatkan dua pukulan yang sangat luar biasa. Yang mungkin kalau orang lain yang menerima pukulan itu pasti sudah nyungsep ke tanah.
“Aku pernah mengatakan pada Tien Chen, kalau kau, Jingmi, bukan lah wanita yang tepat untuk nya. Tapi kau tahu apa jawaban yang keponakan ku berikan pada ku waktu itu?? Tien Chen mengatakan kalau memang seandainya kau (Jingmi) tidak layak maka aku lah yang akan membuat nya layak. Dan setelah Tien Chen membuat mu layak untuk berada di posisi itu, kau bagaikan kacang yang lupa pada petani nya. Bukan hanya sebatas lupa pada kulit nya. Cuih! Aku menyesal pernah menganggap mu pantas.” Li Wei bahkan sampai meludah ke lantai.
“Ayo Tien Chen! Kita tidak harus terus ada disini. Orang-orang ini membuat ku ingin muntah.” Ujar Li Wei terang-terangan. LI Wei bahkan tidak peduli jika ayah tersinggung dengan kata-kata nya.
Li Wei menarik kursi roda Tien Chen untuk membawa Tien Chen keluar dari orang-orang munafik yang berkedok keluarga.
“Tunggu dulu Li Wei.” Tahan Tuan Tang saat Li Wei akan mendorong kursi roda Tien Chen keluar dari ruang rapat keluarga Tang.
“Aku masih belum selesai Li Wei.” Ujar Tuan Tang. “Aku memang membatalkan pernikahan Tien Chen dan Jingmi. Tapi aku bukan lah kakek yang jahat yang tidak peduli sama sekali dengan cucu nya. Aku sudah mempersiapkan calon pengantin pengganti untuk Tien Chen. Dia adalah putri ke tiga keluarga Goh, nama nya Bao-Yu.” Ujar Tuan Tang.
Sekilas terlihat Tuan Tang menghela nafas yang benar-benar tipis sebelum akhirnya dia melanjutkan kata-kata nya. “ Tien Chen dan Bao-Yu akan menikah bersamaan dengan pernikahan Xi-Wang dan Jingmi. Aku tidak ingin ada penolakan akan hal ini. Pernikahan akan di laksanakan empat hari lagi. Aku tidak ingin kau menolak pernikahan ini Tien Chen.” Lanjut Tuan Tang.
“kau tidak perlu khawatir kakek, aku setuju dengan pernikahan yang kakek rancang untuk ku. Bi LI Wei, tolong antarkan aku ke kediaman ku.”ucap Tien Chen, dingin dan datar.
"Kau tidak apa-apa Tien Chen?" Tanya Li Wei ketika Tien Chen dan Li Wei sampai di kediaman Tien Chen.
"Aku baik-baik saja, bi. Bibi tenang saja." Jawab Tien Chen. "Kalau bibi tidak keberatan, aku ingin istrirahat sebentar." Lanjutnya.
"Tentu saja. Kalau kau butuh apa-apa, kau tinggal suruh pelayan mu memanggil ku di kediaman ku. Aku akan datang secepat kilat ke sini." Li Wei tersenyum pada Tien Chen. dan Seperti biasa, senyuman Li Wei selalu mengingat Tien Chen pada senyuman mendiang ayah nya yang merupakan kakak kandung Li Wei.
"Hm... Tentu saja." jawab Tien Chen sambil membalas senyuman Li Wei.
"Baiklah. Aku akan pergi dulu."
"Bi, tolong sampaikan pada Feng, untuk ke kamar ku."
"Baikah, akan aku panggilkan Feng."
Li Wei pun pamit untuk kembali ke kediaman nya yang tidak begitu jauh dari kediaman Tien Chen.
Kediaman keluarga Tang ini memang sangat unik dimana seluruh keluarga inti tinggal di lingkungan yang sama. Ya!! benar-benar dalam satu pagar besar.
Jadi kalau ingin dibayangkan, maka kediaman keluarga Tang ini mirip seperti lingkungan istanah China atau Korea Zaman dahulu kala.
Setiap anggota keluarga memiliki kediaman nya masing-masing tapi masih dalam satu area yang sama. Tien Chen dan keluarganya pun begitu.
Kediaman Li Wei ada di sebelah utara dan adik Li Wei yang paling bungsu yang merupakan bibi termuda Tien Chen, berada di sebelah selatan.
Tuan besar Tang memang sengaja mengumpulkan keluarga nya di satu tempat. Dengan alasan, beliau tidak perlu bersusah payah jika ingin bertemu dengan anak cucu nya.
"Tuan muda, kau memanggil ku?" Tanya Feng sambil menutup pintu.
"Kunci pintu nya Feng." Perintah Tien Chen sambil mengarahkan kursi roda nya ke meja panjang yang berada di bawah cermin besar di dalam kamar nya itu. Dan...
Sreeet...
Tien Chen mengangkat tepian meja itu dan mengangkat nya. Setelah meja besar itu terangkat, Tien Chen mengambil sebuah tongkat kayu yang ada di dal meja besar tersebut.
Ternyata meja besar itu adalah tempat Tuen Chen menyimpan sebuah tongkat kayu.
Tapi pertanyaan nya adalah, untuk apa tongkat kayu itu bagi Tien Chen?? Bukankah Tien Chen lumpuh dan tidak bisa berjalan sama sekali? lantas tongkat kayu itu untuk apa?
"Apa kau berencana menemui Mr.D, tuan Muda?" Tanya Feng yang langsung mengerti apa yang akan tuan Muda nya lakukan.
