My Little Secret

My Little Secret
#17


FLAH BACK OFF


“Begitu lah Mia. Jadi pada umum nya yang masih berkeliaran di dunia ini adalah arwah-arwah yang masih belum bisa melepaskan dendam masa lalu nya. Kau ingat dengan setan kuntilanak baju merah yang selalu ada di pengkolan? Yang gendong bayi itu? Nah dia juga mati akibat di bunuh oleh seseorang.” Si Tejo malah ngajak Mia ngerumpi.


“Setan wanita yang rambut panjang? Yang tiap jam 3 pagi cekikin bikin bulu kuduk berdiri itu?” Mia merapatkan duduk nya ke samping Tejo.


“Benar! Yang itu.” Jawab Tejo.


“kalau setan baju merah itu apa gimana cerita nya?” Mia pun malah jadi kepo tingkat tinggi saat ini tentang kisah si setan baju merah yang ada di pengkolan.


“Kalau menurut cerita nya si setan baju merah, dia sudah mati sejak 15 tahun ketika ia akan melakukan aborsi atas perintah pacarnya. Nama setan perempuan itu Bunga. Bunga mengatakan bahwa dia dulunya ada seorang sekretaris di sebuah perusahaan besar. Lalu dia pacaran dengan bos nya. Dan ya seperti di sinetron-sinetron Bunga pun hamil. Sayangnya keluarga si cowok tidak mau menerima Bunga meski saat itu Bunga sedang mengandung darah daging keluarga itu.” Si Tejo meluruskan kaki nya sambil bercerita tentang kisah si setan baju merah itu.


“Pada saat itu, harapan si Bunga hanyalah sang pacar, yang juga adalah bos nya di kantor. Besar harapan Bunga bahwa laki-laki itu akan bertanggung jawab dan menikahi nya. Jadi mereka berdua bisa membesarkan anak mereka bersama-sama.” Tejo kembali berhenti bercerita sepertinya dia merasa iba dengan nasib yang menimpa temannya itu.


“Lalu apa yang terjadi?” tanya Mia jadi tidak sabaran. Cerita-cerita seperti ini memang buat orang menjadi sangat penasaran.. hehehe.


Sambil geleng-geleng kepala Tejo melanjutkan ceritanya,”apa menurut mu seorang anak orang kaya seperti bosnya Bunga itu sanggup untuk melepaskan semua harta kekayaan yang diberikan oleh keluarga hanya untuk memilih hidup susah bersama Bunga dan anak mereka? Tidak Mia, dalam sinetron Indosiram yang aku tonton saja tidak pernah ada film dengan genre yang sama seperti itu akan berakhir happy ending. Apalgi di dunia nyata, huft sebaiknya jangan bermimpi terlalu tinggi.” Ujar Tejo.


“Itu biasanya hanya ada dalam series drama cina atau korea. Kalau di Indonesia mah mau pilem mau dunia nyata kagak akan pernah kejadian yang kayak begituan, beeeuh! Kalau si cewek gak di timpuk dengan duit tapi cara yang kasar atau pasti bakalan dihabisi..” Seru Tejo sekali lagi.


“Demikian pula hal nya dengan Bunga, ending yang membahagiakan yang dikiranya akan menghampirinya ternyata tidak kunjung datang bahkan hingga usia kandungannya berusia 5 bulan. Si laki-laki bang*sat itu hanya meminta nya untuk menunggu dan menunggu hingga akhirnya suatu saat si lelaki jahan*am itu datang dan meminta Bunga untuk melakukan aborsi padahal janin nya yang sudah masuk usia 5 bulan itu. Apa kau tahu betapa bahaya nya melakukan aborsi saat usia kandungan sudah mulai besar seperti itu?” Tejo geleng-geleng kepala saking kesalnya mengingat kejadian yang menimpa Bunga.


Mia yang tidak mengerti apa-apa ini pun ikut menggeleng sambil memasang muka penuh ekspresi penasaran akan kelanjutan cerita selanjutnya.


“Lalu dia setuju?” tanya Mia penasaran padahal seharusnya Mia tidak perlu menanyakan hal itu. Toh saat ini Bunga sudah meninggal itu kan artinya dia setuju dengan ide gila pacar nya itu. Tapi sayangnya kecerdasan otak Mia kadang sering telat datang nya sehingga pertanyaan itu lebih dulu meluncur dari mulut nya ketimbang pemikiran logis barusan


“Kalau dia tidak setuju maka tidak mungkin dia jadi hantu seperti saat ini. Pasti saat ini dia sedang masak dan nyuci piring di rumah.” Jawab si Tejo emosi mendengar pertanyaan Mia yang bodoh itu.


“ye.. map kalau telat mikirnya!” gumam Mia, sewot.


“aku lanjut ape kagak nih!!” Seru si Tejo.


“Iya lanjutlah!!” jawab Mia. “Sudah jelas cerita nanggung gitu masa berhenti.” Sewot Mia.


“Karena rasa cintanya yang besar pada si laki-laki maka Bunga pun setuju untuk melakukan Aborsi. Jangan kau kira dia tidak sayang dengan anak yang dikandung hanya saja si laki-laki mengatakan bahwa jika Bunga tidak mau mengugurkan kandungannya maka dia akan memutuskan Bunga dan memecatnya dari pekerjaannya. Sungguh laki-laki br*ngsek!!” maki si Tejo diakhir kalimatnya.


“Singkat cerita mereka akhirnya pergi ke sebuah praktik aborsi dan disanalah akhirnya Bunga menghembuskan nafas terakhirnya. Dia mati bersama anak yang ada di dalam perut nya. Dan laki-laki ini, memang lah tipikal laki-laki dalam sinetron azab indosiram . Bukannya menguburkan jasad Bunga dan anak mereka dengan layak eh dia bekerjasama dengan si pengarbosi membuang jasad Bunga dan anak mereka ke suatu lembah yang jarang ada orang datang kesana. Itu lah sebab nya tidak ada juga yang tahu bahwa Bunga telah meninggal bahkan setelah 15 tahun berlalu jasadnya masih ada di lembah itu dan belum disemayamkan dengan layak hingga saat ini.” Si Tejo mengakhiri cerita.


“Waduh sedih banget kisahnya mbak Bunga ya?” ujar Mia yang benar-benar merasa sedih setelah tahu alasan kematian Bunga.


Ya walaupun perbuatan Bunga dengan bos nya itu juga termasuk tidak baik tapi tetap saja ini sungguh berakhir dengan tragis.


“jadi kita mau ngapain nih sambil nungguin jam empat? Tanya Mia pada si Tejo, sengaja mengalihkan topik pembicaraan mereka.


Jangan sampai Tejo cerita kisah setiap hantu yang pernah Tejo temui. Bisa keburu kiamat baru mereka selesai edisi cerita sahabat ini.