
Usai memesan makanan, Xiao Chen dan Yong Shu mengobrol santai. Tanpa mereka berdua sadari, suasana di lantai dua semakin ramai dan orang-orang mulai memenuhi meja makan yang masih kosong.
Tak lama kemudian, sekelompok anak-anak berusia sepuluh tahun kurang, naik ke lantai dua. Mereka datang bersama dengan seorang pria paruh baya dan juga wanita cantik berumur 20-an.
Mereka bertujuh kemudian duduk di meja yang tidak jauh dari tempat Xiao Chen berada. Anak-anak itu tampak ceria, begitu juga dengan orang dewasa yang bersama mereka.
"Kakak Ning! Apa boleh kita memesan banyak makanan?" Tanya seorang anak perempuan berusia 7 tahun.
Ning Hua mengangguk sambil tersenyum lembut, "Tentu saja. Kalian boleh makan sepuasnya di sini..."
"Yey! Terima kasih, kakak Ning!" Ucap anak perempuan itu dengan senyum lebar di wajahnya.
Ning Hua hanya mengelus kepala anak itu sambil tersenyum.
"Nona, sekali lagi saya berterima kasih. Kalau kemarin anda tidak menolong saya, mungkin Panti Asuhan saya sudah digusur oleh para preman itu." Pria paruh baya yang dikenal sebagai Kepala Panti menundukkan badannya saat mengatakan itu.
Ning Hua mengangguk, "Sama-sama, paman Han. Anda tidak perlu sungkan..."
Ru Han kembali menegakkan badannya, lalu melakukan obrolan kecil dengan Ning Hua.
Di sisi lain, sekelompok pria dari kejauhan kini sedang membicarakan tentang kecantikan Ning Hua.
"Hei, ayo kita culik wanita cantik itu." Seorang pria berbadan kekar berbisik sambil menunjuk ke arah Ning Hua. Dia bernama Ja Long.
"Tapi, bagaimana caranya, kakak Long?" Tanya pria botak plontos dengan tato kalajengking di lehernya. Sedangkan dia bernama, Ja Jiang
"Kita akan menunggu mereka sampai keluar dari tempat ini, lalu kita sergap mereka di tempat sepi." Jawab Ja Long cepat.
"Oh! Itu ide bagus, kakak Long." Sahut pria kurus kering yang mengenakan kalung rantai di lehernya, "Tapi, bagaimana jika mereka melawan?"
"Kita gunakan anak-anak itu sebagai sandera. Aku yakin, setelah itu dia pasti akan diam dan menurut..." Jawab Ja Long sambil menyeringai.
"Kau memang pintar, kakak Long!" Ucap pria kurus kering yang bernama, Ja Hieng.
Mereka bertiga adalah bandit bersaudara, yang dikenal sebagai Kalajengking Darah. Mereka adalah bandit yang menjadi buronan kota Berlian, alasan mengapa mereka bisa masuk ke kota karena saat ini mereka bertiga sedang memakai kulit kepala palsu.
Kulit kepala palsu yang mereka kenakan didapat dari para pedagang yang mereka bunuh beberapa hari lalu.
Selain suka menjarah dan membunuh, ketiganya adalah bandit yang suka memperkosa wanita, terakhir kali mereka memperkosa seorang putri tunggal dari sebuah Klan tingkat menengah. Tentu saja karena kejadian itu membuat harga masing-masing dari kepala mereka meningkat, yang tadinya seribu untuk per kepala sekarang berubah menjadi lima ribu untuk per kepala.
Di sisi lain, Yong Shu menghela nafas panjang, meskipun jaraknya jauh dari ketiga bandit itu tetapi dirinya dapat mendengar jelas semua percakapan yang mereka lakukan.
"Kau juga dengar kan, Chen'er?" Tanya Yong Shu sambil melirik muridnya.
Xiao Chen mengangguk dengan raut wajah serius, "Ya, guru." Jawabnya cepat.
"Meskipun wanita itu kuat, aku tidak terlalu yakin kalau dia bisa menanganinya. Jadi, kau tolong bantu mereka sebelum ketiga orang itu menyergap..." Pinta Yong Shu dengan tenang.
"Baik, guru..." Jawab Xiao Chen mengangguk.
Sesaat setelah itu, makanan yang dipesan oleh Xiao Chen dan Yong Shu datang. Mereka berdua kemudian langsung melahap hidangan masing-masing dengan lahap.
Selesai makan, Yong Shu langsung turun ke lantai dasar untuk membayar makanan, sedangkan Xiao Chen masih diam di tempatnya sambil memperhatikan anak-anak dari panti asuhan tersebut.