"Hmm.. kau benar Feng. Sudah aku pikirkan matang-matang tawaran dari Mr.D mengenai operasi itu. Aku akan melakukan operasi yang di sarankan oleh Mr.D pada ku." Jawab Tien Chen, lalu berusaha untuk berdiri dari kursi roda nya dengan kekuatan nya sendiri.
"Tuan Muda..?!!!" Teriak Feng panik saat tubuh Tien Chen hampir saja terjatuh.
Tapi Tien Chen dengan cepat mengangkat tangan nya, melarang Feng untuk menolong nya.
Ya, Tien Chen selama ini memang diam-diam sudah mengobati kaki nya ke seorang dokter misterius yang di kenalkan oleh sahabat nya Eagle Lou.
Kebetulan Eagle Lou adalah pengawal pribadi dokter misterius itu.
Namun proses nya sangat panjang dan menghabiskan banyak sekali waktu. Hampir satu tahun Tien Chen berobat pada Mr. D namun Tien Chen belum juga bisa berjalan normal.
Memang kalau di bandingkan dengan pengobatan di dokter-dokter lain, pengobatan dengan Mr. D ini lah yang terbaik.
Disaat semua dokter yang Tien Chen datangi memvonis Tien Chen tidak akan bisa berjalam alias lumpuh permanen, Mr.D dalam waktu kurun satu tahun sudah bisa membuat Tien Chen berdiri dan berjalan dengan tongkat.
Tapi itu saja pasti nya belum cukup bagi Tien Chen. Untuk kembali ke singgasana nya, yang barusan dirampas dari nya, hanya bisa berdiri dan berjalan dengan tongkat tidak lah cukup. Tien Chen harus bisa berjalan normal bahkan kalau perlu berlari untuk menunjukkan pada kakek nya dan seluruh anggota keluarga Tang kalau Tien Chen mampu menjadi penerus tuan besar Tang.
Itulah mengapa akhirnya Tien Chen menyetujui untuk melakukan prosedur operasi yang Mr.D telah sarankan sejak lama.
"Aku akan pergi selama tiga hari dan tugas mu adalah memastikan tidak ada orang luar yang masuk ke kediaman ku dan juga tidak ada orang dalam kediaman ini yang masuk ke dalam kamar ku. Aku ingin tidak ada yang tahu kepergian ku, Feng. Apa kau paham?"
"Aku paham tuan Muda." Jawab Feng sambil membungkuk.
Tien Chen pun berjalan ke arah rak buku yang ada di dinidng kamar nya yang bersebelahan dengan meja kayu besar tadi.
Ditariknya sebuah lampu hiasan dibagian ujung paling atas. Dan seketika itu juga rak buku itu bergeser sediki sehingga tercipta sebuah rongga kosong antar rak buku tadi dengan dinding kamar.
"Aku pergi dulu Feng. Lou sudah menunggu ku di pintu keluar rahasia. Aku percayakan semua yang ada disini pada mu." Ujar Tien Chen lalu membuka lebar pintu jalan keluar rahasia nya itu.
Kediaman Tien Chen memang berbeda dari kediaman yang lain nya. Terutama kamar yang Tien Chen tempati ini yang merupakan kamar mendiang ayah dan ibu nya.
Kamar ini dahulu nya dirancang oleh mendiang ayah Tien Chen sebagai kamar nya.
Kamar ini memang dilengkapi dengan pintu keluar rahasia yang mana jika kita ikuti jalan keluar nya akan membawa kita ke belakang buktit yang berada di belakang kediaman ayah Tien Chen.
Dan ayah Tien Chen lah yang mengetahui hal ini.
Namun setelah ayah dan ibu nya tiada, Tien Chen yang memutuskan untuk menempati kamar orang tua nya akhirnya tahu kalau di kamar orang tua nya terdapat sebuah pintu keluar rahasia dari kediaman mereka.
Pintu ini juga lah yang akhirnya selalu Tien Chen pergunakan untuk keluar dari kediaman keluarga Tang secara diam-diam.
"Kau siap Tien?" teriak Lou saat melihat Tien Chen muncul di dari pintu ruang rasia yang terhubung langsung dengan sebuah terowongan rahasia.
"Ternyata dia sudah menunggu dari tadi." Gumam Tien Chen tanpa menjawab pertanyaan Lou yang seperti nya sudah menunggu kedatangan Tien Chen di ujung mulut terowongan dengan mobil sports hitam nya, sedari tadi.
Tien Chen pun terus berjalan hingga dia sampai di mobi Lou. "Kalau aku tidak siap, tidak mungkin aku meminta mu datang menjemput ku tadi malam." Ujar Tien Chen.
"Bagus lah kalau begitu! Aku pun sudah tidak sabar untuk melihat mu kembali berjalan normal dan mengungkap konspirasi besar di balik kecelakaan mu beberapa tahun lalu. Setelah itu kita akan bayar lunas apa yang telah mereka lakukan pada mu." Uca Lou geram.
"Aku pun demikian. Tapi walaupun kaki ku nanti sudah bisa aku bawa berlari, aku akan tetap duduk di atas kursi roda ku agar musuh -musuh ku mengira aku sudah tamat. Terutama musuh-musuh yang berkedok keluarga." Tien Chen menajamkan pandangan nya ke depan.
Tekad nya sudah amat bulat saat ini. Resiko yang mungkin saja muncul bila operasi ini gagal tidak lagi mampu menggoyahkan Tien Chen. Dia siap saat ini untuk semua hal terburuk yang mungkin saja terjadi.
Yang penasaran cek di PIJO judul Suri Hati Tuan Muda Lumpuh