
Keesokan Harinya.
Xiao Chen dan anggota grupnya kembali melakukan perjalanan. Di Perjalanan, mereka menemukan banyak sumberdaya jenjang rendah berusia puluhan tahun, dan terkadang mereka menemukan sumberdaya jenjang menengah.
Perlu diketahui, sumberdaya ada tiga jenjang yaitu, Rendah, Menengah dan Tinggi. Semakin lama usia sumberdaya, maka semakin berkhasiat pula nutrisi yang ada di dalamnya.
Ketika mereka sedang memungut sumberdaya jenjang rendah di hutan, tiba-tiba saja muncul seekor laba-laba raksasa kuning yang mempunyai tinggi 7 meter.
"Gila. Monster apaan itu!" Qiao Jifeng tidak bisa untuk tidak terkejut karena ia baru pertama kali melihat monster sejenis itu.
Tidak hanya Qiao Jifeng saja, tetapi yang lainnya juga bereaksi sama termasuk Xiao Chen.
"Basis kultivasinya di Golden Core bintang delapan, kurasa dia tidak terlalu bahaya bagi kita..." Xiao Chen mengeluarkan Azure Dragon Sword dan kemudian melesat maju.
Lu Ren dan yang lainnya ikut menyerang ketika melihat Xiao Chen maju. Mereka berlima bekerja sama untuk membunuh Monster laba-laba itu, dan hanya membutuhkan waktu tiga menit saja untuk membunuhnya.
"Uhh... Jaringnya sangat lengket..." Lu Ren merasa jijik ketika membersihkan jaring laba-laba di tubuhnya.
Qiao Jifeng mengangguk setuju, tidak hanya Lu Ren saja yang terkena jaringnya tetapi dirinya juga.
Sedangkan Xiao Chen, Qiao Yu dan Du Yang He sama sekali tidak terkena jaring dari monster tersebut.
"Kalian ingin makan daging laba-laba ini?" Tanya Xiao Chen sambil meletakkan ujung pedangnya di monster itu.
Mendapati pertanyaan tersebut, mereka berempat saling menatap satu sama lain lalu menggelengkan kepala.
"Tidak perlu, senior. Persediaan kita sudah lebih dari cukup untuk satu bulan ke depan." Du Yang He menolak.
Xiao Chen mengangguk paham, dan ketika ingin menyarungkan kedua pedangnya. Tiba-tiba saja sekelompok manusia berjumlah lima orang muncul dan mengepung mereka.
Kebanyakan dari mereka menggunakan pedang pendek, dan salah satu dari kelimanya menggunakan sebuah busur yang terbilang mewah.
"Hehehehe... Halo! Bagaimana kabar kalian setelah melewati malam di Penjara Sepuluh Dewa Agung ini?" Tanya kultivator pengguna busur itu.
"Kalian ini pembunuh, ya?" Du Yang He tidak menjawab melainkan melontarkan pertanyaan.
"Hee... Kok bisa tau? Kau ini peramal, ya?"
Du Yang He memberikan ekspresi datar, orang bodohpun akan tau kalau dia seorang pembunuh, karena pakaian yang dia pakai hampir dipenuhi dengan darah.
"Tidak ada jawaban? Hehehehe... Berani sekali ya. Dasar cecunguk!"
Kultivator pengguna busur itu mengarahkan busurnya ke arah Du Yang He dan berniat untuk menembakkan anak panahnya.
Namun belum sempat bereaksi, Du Yang He tiba-tiba saja menghilang dan muncul di belakang kultivator tersebut.
Srootsss.
Sebuah pedang menembus perut dari pengguna busur itu dan membuatnya memuntahkan darah, "Kalau bicara dengan yang lebih tua, sopan sedikit dong..." Du Yang He mencabut pedangnya dan membuat kultivator itu terjatuh.
"S-sial... S-sejak kapan?"
"Ketua~!" Anggota grupnya langsung melesat ke arah Ketua mereka dan berniat untuk menyerang Du Yang He.
Tapi Xiao Chen dan yang lainnya tidak membiarkan itu, mereka menghalangi musuh yang ingin mendekati Du Yang He.
Ketika pertempuran terjadi, Du Yang He berjongkok di depan kultivator yang terbaring di tanah itu, "Hei, masih mau hidup kan?"
Kultivator itu terdiam sebelum menganggukkan kepalanya pelan, "T-tolong aku..."
Du Yang He tersenyum, "Tentu saja ada syaratnya..."
"A-aku akan melakukan semua persyaratannya..."
"Hoo... Benarkah? Aku belum bilang loh apa saja persyaratannya."
"A-aku tidak peduli, t-tolong aku sekarang..."
Du Yang He mengangguk, ia membalikkan badan kultivator di depannya menjadi telentang dan kemudian menghentikan pendarahan.
Apa yang dilakukan oleh Du Yang He membuat orang-orang disekitarnya berhenti bertarung, mereka cukup terkejut melihat dia malah menyelamatkan musuhnya.
