
"Ini kamar mu.!" Ucap Skala setelah membukakan pintu salah satu kamar yang ada di dalam apartemen nya.
"Terima kasih, tuan."
Radit pun masuk ke kamar yang besar itu setelah Skala pergi meninggalkan nya.. di lemparkan nya pandangan nya ke seleruh bagian kamar.
“Kamar ini memang terang benderang, tapi mengapa bulu kuduk ku kembali berdiri ya?” Perasaan radit jadi tidak enak, diusapnya tengkuknya sambil berjalan masuk lebih dalam ke dalam kamar itu.
Tiba-tiba....
"Teng!! Teng!!! Teng!!!
Radit terloncat kaget ketika mendengar bunyi dentang jam yang menunjukkan pukul 00.00 dini hari. Ia spontan berpegang pada tiang tempat tidur. Di usapnya kasar wajah nya. " Apa aku salah membuat keputusan?" Ujarnya mulai menyesali keputusannya untuk menginap malam ini di tempat Skala.
Radit menarik nafas dan melepaskan nya dengan sangat pelan. "Tenang Radit! Itu semua hanya ketakutan mu, kau hanya cukup berpikir hal yang lucu-lucu!" Radit mencoba memberi asupaan aura positif pada pikirannya.
Radit membuka bajunya dan melihat apakah ada baju kaos di lemari yang dapat dipakainya malam itu. Radit membuka lemari putih besar dengan model yang sangat kuno itu. Ketika Radit ingin membuka lemari itu, kelebat bayangan terlihat berlari dari cermin yang ada di lemari itu. Radit segera memalingkan wajahnya ke belakang, namun dia tidak melihat apapun. "Ayo lah Radit!! Itu hanya hayalan mu karena terlalu lelah hari ini."
Radit membuka lemari itu dan... "Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkk!!! Teriak Radit, kemudian jatuh pingsan setelah ia melihat sosok pocong di dalam lemari itu.
Teriakan Radit terdengar oleh Skala yang berada satu lantai di atas kamar Radit. Dia sengaja menempatkan Radit di kamar itu, agar dia dengan mudah dapat memantau keadaan asistennya itu.
"Huft! Aether pasti menyuruh anak buah nya mengerjai Radit." Seru Skala, dan menuju kamar Radit.
Dengan kunci serep yang ada di tangan nya, Skala pun membuka pintu kamar Radit. Dan begitu pintu itu terbuka.......
“Sudah ku duga!!” gumam Skala dengan suara pelan dan satu alis mata terangkat.
“ini pasti ulah kalian!!” Seru nya geleng- geleng kepala melihat pemandangan yang disuguhkan pada nya.
Sakla hanya bisa menarik nafas dalam-dalam dan menghela nya kasar. Ini bukan lah pertama kali ini Aether menyuruh anak buah nya menakut-nakuti tamu nya.
.☘️
☘️
☘️
☘️
☘️
Pagi ini suasana apartemen Skala terlihat tenang. Hanya terdengar suara sedikit bunyi-bunyian di dapur karena memang saat ini Skala sedang memasak sarapan sederhana untuk diri nya dan Radit. Bagaimana pun Radit adalah tamu nya saat ini. Jadi paling tidak setelah pengalaman horor Radit tadi malam, Skala harus bisa memberikan Radit sedikit ketenangan.
"Kau sudah bangun?" Sapa Skala pada Radit yang terlihat linglung pagi ini.
"Tidur mu pasti sangat nyenyak hingga jam segini baru bangun." Ucap Skala, sambil meletakan sepiring nasi goreng untuk Radit.
“Padahal adanya banyak hal yang harus aku persiapkan pagi ini dan semua nya tertunda karena ulah si Aether dan para anak buah nya semalam.
"Hemm... Pak, boleh kah aku bertanya sesuatu?" Radit menarik kursi di sebelah Skala, lalu duduk. Radit melirik ke kiri dan ke kanan. "Sudah lama kau tinggal di apartemen ini, Pak?" Lanjut Radit, bertanya pada Skala yang kini tengah asik menikmati sarapan paginya.
"Hemm... " Jawab Skala singkat lalu meletakkan nasi goreng untuk diri na sendiri.
Radit kembali melemparkan pandangan nya ke seluruh ruangan itu. Lalu dia menelan saliva nya. "Pak, semalam hhmmmmm." Radit terlihat ragu-ragu untuk melanjutkan
🤭🤭🤭
tenang bestieee...udah pagi ini mah..😂😂