Tanpa sengaja, tatapan Xiao Chen dan Ning Hua bertemu. Mereka terdiam selama beberapa saat sebelum wanita cantik bergaun putih itu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Di lantai dasar, Yong Shu selesai membayar makanan yang dipesan oleh dirinya dan Xiao Chen, "Hmm... Untuk makanan seenak ini, harganya sangat terjangkau." Yong Shu merasa sedikit curiga, tetapi ia tidak memikirkannya lebih jauh.
"Chen'er, aku akan membeli gelang besi untukmu. Kau lakukan apa yang kuminta tadi..." Ucap Yong Shu lewat transmisi suara.
Tentu saja hal itu membuat Xiao Chen terkejut, bahkan jantungnya hampir berhenti berdetak sesaat, "Bagaimana mungkin?" Mata Xiao Chen melebar karena tak percaya.
Yong Shu terkekeh pelan, ia kurang lebih sudah mengetahui reaksi Xiao Chen, "Hahahaha... Kau pasti terkejut, bukan?" Tanyanya lalu dengan segera menimpali, "Jika kau sudah menerobos ranah True Immortal, akan kuajarkan caranya nanti..."
Xiao Chen tidak mendengar suara gurunya lagi setelah itu, ia menelan ludahnya dengan kasar karena tidak sabar untuk mempelajari teknik transmisi suara.
Note: Transmisi suara\= Telepati.
.....
Dua batang dupa berlalu.
Saat ini, Xiao Chen sedang memejamkan mata dengan kedua tangan yang melipat di depan dada, perlahan matanya terbuka dan mendapati kelompok Ning Hua yang sedang berjalan menuju tangga ke lantai dasar.
Tidak lama setelah itu, ketiga bandit Kalajengking Darah bangkit berdiri dari tempat duduk. Mereka bertiga saling menatap satu sama lain sebelum berjalan mengikuti kelompok Ning Hua.
Xiao Chen sendiri menghela nafas panjang, ia kemudian menghabiskan teh yang tersisa di gelasnya lalu keluar dari tempat makan itu.
***
Di sebuah gang yang tidak terlalu ramai, ketiga bandit Kalajengking Darah sedang bersembunyi di salah satu atap rumah. Mereka bertiga sedang bersiap, karena tau kalau kelompok Ning Hua akan melewati gang ini sebentar lagi.
"Adik kedua kau akan awasi pria dewasa itu agar tidak kabur, dan adik ketiga langsung sandera kelima anak. Sedangkan aku yang akan menangani perempuan cantik itu, mengerti?" Ja Long bertanya untuk memastikan jawaban dari kedua adiknya.
Ja Jiang dan Ja Hieng mengangguk paham, "Kami mengerti, kakak!" Jawab mereka berdua serempak.
Di sisi lain, Xiao Chen yang melihat mereka bertiga dari kejauhan sedikit mengangkat sudut bibirnya, "Dua Golden Core dan satu Nascent Soul. Tidak buruk untuk sekelas bandit..." Gumamnya lalu muncul satu pedang berwarna ungu di tangan kanannya, itu adalah pedang Dragon.
Whooosh!
Xiao Chen melesat dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat oleh mata, dalam sekejap ia muncul di antara ketiga bandit Kalajengking Darah.
"S-siapa kau?!" Ja Long begitu terkejut ketika mendapati keberadaan Xiao Chen. Tidak hanya dia, tetapi adik-adiknya juga.
Xiao Chen tersenyum tipis, "Dewa Kematianmu!"
Slash!
Seketika ketiga kepala dari bandit bersaudara itu lepas dari leher mereka, tanpa mengeluarkan darah sedikitpun tubuh mereka jatuh dari atap ke tanah. Sedangkan ketiga kepala mereka sudah tertancap di pedang Dragon milik Xiao Chen.
"Harga kepala kalian lumayan mahal, loh. Hehehe..." Xiao Chen terkekeh pelan, ia mengetahui hal tersebut dari lembaran buronan yang biasanya terpampang di dinding rumah-rumah.
Kenapa Xiao Chen bisa tau kalau mereka adalah bandit Kalajengking Darah? Itu dikarenakan, di setiap bagian tubuh mereka terdapat tato Kalajengking. Xiao Chen juga semakin yakin kalau mereka adalah bandit buronan, karena mereka bertiga memakai topeng dari kulit manusia.
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> GIFT >> COMMENT.
Note: Azure Dragon Sword, pedang kembar yang warnanya ada emas dan ungu. Jadi biar lebih mudah, pedang Ungu namanya 'Dragon' sedangkan pedang Emas namanya 'Azure'. Kalian ingetin, ya!