Kekasih Rahasia Sang Selebgram

Kekasih Rahasia Sang Selebgram
Bab 47


🍁 Happy Reading 🍁


"Pak Rico?" panggil dokter.


Rico yang sedang memikirkan sesuatu itu pun langsung menoleh ke arah dokter.


"Iya dok." jawab Rico sambil berdiri dari duduknya.


"Pak Rico disini sedang menunggu siapa?" tanya dokter.


"Pasien yang di dalam itu anak teman saya." jawab Rico.


"Oh..." dokter membulatkan mulutnya sambil mengangguk-anggukkan kepala.


"Oh iya dok, kalau boleh tau anak teman saya itu sakit kanker apa yah?" tanya Rico.


"Leukimia Pak." jawab dokter.


"Oh." Rico membulatkan mulutnya.


"Yang pernah saya dengar kalau leukimia itu cara pengobatan yang ampuh itu dengan donor sumsum tulang belakang? Benar dok?" tanya Rico.


"Iya Pak benar. Tapi masalahnya anak teman Pak Rico tidak punya pendonor sumsum tulang belakang dari saudara kandung. Makanya kami menggunakan metode obat-obatan dan kemoterapi dulu." jawab dokter.


"Tidak punya saudara kandung? Kalau Ayah kandung bisa kan?" tanya Rico.


"Bisa, walau tingkat kecocokan hanya satu persen, tapi itu sangat berharga. Karena sumsum tulang belakang itu tidak sama dengan donor darah, asal golongan darahnya sama bisa mendonor, dan di dunia ini pasti banyak yang memiliki golongan darah yang sama. Tapi kalau sumsum tulang belakang itu hanya bisa didapatkan dari saudara kandung, baik kakak kandung atau adik kandung, ayah kandung atau ibu kandung. Tapi tingkat kecocokan dengan saudara kandung itu jauh lebih tinggi dari tingkat kecocokan ayah kandung atau ibu kandung." jawab dokter.


"Tapi sayangnya pasien tidak punya kriteria pendonor itu. Saudara kandung tidak punya, Ayah kandung juga tidak punya dan dengan Ibu-nya, sumsum tulang belakangnya tidak cocok." kata dokter lagi.


"Ayah kandung tidak punya?" lirih Rico bertanya-tanya.


"Iya Pak, katanya Ayah si pasien sudah lama meninggal." jawab dokter.


"Oh." Rico membulatkan mulutnya.


"Ya sudah, saya permisi dulu kalau begitu Pak." pamit dokter.


"Oh iya dok." balas Rico.


Entah mau prihatin atau senang Rico bingung. Satu sisi senang karena masih ada kemungkinan untuk bersama Abbey kembali tapi di sisi lain Rico merasa prihatin dengan keadaan Abbey. Sudah janda, anaknya terkena leukimia lagi, pasti hidup yang Abbey jalani sangat sulit. Begitulah pikir Rico.


Saat sedang sibuk dengan pemikirannya, tiba-tiba Rico melihat perawat yang hendak masuk ke dalam ruang penanganan.


"Sus, sus, tunggu." cegah Rico.


Mata si perawat berbinar saat melihat Rico. Siapa sih yang tidak kenal Rico, walau sudah jarang wara-wiri di televisi karena lebih fokus ke bisnis, masih banyak yang mengenali Rico.


"I-iya Pak Rico." jawab perawat.


"Itu apa?" Tanya Rico sambil menunjuk kertas yang di pegang perawat.


"Oh ini, bukti pemakaian asuransi kesehatan yang harus di tanda tangani orangtua pasien Pak." jawab perawat.


"Coba saya lihat." pinta Rico.


Di dalam kertas itu Rico melihat kelas kamar rawat Alma ada di kelas tiga.


"Kamar rawatnya apa bisa di pindahkan ke VIP, sus?" tanya Rico.


"Um... Bisa Pak, tapi akan di kenakan biaya." jawab perawat.


"Gak pa-pa, saya yang akan tanggung jawab biaya administrasinya." balas Rico.


"Kalau begitu Bapak bisa ikut saya mengurus di bagian administrasi." Balas perawat.


Rico dan perawat itu pun berjalan bersama ke meja administrasi. Saat mengurus administrasi kamar rawat Alma, ada yang membuat Rico seketika curiga akan sesuatu.


Pertama, nama Abbey yang berubah menjadi nama Lena Hapsari, bukan hanya nama Abbey, bahkan tanggal lahir Abbey juga berubah lima tahun lebih tua dari umur Abbey yang sebenarnya.


Kedua, tanggal lahir Alma, jika Rico hitung-hitung Alma lahir setelah tujuh bulan Rico dan Abbey putus.


Apa jangan-jangan...


🍁 🍁 🍁


Bersambung...