Kekasih Rahasia Sang Selebgram

Kekasih Rahasia Sang Selebgram
Bab 34


🍁 Happy Reading 🍁


DUWAAAAAR...


Betapa kagetnya Abbey mendengar kata-kata dokter.


"A-a-apa dok? Le-leukimia? Dokter gak salah kan? Coba periksa ulang dok, manatau hasilnya tertukar." ucap Abbey dengan suara yang bergetar.


Dokter hanya menggelengkan kepalanya. Sebagai jawaban kalau ia tidak salah mendiagnosa penyakit Alma.


"Gak, gak, gak mungkin dok! Anak saya selalu makan makanan sehat, saya sendiri yang memasaknya, saya gak pernah kasih dia makanan yang mengandung bahan pengawet, gak pernah kasih micin, gak pernah kasih bumbu penyedap rasa, saya sendiri yang buat kaldu ayam dan ikan untuk menambah rasa makanannya, saya begitu menjaga makanan yang masuk ke dalam mulu anak saya, jadi gak mungkin anak saya terkena leukimia, gak mungkin dok, gak mungkin!" ucap Abbey menolak percaya.


"Banyak faktor yang menyebabkan leukimia Bu, salah satunya perubahan genetik, atau sering terpapar radiasi, polusi udara, zak kimia berbahaya dan infeksi virus, bukan hanya karena makanan saja." jawab dokter.


Abbey menangis sejadi-jadinya. Ibu mana yang hatinya tidak hancur mengetahui anaknya sakit parah. Apalagi saat ini Alma masih berusia lima tahun.


"Tapi anak saya masih bisa sembuh kan dok?" tanya Abbey.


"Peluang untuk sembuh itu sangat besar Bu, apalagi saya melihat anak ibu masih stadium awal." jawab dokter.


"Asal segera mendapat pengobatan secepatnya dan penanganan yang tepat oleh ahlinya, saya yakin anak Ibu bisa sembuh." kata dokter lagi.


"Jadi saya harus apa sekarang dok? Kemana saya harus membawa anak saya berobat? Apa di rumah sakit ini bisa?" tanya Abbey.


"Saran saya Ibu langsung membawa anak Ibu langsung ke rumah sakit kanker, disana akan ada dokter khusus yang menangani anak-anak pengidap kanker darah." jawab dokter.


"Ja-Ja-Jakarta dok?" tanya Abbey dan di jawab dengan anggukkan kepala oleh dokter.


Abbey menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan kembali menangis. Sudah lama ia tidak menginjakkan kakinya di Jakarta dan berharap tidak akan pernah menginjakkan kakinya di sana, tapi kenapa sekarang opsinya hanya ke Jakarta?


"Tapi kalau Ibu mau penanganan yang lebih baik lagi, Ibu bisa membawa anak Ibu ke Singapura. Yah... tapi Ibu harus punya dana sepuluh kali lipat karena biaya pengobatan disana jauh lebih mahal dari pengobatan di Indonesia, belum lagi biaya makan dan biaya tempat tinggal. Karena ibu tau sendiri Singapura masuk dalam sepuluh besar negara di dunia yang memiliki biaya hidup paling mahal." kata dokter.


"Kalau di Indonesia kan kita bisa menggunakan asuransi kesehatan dari pemerintah, yah walaupun nanti ada beberapa obat-obatan yang memang tidak di tanggung oleh asuransi tapi setidaknya pengeluaran tidak sebanyak di Singapura." lanjut dokter.


Sesampainya di bangsal Alma, Abbey melihat putri kecilnya sedang tidur pulas.


"Dokter bilang apa Teh?" tanya Annet.


Mata Abbey yang bengkak membuat perasaan Annet tidak enak.


"Alma harus berobat di Jakarta, Net." jawab Abbey dengan suara lemas.


"Memangnya Alma sakit apa Teh sampai harus ke Jakarta?" tanya Annet makin penasaran.


Abbey mengalihkan pandangannya dari Alma dan melihat ke arah Annet. Ia menatap adiknya dengan tatapan sendu sambil melipat bibirnya untuk menahan tangisnya.


Tak tahan ingin mengeluarkan tangisnya, Abbey pun berlari keluar dari kamar rawat Alma. Annet pun mengejar Abbey.


Sesampainya Annet di luar, Annet sudah melihat kakaknya berjongkok dan membenamkan wajahnya di kedua tangannya yang terlipat.


Annet pun ikut berjongkok di samping Abbey.


"Ada apa sebenarnya Teh? Alma sakit apa?" tanya Annet.


Abbey pun mengangkat wajahnya lalu memeluk sang adik.


"Net, Alma kena leukimia Net." jawab Abbey sambil menangis dalam pelukan Annet.


Sama seperti Abbey, Annet juga kaget luar biasa mendengar penyakit yang diidap keponakannya itu.


🍁 🍁 🍁


Bersambung...