
Xiao Chen mengangguk pelan, "Ya, guru." Jawabnya sambil bangkit berdiri, "Tapi sebelum kita pergi, apa guru membawa makanan?"
Xiao Chen memegang perutnya yang lapar, ia sebenarnya belum makan semenjak keluar dari Hotel Xunshen.
"Ah..." Yong Shu juga baru teringat kalau dirinya belum makan sama sekali.
Yong Shu melambaikan tangannya dan mengeluarkan dua paha daging sapi yang sudah dibakar, "Ini untukmu..." Ucap Yong Shu sembari memberikan satu daging sapi ke muridnya itu.
Xiao Chen langsung mengambilnya dengan senyum lebar, ia berterima kasih dan setelah itu memakan daging tersebut dengan lahap sambil berjalan.
***
Setelah keluar dari lorong kiri, Yong Shu langsung mengajak Xiao Chen ke lorong kanan.
Di perjalanan sama sekali tidak ada masalah dan Xiao Chen merasa sedikit keheranan, "Guru, apa kau sudah kemari sebelumnya?"
"Hm? Bagaimana kau bisa tau?" Yong Shu sedikit mengangkat satu alisnya.
"Aku hanya asal tebak saja..." Jawab Xiao Chen cepat, "Apa ada patung batu manusia yang lainnya, Guru?"
Yong Shu menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak ada. Tapi, ada satu patung di ujung lorong ini..."
"Eh, cuma satu saja?"
"Ya, tapi dia sangat kuat... Aku mundur karena tidak ingin melawannya..."
Xiao Chen sedikit terkejut mendengar itu, "Apa dia lebih kuat dari guru?"
"Sama sekali tidak, namun bagimu dia adalah lawan yang kuat meskipun kau sudah menembus ranah Saint akhir..." Jawab Yong Shu dengan tenang.
Xiao Chen tidak bertanya lebih jauh lagi, yang pasti dirinya tidak boleh meremehkan musuhnya nanti.
.....
Satu batang dupa berlalu.
Xiao Chen dan Yong Shu berhenti setelah melihat ujung lorong yang dijaga oleh patung batu manusia bersenjata tombak.
"Sama seperti patung batu yang sebelumnya, dia mengeluarkan niat membuat yang lumayan kuat..." Xiao Chen bergumam dan kedua pedangnya muncul di masing-masing tangannya.
"Hati-hati, Chen'er. Jangan sampai lengah..." Ucap Yong Shu mengingatkan.
Xiao Chen mengangguk dan melesat ke arah patung batu tersebut. Sedangkan Yong Shu langsung menghilang dari tempatnya dalam sekejap.
Pertarungan kembali terjadi, kobaran api langsung melapisi kedua pedang Xiao Chen dan disaat yang bersamaan tubuhnya diselimuti dengan angin kuat.
Patung batu manusia itu melapisi tombaknya dengan Qi, dan dia menyerang Xiao Chen dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia biasa.
Xiao Chen tidak terlalu terkejut melihatnya, ia menangkis seluruh serangan tersebut dengan baik dan kemudian membuat ledakan untuk memberikan jarak di antara mereka berdua.
Bam!
Lorong bergetar tetapi tidak berlangsung lama. Xiao Chen sendiri mengatur napasnya yang mulai memburu, "Cih, pergerakannya sangat cepat. Aku memang bisa menangkis semua serangannya, tapi aku tidak bisa melakukannya dalam waktu yang lama..."
Meskipun sudah memakai elemen angin untuk meningkatkan kecepatannya, tetapi Xiao Chen tidak bisa bergerak lebih cepat dari patung batu itu.
"Apa aku menggunakan elemen petir saja?" Xiao Chen bergumam, lalu melesat kembali ke patung batu itu.
Di sela-sela pertarungan, suara Yue Ying menggema di kepala Xiao Chen, "Jangan pernah gunakan elemen petir dan juga kau tidak boleh melepaskan gelang besi di tubuhmu..."
"Eh, guru! Memangnya kenapa?" Xiao Chen bertanya dengan nada sedikit terkejut, padahal dirinya berniat melakukan kedua itu.
Xiao Chen tidak mengatakan apa-apa lagi, dia lebih memilih untuk fokus ke pertarungan di depannya.
Waktu berlalu cukup lama dan sudah sekitar tiga puluh menit semenjak Xiao Chen bertarung dengan patung batu manusia.