"Hahaha~ Apakah perkataanku tadi malam membuatmu tersadar?" Xiao Chen dengan bangganya tertawa.
"Oh~" Xiao Chen sedikit kecewa.
Du Yang He tersenyum tipis dan kemudian berdiri, "Ketua kalian sudah menyerah nih, seharusnya kalian juga kan?"
Mereka yang dari anggota grup musuh terdiam sejenak sebelum membuang senjata masing-masing ke tanah.
"Mereka menyerah..." Lu Ren menyimpan kembali pedangnya.
Du Yang He mendekati Xiao Chen, dan ia meminta saran mengenai persyaratan apa saja yang akan diberikan nanti. Tidak hanya Xiao Chen saja, tetapi Du Yang He juga meminta saran kepada yang lainnya.
Disaat yang bersamaan, Ketua dari grup musuh sedang disembuhkan. Dia diberikan pil pereda rasa sakit dan lukanya dijahit dengan peralatan yang sudah disiapkan oleh mereka.
Satu batang dupa berlalu. Luka yang dimiliki oleh Ketua musuh selesai dijahit dan mereka beristirahat di dekat pohon besar.
"Jangan berpikir untuk kabur. Kalian akan mati jika melakukannya..." Du Yang He mengingatkan dengan tatapan dingin.
Mereka mengangguk paham, meskipun mereka adalah kelompok pembunuh yang mempunyai nyali tinggi, tetapi mereka bukan orang bodoh yang akan memberontak di situasi seperti ini.
"Jadi, persyaratan apa saja yang kau inginkan?" Tanya Ketua musuh sambil memegang lukanya yang baru saja dijahit.
"Tidak banyak. Kami hanya menginginkan semua yang kau dan anggotamu miliki, kecuali senjata..." Jawab Du Yang He santai.
Tentu apa yang dikatakan olehnya membuat Ketua dari grup musuh tersedak nafas sendiri, lukanya yang baru saja dijahit juga menjadi sedikit terbuka dan membuatnya berteriak kesakitan.
"H-hey! Kau gila ya meminta itu?"
"Benar! Permintaan macam apa itu!"
Xiao Chen tersenyum dibalik topengnya, "Kalian tidak mau memenuhi persyaratannya? Kalau begitu, mati saja disini..."
Xiao Chen melangkahkan kakinya dan menuju ke tempat mereka, tapi itu buru-buru dihentikan oleh Ketua musuh.
"Baik! Baik! Aku menyanggupinya!"
"Bagus..."
Ketua musuh melepaskan cincin penyimpanannya dan kemudian mengulurkan tangannya, "Semua barang-barang kami ada di cincin penyimpanan itu..."
"Benarkah?!" Lu Ren bertanya dengan tatapan intimidasi.
"T-tentu saja! Kalau tak percaya, periksa saja tubuh kami!" Jawab Ketua musuh dengan nada ketakutan.
"Tidak perlu..." Xiao Chen mengambil cincin penyimpanan itu lalu memakainya.
Setelah memeriksa isi dari cincin tersebut, Xiao Chen berbalik, "Ini sudah cukup, lebih baik jangan buat masalah lagi. Toh, kalian yang sekarang hampir tidak mempunyai apa-apa." Ucap Xiao Chen dan kemudian mengajak teman-temannya untuk pergi dari sana.
Ketika Xiao Chen dan anggota grupnya sudah tidak berada dalam jarak pandang lagi. Ketua musuh menggertakkan gigi dan sorot matanya berubah menjadi sangat marah.
"Awas saja kalian... Di luar nanti, aku pasti akan membunuh kalian tidak peduli harus pakai cara apa..." Ucapnya dengan kedua tangan yang mengepal erat.
Di sisi lain, Xiao Chen bersama teman-temannya melesat pergi dari sana. Di perjalanan, raut wajah Qiao Yu menunjukkan kecemasan dan Xiao Chen tentu menyadarinya.
"Ada apa?" Tanya Xiao Chen ketika berada di samping Qiao Yu.
Qiao Yu menggelengkan kepala dan masih fokus menatap ke arah depan, "Tidak ada..."
"Jangan bohong, kebohonganmu terlihat buruk..."
Qiao Yu tidak mengatakan apa-apa dan membuat Xiao Chen menghela nafas, "Sepertinya kau takut mereka akan balas dendam. Apakah kau ingin aku kembali dan membunuh mereka?"
"Tidak perlu, senior Xiao. Walaupun mereka berniat untuk balas dendam nantinya, aku pasti bisa menghadapi mereka..."
"Baguslah. Jika kau memang membutuhkan bantuan, kau hanya perlu mengatakannya padaku. Mengerti?"
Qiao Yu mengangguk dengan pipi berubah menjadi merah merona, diam-diam ia tersenyum tipis karena senang Xiao Chen memberikan perhatian lebih kepadanya.
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> GIFT >> COMMENT.