
BAB 14
"Huft aku sungguh sial bertemu dengan nya." Sungutnya sambil menendang udara di hadapannya.
Hantu perempuan tadi melayang keluar dari gedung itu entah dari lantai berapa sambil mengumpat tidak jelas.
“Jelas-jelas alamat kantor si malaikat maut itu di gedung ini! Tapi kenapa aku tidak bertemu dengan nya dan malah bertemu dengan manusia menyebalkan itu!! Seharusnya aku cek betul- betul si malaikat maut itu ngantor di lantai berapa!”
"heei... heeii.. Peggy.. Peegyyy.. Peggy!!!!" Panggil si setan berkepala plontos ketika melihat hantu wanita yang terlihat sangat kesal yang baru mendarat itu.
.
"Kau kenal dia?" tanya Mia pada si setan berkepala plontos.
"Tentu saja.. Dia juga teman Mia. " Si setan berkepala plontos berlari menghampiri hantu perempuan itu.
"Hei!! Aku memanggil mu! Kenapa kau tidak menjawab ku!!" Gerutu si setan berkepala plontos dengan muka masam pada teman nya itu.
"Aku dengar kau memanggil ku!! Tapi kalau aku berteleport langsung ke depan mu nanti kau tersinggung? Harga diri mu terasa di cabik- cabik sebagai setan baru! Jadi aku sengaja tidak langsung datang ke tempat mu!” jawab si setan perempuan yang bernama Peggy itu, penuh dengan sindiran.
" Mentang hantu senior!!" cibir Si setan Berkepala plontos.
"Siapa dia?" Tanya si hantu wanita, melihat ke arah Mia.
“ hehee.. sii aku kenalkan kalian."
"Peggy, kenalkan ini teman baru ku. Namanya Mia tapi bukan mamamia, hehehehe...” Tejo memperkenalkan Mia ke Peggu.
“Mia, kenalkan ini senior kita nama nya Peggy tapi bukan Peggi Melati Harum Mewangi Sepanjang Hari Bagai Warna Pelangi Mejikuhibiniu- STOP!” Mulut Tejo auto tertutup. Padahal dia tadi ingin meneruskan lelucon bapak-bapak nya itu.
“Dia tidak akan paham dengan lelucon mu! Lihat lah dia masih sangat muda! Beda angkatan mah ini cerita nya.
“Hehehe.. lupa.” Tejo pun tertawa sambil mengelus-ngelus kepala botak nya.
Peggy melihat Mia dari atas ke bawah lalu ke atas lagi. “Kenapa aura anak ini berbeda ya? Tapi apa yang buat beda ya?” Peggy juga mengendus aroma yang berbeda dari tubuh Mia. Sebuah aroma yang kuat tapi juga tipis. Tapi yang pasti itu bukan lah sejenis aroma kentut yang tidak terdeteksi.
"Kau baru mati?" Tanya Peggya.
"Entah lah aku tidak ingat apapun." jawab Mia. Karena memang fakta nya demikian. Mia memang tidak ingat apapun.
“Tidak ingat apapun? Bagaimana bisa?”
“Hmm.. cerita nya panjang Peggy! Mending kita mojok di sana sambil cerita! Kebetulan kami kesini memang untuk mencari mu! Kata setan pengkolan kau pergi ke gedung ini kemarin. Tapi btw anyway busway, kenapa kau terlihat kesal?" Tanya si setan berkepala plontos karena ingat raut wajah si hantu wanita yang suram pagi ini.
"Cerita nya panjang.” Jawab nya dengan wajah yang merungut sambil melihat ke atas gedung itu.
"Kalau begitu pas banget kalau kita cerita di atas pohon besar itu.” Timpal Tejo.
Mia auto melihat ke pohon beringin besar yang Tejo tunjuk sebagai tempat ngombrol santai mereka tapi permasalahan nya Mia sama sekali tidak bisa terbang. Tejo yang mati lebih dulu dari Mia mungkin saja bisa melompat ke atau memanjat cepat atau bagiamana lah cara nya yang pasti kalau Tejo ngajak ke atas pohon itu sudah pasti Tejo bisa ke atas pohon itu.
Tapi Mia? Hmm sudah pasti dia tidak bisa.
"Ups! Maaf aku lupa kau baru jadi hantu." Jawab Tejo. "Kalau begitu ayo kita duduk disana saja."
Ketiga hantu itu pun berjalan menuju bangku taman yang tak jauh dari gedung tempat Peggya baru saja keluar.
"Peggy, jadi apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya si setan berkepala plontos bersemangat.
"Nasib ku sial sekali semalam." Si hantu wanita menekuk wajah nya.” Niat hati semalam aku mau mencari malaikat mau untuk menuntut keadilan atas kematian ku yang sampai saat ini tidak terungkap sedang kan para pembunuh yang membunuh diri ku bebar berkeliaran kesana kemari dan kelihatan nya mereka hidup dengan layak.” Peggy menendang nendang udara denagn kaki nya untuk menyalurkan rasa kesal nya yang tak berkesudahan itu.
