
Setelah turun dari tebing batu, Xiao Chen mengajak anggota grupnya untuk pergi ke kota atau desa terdekat. Penjara Sepuluh Dewa Agung akan terbuka selama seminggu lagi, jadi mereka berlima mempunyai banyak waktu untuk diluangkan.
"Senior sepertinya aku tidak dapat ikut... Aku memiliki beberapa urusan yang harus kuselesaikan minggu ini." Du Yang He berkata sambil menggarukkan kepalanya yang tidak gatal, "Jadi, mari kita bertemu dalam satu minggu lagi."
"Oh, baiklah. Jika urusanmu selesai lebih cepat, kau dapat menyusul kami di kota atau desa terdekat." Balas Xiao Chen.
Du Yang He mengangguk, "Oke, senior. Kalau begitu, saya pergi dulu..." Ucapnya lalu melesat pergi dari sana dan menuju ke dalam hutan.
Xiao Chen terdiam sejenak sebelum mengajak yang lainnya untuk pergi dari tempat ini.
Beberapa kilometer dari Lembah Abadi terdapat sebuah desa kecil. Xiao Chen dan ketiga anggota grupnya berakhir di desa tersebut, suasananya sunyi dan kabut tipis menyelimuti udara disekitar.
"Ada yang aneh dengan desa ini..." Xiao Chen membatin dengan raut wajah sedikit serius.
"Kakak... Kapan kita akan menemukan penginapannya?" Tanya Qiao Jifeng penasaran. Ia merasa merinding ketika terjebak di dalam situasi yang menyeramkan seperti ini.
Qiao Yu tersenyum dan mengelus kepala adiknya itu, "Sebentar lagi kita akan menemukannya. Apakah kau sudah mulai lapar?" Tanyanya penasaran.
Qiao Jifeng tidak menjawab dan hanya menggelengkan kepala.
Beberapa saat kemudian. Xiao Chen dan yang lainnya berada di depan sebuah rumah yang terbuat dari batu bata. Ketika Xiao Chen ingin mengetuk, pintu di depannya terbuka dan memperlihatkan seorang nenek tua berpakaian lusuh.
"Oh, siapa kalian?" Tanya sang nenek sambil tersenyum.
"Maaf menganggu, nek. Kami adalah kultivator yang sedang melakukan perjalan, dan kami membutuhkan tempat untuk menginap malam ini. Apakah di desa ini ada yang membuka penginapan?"
Nenek tua tersebut terdiam sejenak sebelum menggelengkan kepalanya, "Sayang sekali... Di desa kami tidak ada satupun orang yang membuka penginapan, tetapi jika kalian mau kalian dapat menginap di rumah nenek malam ini." Ucapnya dengan nada ramah.
Xiao Chen berbalik dan meminta pendapat anggota grupnya yang lain. Mereka berunding selama kurang dari satu menit, dan memutuskan untuk tinggal di rumah nenek tersebut.
"Ayo masuk... Nenek akan membuatkan beberapa masakan untuk kalian." Ucapnya dan menuntun Xiao Chen serta yang lain masuk ke dalam rumah.
Pada saat di dalam rumah, Xiao Chen dan yang lainnya dipersilahkan duduk di bangku kayu.
"Kalian ingin teh?"
"Tidak perlu repot-repot, nek. Kami baik-baik saja..." Qiao Yu menolak dengan halus.
"Baiklah..." Nenek tersebut pergi dari sana dan masuk ke dalam sebuah ruangan yang terbilang gelap.
"Teman Xiao, apakah kamu tidak pengap memakai topeng terus menerus?" Lu Ren bertanya untuk memecahkan keheningan.
"Tidak. Memangnya kenapa?"
Lu Ren menggelengkan kepala, "Aku hanya penasaran dengan wajahmu, kenapa kamu tidak membukanya saja?"
Xiao Chen tidak mengatakan apa-apa selama beberapa saat lalu membuka topengnya. Tentu hal tersebut membuat Lu Ren, Qiao Yu dan Qiao Jifeng menatapnya dengan seksama.
"Wah... Kamu memiliki wajah yang tampan, teman Xiao." Puji Lu Ren sambil tersenyum.
"Senior, kenapa kamu memakai topeng jika memiliki wajah setampan itu?" Qiao Jifeng bertanya dengan nada penasaran. Sebelumnya ia pikir Xiao Chen mempunyai luka di wajahnya dan merasa malu sehingga membuatnya menggunakan topeng.
