Legenda Raja Kultivator

Legenda Raja Kultivator
Chapter. 067: Imbalan Buronan


Xiao Chen langsung mencabut kulit palsu dari kepala tiga bandit itu, ia kemudian membakar kulit kepala palsu tersebut sampai menjadi abu lalu menunduk ke arah bawah.


"Haruskah aku membawa tubuh mereka juga?" Pikir Xiao Chen sebelum menghilang dari atas atap.


Xiao Chen kembali muncul di dekat ketiga mayat bandit tanpa kepala itu, ia melambaikan tangan kirinya ke samping dan seketika mayat dari ketiga bandit menghilang tanpa jejak.


Xiao Chen juga menyimpan kepala-kepala bandit yang masih tertancap di pedang Dragon-nya, lalu menghilang dari gang tersebut.


Beberapa menit kemudian, kelompok Ning Hua muncul di gang sepi tersebut. Ketika berada di tengah jalan, wanita cantik itu langsung berhenti karena samar-samar mencium bau darah.


Ru Han yang berada di samping Ning Hua langsung bertanya, "Ada apa, nona?"


Ning Hua terdiam sejenak sebelum menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak ada... Aku pikir tadi mencium sesuatu yang busuk." Jawabnya lalu kembali melangkahkan kakinya.


Ru Han merasa ada yang sedikit aneh, tetapi dia tidak berpikir lebih jauh dan menuntut anak-anak untuk kembali berjalan.


***


Gedung Keamanan, kota Berlian bagian luar.


Xiao Chen saat ini sedang berdiri di depan sebuah gedung megah berlantai dua, "Hm... Semoga saja aku bisa menebus kepala dari tiga bandit itu di sini." Gumamnya lalu berjalan memasuki gedung.


Di dalam, ada banyak sekali orang yang berlalu-lalang dan kebanyakan dari mereka adalah kultivator yang basis kultivasinya berada di ranah Qi Foundation sampai Nascent Soul.


Xiao Chen kemudian mendekati salah satu meja administrasi yang sedang dijaga oleh seorang pria paruh baya.


Kedatangan Xiao Chen disadari oleh pria paruh baya itu. Dia langsung menyambut anak muda yang baru datang dan menanyakan alasannya kemari.


"Aku ingin menyerahkan mayat buronan. Apa bisa?" Tanya Xiao Chen sembari duduk di kursi yang sudah disediakan.


"Oh! Tentu saja bisa, tuan. Memangnya, buronan mana yang telah anda bunuh?"


"Bandit Kalajengking Darah..." Jawab Xiao Chen cepat.


Jawaban yang dilontarkan oleh Xiao Chen membuat pria paruh baya itu terkejut, tidak terkecuali dengan orang-orang di sekitarnya.


"A-anda berhasil membunuh mereka? Apa anda yakin dengan itu?" Tanya pria paruh baya itu memastikan.


Xiao Chen mengangguk, "Aku sangat yakin. Haruskah aku mengeluarkan mayatnya di sini?"


"Tidak. Tidak perlu, tuan. Itu akan membuat situasi yang merepotkan, lebih baik anda mengeluarkannya di sebuah ruangan khusus..." Jawab pria paruh baya itu cepat, lalu menuntun Xiao Chen ke ruangan yang dia maksud.


Pria paruh baya itu juga membawa dua penjaga di ranah Golden Core untuk berjaga-jaga, ia takut ini adalah bagian dari rencana Xiao Chen untuk melakukan suatu kejahatan.


***


Ruangan tertutup yang tidak terlalu luas.


Pria paruh baya itu memperkenalkan diri sebagai Ting Mao, dia adalah pegawai yang sudah bekerja selama puluhan tahun di gedung keamanan kota Berlian.


"Tuan Xiao, silahkan anda mengeluarkan bandit bersaudara itu..." Ting Mao tersenyum ketika mengatakannya.


Xiao Chen sendiri mengangguk, ia melambaikan tangan kanannya ke samping dan tiga mayat tanpa kepala muncul di lantai.


Setelah itu, Xiao Chen juga mengeluarkan kepala mereka yang masih tersimpan di cincin penyimpanan.


Ting Mao yang melihat itu semua tidak mengatakan apa-apa, ia mulai memeriksa identitas dari ketiga mayat itu untuk memastikan apakah mereka bandit Kalajengking Darah atau bukan.


Sedangkan dua penjaga Golden Core tidak bergerak sedikitpun, mereka berdua bersiaga sambil mengawasi Xiao Chen diam-diam.