Saat ini penampilan Xiao Chen sangat buruk, jubahnya banyak yang robek dan tubuhnya dipenuhi dengan luka. Meski begitu, tidak ada darah sama sekali di tubuh Xiao Chen, itu karena dia menutup semua lukanya dengan Qi di waktu yang tepat sebelum darah keluar dari tubuhnya.
Sedangkan kondisi dari patung batu manusia juga sudah terbilang parah, lengan kanannya sudah hancur dan ada beberapa bolongan di bagian tubuhnya. Walaupun sudah sampai seperti itu, dia sama sekali tidak terlihat melemah karena pada awalnya patung batu adalah benda mati.
Setelah beberapa menit berlalu, Xiao Chen akhirnya berhasil menghancurkan patung batu itu. Ketika itu terjadi, Xiao Chen langsung duduk bersandar di dinding Gua.
"Sialan, ini sangat melelahkan..." Xiao Chen mencoba mengatur napasnya yang memburu.
"Kau ini memang suka mengumpat, ya?" Yong Shu tiba-tiba saja muncul di depan muridnya itu, ia mengulurkan tangan kanannya dan muncul sebuah botol air yang terbuat dari bambu.
Xiao Chen hanya tertawa pelan sambil mengambil botol air tersebut, ia meminumnya dan menghabiskan setengah isi air dari botol itu.
"Terima kasih, guru." Xiao Chen mengembalikan botol air setelah puas meminumnya.
Yong Shu tersenyum lembut dan mengambil botol air itu, ia kemudian menyimpannya kembali ke dalam dimensi ciptaannya.
Suasana menjadi hening, tidak ada satupun dari mereka berdua yang berbicara.
"Kenapa kau tidak menyembuhkan lukamu?" Tanya Yong Shu memecahkan keheningan.
Jantung Xiao Chen sedikit berdegup lebih cepat, "Eh? P-pil penyembuh lukaku sudah habis guru. Hehehehe....." Jawab Xiao Chen dengan tawa gelisah.
Yong Shu menghela napas panjang, "Tidak perlu menyembunyikannya, aku sudah tau teknik anehmu itu..."
"A-ah... Begitu ya..." Xiao Chen tidak terlalu terkejut, karena dirinya sudah mengira hal tersebut semenjak Yong Shu muncul di ruangan lorong kiri.
"Guru... Bisakah kau merahasiakan teknikku ini?" Xiao Chen memohon, ia tidak mau kejadian yang sama di kehidupan sebelumnya terulang lagi.
Yong Shu menatap mata muridnya itu yang bersungguh-sungguh, "Kau tenang saja, aku sama sekali tidak mempunyai niat untuk menyebarluaskan teknikmu itu..." Jawab Yong Shu cepat.
Xiao Chen menghela napas lega, meskipun masih ada perasaan gelisah yang mengganjal tetapi ia mencoba mempercayai kata-kata gurunya itu.
Setelah percakapan itu berakhir, Xiao Chen langsung bermeditasi dan menggunakan Pernapasan penyembuhan pertama yang bisa memulihkan luka luarnya.
Beberapa saat kemudian, Xiao Chen membuka matanya secara perlahan lalu bangkit berdiri.
"Kunci dari teknikmu itu Pernapasan, ya?" Tanya Yong Shu menebak.
"Hm? Benar... Bagaimana guru mengetahuinya?" Xiao Chen bertanya keheranan, karena menurutnya semua teknik Pernapasan dari buku Naga Surgawi tidak ada bedanya dengan bernapas pada umumnya.
Yong Shu tersenyum tipis, "Memang kalau dilihat secara sekilas tidak ada bedanya, tetapi jika diperhatikan dengan seksama kau akan menyadari perbedaannya..." Jawab Yong Shu menjelaskan.
Xiao Chen mengangguk pelan dengan bibir yang membentuk huruf O, ia tidak bertanya lebih jauh dan mengajak gurunya itu untuk pergi ke ujung lorong.
Mereka berdua kemudian berjalan santai dan akhirnya sampai di sebuah ruangan. Xiao Chen sendiri melebarkan mata ketika melihat tiga Kristal Energi kelas menengah yang terletak di atas sebuah altar batu.
Xiao Chen melangkahkan kakinya dan berniat untuk mendekati altar tersebut, tetapi ia langsung berhenti ketika pundak kanannya dipegang oleh Yong Shu.
"Jangan bergerak, ada yang aneh di sini..." Yong Shu berkata dengan raut wajah serius.
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> GIFT >> COMMENT.