Xiao Chen tertawa hambar, "Aku hanya ingin menyembunyikan identitasku..."
Sedangkan Qiao Yu merasa kagum dengan ketampanan yang dimiliki Xiao Chen, wajahnya mulai memerah dan membuatnya mengalihkan pandangan ke arah yang lain.
Beberapa menit kemudian. Nenek pemilik rumah keluar dari ruangan gelap sembari membawa dua mangkuk makanan, dia berjalan ke sebuah meja yang tidak jauh dari tempat Xiao Chen duduk dan meletakkan kedua mangkuk tersebut di atas meja.
"Ah, anda tidak perlu repot-repot nek. Mari saya bantu." Qiao Yu berdiri dan berjalan menghampiri nenek tersebut.
"Hohoho... Tak apa, aku malah merasa senang karena kalian mau menginap di sini, aku sudah terlalu lama sendiri dan menjadi kesepian karena jarang ada yang ingin mengobrol denganku." Nenek itu berkata saat berjalan ke ruangan gelap di dekat sana.
Qiao Yu hanya tersenyum mendengarnya dan mengikuti sang nenek dari belakang. Satu persatu makanan mulai dikeluarkan dan perlahan meja dipenuhi dengan lauk.
Setelah semua makanan selesai dikeluarkan, Xiao Chen dan yang lainnya pindah ke meja yang sudah dipenuhi dengan hidangan makanan.
Xiao Chen dan yang lainnya duduk berhadap-hadapan, sedangkan nenek pemilik rumah duduk di bagian ujung meja.
"Nek, siapa namamu?" Lu Ren bertanya ketika mengambil lauk serta nasi yang ada di atas meja.
"Namaku adalah Chu Yan..."
"Chu Yan? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu di suatu tempat." Sambung Qiao Jifeng sembari melahap makanan di atas meja.
"Hohoho... Namaku memang pasaran, jadi wajar saja jika kamu pernah merasa mendengarnya."
Qiao Jifeng hanya mengangguk dan tidak mengatakan apa-apa, begitu juga dengan yang lainnya.
Satu batang dupa berlalu. Xiao Chen dan yang lainnya selesai memakan semua hidangan yang ada di atas meja, Qiao Jifeng sampai bersender di bangku karena perutnya sudah terisi dengan penuh.
Beberapa saat kemudian. Suara ketukan pintu terdengar dan membuat mereka saling menatap satu sama lai, "Siapa itu, nek?" Qiao Yu bertanya dan berniat untuk membuka pintu.
Chu Yan mengangkat tangannya, "Ah... Tidak perlu. Biar nenek saja yang membukanya." Jawabnya lalu berdiri dan berjalan pergi ke pintu keluar rumah.
"Teman Xiao, apakah kau tidak merasakan ada yang aneh dengan nenek itu?" Bisik Lu Ren dan hanya bisa di dengar oleh orang yang berada disekitar meja.
Xiao Chen mengangguk pelan, "Dia merasa waspada sepanjang waktu..." Jawabnya lalu menimpali, "Dan juga, sepertinya makanan yang baru saja kita makan mengandung obat tidur dengan dosis yang cukup tinggi."
Mendengar itu Lu Ren melebarkan matanya begitu juga dengan Qiao Yu, sedangkan Qiao Jifeng sudah tertidur semenjak bersender di bangku selama beberapa waktu. Tentu saja apa yang dikatakan Xiao Chen mengejutkan keduanya, memang benar rasa ngantuk mulai menyerang mereka berdua setelah menghabiskan hidangan yang ada.
"Kalian tidur saja... Aku yang akan mengurusnya." Xiao Chen berkata dengan suara tenang.
"Huh... Aku tidak mau melakukannya." Lu Ren menolak keras tetapi tidak lama setelah itu dia langsung jatuh ke lantai dan tertidur.
Xiao Chen tertawa pelan melihatnya, secara tidak langsung Lu Ren menunjukkan kalau dia mempercayai dirinya untuk mengatasi situasi ini.
"Senior... Tolong jaga adikku." Pinta Qiao Yu dengan suara lemas dan kemudian ia tertidur dengan cara yang sama seperti adiknya.
Xiao Chen hanya mengangguk pelan, ia kemudian menatap ke sisi tembok yang menjadi arah menuju pintu keluar rumah.
Bersambung.....
LIKE >> VOTE >> RATE 5 >> GIFT >> COMMENT.