“Menurut info yang aku dapat serta kartu nama malaikat maut yang di berikan oleh setan pengkolan, kantor si malaikat maut ada di dalam gedung itu. Maka nya aku ke sana.” Peggy diam untuk sesaat lalu memulai lagi cerita nya.
“Masuklah diri ku ke dalam gedung itu. Sesuai dengan yang tertera di kartu nama itu, malaikat maut hari kemarin beroperasi tengah malam. Maka nya aku tengah malam datang ke sana. Hanya saja puas aku mencari nya, aku tidak juga menjumpai yang mana satu kantor si malaikat maut! Akhirnya karena sudah lelah mencari aku pun masuk ke dalam salah satu ruangan yang dari luar aura nya sangat berbeda. Aku sempat berpikir apa itu kali ya ruangan nya si malaikat maut.” Peggy berhenti kembali, lalu memperhatikan wajah Tejo dan Mia yang terlihat serius mendengar nya.
“lalu?” Tanya Tejo tidak sabaran.
“Ketika aku masuk, aku tidak melihat apa-apa di ruangan itu selain dua orang manusia. Yang satu sedang duduk di sofa dan yang satu lagi sedang duduk di sebuah meja kerja. Lalu keusilan ku muncul. Apalagi saat aku menyadari salah satu dari mereka dapat melihat ku.” Lanjut Peggy.
“Si Indigo.......” Seru Tejo dan Mia berbarengan. Raut wajah mereka berdua pun terlihat bahagia saat tahu si Peggy berjumpa dengan orang indigo yang sedang mereka cari-cari.
“kalau begini kita tidak perlu bertanya langsung ke malaikat mau Mia! Kita minta tolong anak indigo itu saja.” Sela Tejo.
“boleh juga.” Sahut Mia.
“Kalian berdua ini ingin mendengar cerita ku tidak? kalau tidak aku pergi nih!” ujar si Peggy keki.
“hehehe sorry!” jawab Tejo nyengir.”Lanjut bosque.”
“sampai mana tadi? Aku kan jadi lupa karena kalian.” Dengus Peggy kesal.
“Sampai, Apalagi saat aku menyadari salah satu dari mereka dapat melihat ku.” Mia mengulang persis kalimat terakhir yang Peggy ucapkan.
“Nah, aku mulai tu gangguin mereka dengan maksud hati ingin mengajak si anak Indigo kenalan tapi kalian tahu apa yang dia lakukan pada ku?” Nada suara Peggy mendadak penuh misteri membuat Tejo dan Mia tanpa sadar mendekatkan wajah nya ke peggy.
“Pria itu membanting diri ku! Aku di lempar kesana kemari!” Lanjut Peggy merasa merinding mengingat bagaimana Skala menghajar nya tadi malam.
“Kalau mengingat kejadian semalam sumpah aku merasa sangat takut! Saking takut nya aku bisa merasakan bulu roma ku berdiri? Padahalkan biasanya aku yang bikin orang takut tapi tadi malam ORANG I mean manusia gitu lho yang berhasil membuat ku takut!” lagi-lagi Peggy bergidik ngeri persis seperti manusia.
“Lho kok bisa? Kenapa kau tidak melawan? Harus nya kau banting balik dia!” sela Mia yang masih belum paham dengan situasi sebenarnya yang dihadapi oleh Peggy.
"Aku tidak bisa membanting nya Mia! Jangan kan membantingnya, aku yang sudah jadi hantu lima puluh tahun lebih ini bahkan tidak bisa menyentuhnya sama sekali!! Dia lebih mengerikan dari pada malaikat maut. Paling tidak malaikat maut masih bisa kau pegang dengan tangan mu. Tapi laki-laki ini, kau tidak bisa berbuat apapun! Aku bahkan merasa dia bahkan bisa menghancurkan arwah mu hingga tak bersisa."ucap Peggy sambil berbisik dan melihat sekeliling nya.
Mereka bertiga menelan saliva mereka yang mungkin saja sebenarnya tidak mereka miliki karena mereka sebenarnya hanya sebatas arwah. Tapi kebiasaan selama hidup sungguh sulit untuk dihilangkan walaupun sudah tak hidup lagi.
"kalau kalian sayang dengan diri kalian maka menjauh lah dari gedung itu." Saran Peggy pada Tejo dan Mia. “Entah kalian ingin mencari malaikat maut di dalam sana atau si anak indigo itu, aku saran kan kalian jangan kesana.”
Mia dan si setan berkepala plontos saling berpandangan. Bukankah pria ini yang sedang mereka cari. Tapi dari cerita si peggy jangan kan untuk berbicara dengan nya, takutnya hanya dengan mendekatinya saja arwah mereka sudah keburu dikirim ke alam baka.
"Sungguh pilihan yang sulit." Gumam Mia dalam hati.