Xiao Chen tentu mengetahuinya, ia sebenarnya merasa sedikit tersinggung atas sikap yang mereka lakukan, tetapi sekarang dirinya terlalu malas untuk membuat keributan sepele.


Xiao Chen mengangguk paham dan menjawab, "Baik."


Sebelum keluar dari ruangan itu, Ting Mao menyuruh kedua penjaga di sana untuk membawa ketiga mayat bandit ke tempat yang sudah disiapkan.


Kedua penjaga di ranah Golden Core itu langsung mengiyakan perintah Ting Mao.


***


Di salah satu meja Administrasi.


Ting Mao kini sedang memegang sebuah peti kecil berwarna coklat tua, "Ini adalah imbalan untuk anda karena sudah membawa mayat dari bandit Kalajengking Darah. Semuanya berjumlah 15 ribu koin emas... Sebenarnya ada hadiah tambahan untuk ini, tetapi itu bisa didapatkan jika tuan Xiao membawa mereka hidup-hidup."


"Ah, benarkah?" Xiao Chen sedikit terkejut ketika mendengar itu, "Memangnya berapa hadiah tambahannya?"


"Lima ribu koin emas, tuan." Jawab Ting Mao cepat.


Xiao Chen sedikit melebarkan mata sebelum menghela nafas panjang, "Sial sekali... Rasanya aku baru saja membuang lima ribu koin emas secara cuma-cuma." Ucap Xiao Chen dengan nada menyesal, lalu mengambil peti kecil itu dari tangan pria paruh baya di depannya, "Kalau begitu saya pergi dulu, tuan Ting Mao."


Xiao Chen berbalik, disaat yang bersamaan ia menyimpan peti kecil di tangannya ke cincin penyimpanan.


"Ngomong-ngomong, dimana anda bertemu dengan bandit Kalajengking Darah, tuan Xiao?" Tanya Ting Mao penasaran.


Tanpa berbalik Xiao Chen menjawab, "Di kota ini. Mereka bertiga memakai topeng dari kulit manusia, dan karena suatu alasan aku secara tidak sengaja mengetahui identitas mereka."


Ting Mao melebarkan mata, ia sampai terlamun karena begitu terkejut dengan jawaban yang diberikan Xiao Chen.


Selang beberapa saat, Ting Mao tersentak ketika merasakan ada yang memegang pundak kirinya, "Hei, apa yang sedang paman lamunkan?"


Seorang pria berusia 20 tahun-an bertanya sambil memandangi Ting Mao. Dia adalah Fu Jing, tuan muda yang menjadi pemimpin keamanan di kota Berlian.


Fu Jing sangat mengenali Ting Mao, karena dia adalah teman lama dari ayahnya sekaligus pegawai paling lama yang bekerja di gedung keamanan.


Ting Mao sendiri langsung mencari keberadaan Xiao Chen, tetapi dia tidak mendapati pemuda itu di tempat ini


Ting Mao kemudian menatap Fu Jing, "Tuan muda. Kebetulan anda di sini, ada yang ingin saya bicarakan dengan anda..." Ting Mao berkata dengan raut wajah serius.


Fu Jing mengangkat alisnya, "Sepertinya masalah serius ya, paman."


"Itu benar, tuan muda." Jawab Ting Mao, kemudian menceritakan tentang Xiao Chen dan juga mayat buronan yang telah dibawanya.


Beberapa saat kemudian, Fu Jing memegang dagunya setelah mendengar cerita dari Ting Mao, "Apa menurutmu dia berkata jujur, paman?"


Ting Mao mengangguk, "Menurut saya dia jujur, tuan muda."


"Hm, apa alasannya?" Tanya Fu Jing dengan satu alis yang terangkat.


"Itu karena mayat dari ketiga bandit tadi masih hangat..." Jawab Ting Mao cepat.


Fu Jing terdiam sejenak sebelum menganggukkan kepalanya, "Terima kasih atas informasinya, paman. Biar aku yang akan mengurus masalah ini..." Ucap Fu Jing lalu menimpali, "Aku akan pergi. Jaga kesehatanmu, paman."


"Baiklah, tuan muda. Sampaikan salamku pada ayahmu..." Balas Ting Mao.


Fu Jing mengangguk sambil tersenyum, "Tentu, paman." Jawabnya lalu berjalan pergi dari sana.


Bersambung.....


LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> GIFT >> COMMENT.