Kekasih Rahasia Sang Selebgram

Kekasih Rahasia Sang Selebgram
Bab 30


🍁 Happy Reading 🍁


Enam Tahun kemudian.


Bali.


Sudah enam tahun Abbey tinggal di Bali bersama dengan Annet dan Chika. Annet dan Chika bekerja di hotel sedangkan Abbey memilih untuk bekerja dari rumah sebagai seorang komikus yang mengirim komik-komik hasil karyanya di beberapa platform. Uang yang di dapat dari membuat komik juga terbilang cukup banyak, sebulan ia bisa mendapat penghasilan sepuluh juta bahkan lebih. Uang yang sangat cukup untuk menghidupi dan menyekolahkan Alma.


Dari hasil jerih payahnya selama lima tahun Abbey bisa membangun rumah sederhana untuk tempat tinggal mereka dan satu unit motor matic untuk di pakai antar jemput Alma.


Kriing... Kriing...


Ponsel Abbey berdering sangat keras. Abbey yang sedang sibuk membuat komik digital pun menoleh kearah ponselnya.


Bu Guru Kemala. Itulah nama yang tertera di layar ponsel Abbey.


Melihat nama itu, Abbey pun meletakkan alat tulisnya lalu mengambil ponselnya.


"Baru jam segini kenapa Bu Kemala sudah menelpon? Apa Alma sudah pulang sekolah?" gumam Abbey sambil menggeser tombol hijau.


"Halo selamat pagi Bu Kemala." jawab Abbey.


"Halo selamat pagi Mama Alma, badan Alma panas tinggi apa Mama Alma bisa jemput Alma?"


"Apa?!! Baik Bu, baik Bu, saya segera ke sekolah sekarang." jawab Abbey lalu menutup teleponnya.


Abbey yang sudah panik pun tanpa mengganti baju, ia langsung keluar dari kamar dan pergi ke sekolah Alma dengan menggunakan motornya.


🍁 🍁 🍁


Sepuluh menit kemudian.


Bali Montessori Preschool.


Sekarang Abbey sudah berada di sekolah Alma.


Setelah memarkirkan motornya secara asal-asalan, Abbey langsung berlari menjju ruang guru.


"Mama Alma..." panggil Bu Kemala saat melihat Abbey yang hendak menuju ruang guru.


Abbey pun menoleh lalu berlari mendekati Bu Kemala yang ada di depan ruang UKS.


"Alma mana, Bu." tanya Abbey dengan wajah yang pucat karena khawatir dengan Alma.


"Ada di dalam Mam." jawab Bu Kemala.


Bu Kemala pun membuka pintu ruang UKS dan membiarkan Abbey masuk lebih dulu.


"Tadi saya sudah kasih obat penurun panas Mam, habisnya panasnya tinggi sekali, saya takut Alma kejang." ucap Bu Kemala.


"Makasih Bu." balas Abbey.


"Kok bisa sih kamu tiba-tiba panas tinggi Al, padahal tadi pagi kamu masih baik-baik aja loh, masih ceria." lirih Abbey sambil mengelus punggung tangan Alma.


"Apa dia jatuh tadi Bu?" tanya Abbey.


"Tidak Mam. Mama Alma bisa periksa cctv kalau Mama Alma tidak percaya." jawab Bu Kemala.


"Tidak usah Bu, saya percaya dengan guru-guru disini." jawab Abbey.


"Tadi saat sedang main tiba-tiba saja Alma muntah-muntah, terus pas saya pegang ternyata badannya panas tinggi." ucap Bu Kemala.


"Apa Abbey salah makan tadi pagi?" tanya Bu Kemala.


"Sepertinya tidak, karena sarapan pagi ini sama seperti sarapan sebelum-sebelumnya dan saya sendiri yang membuat sarapannya bahkan bekalnya pun juga saya yang buat bukan beli dari luar." jawab Abbey.


"Kalau begitu memang badan Alma saja yang mau sakit tapi kita tidak sadari." balas Bu Kemala.


"Iya Bu, mungkin saja." balas Abbey.


"Alma-nya mau di bawa pulang sekarang atau tunggu bangun Mam?" tanya Bu Kemala.


"Tunggu bangun aja Bu, kasihan kalau di bawa pulang sekarang." jawab Abbey.


"Baik Mam. Kalau begitu saya tinggal mengajar dulu." balas Bu Kemala.


"Iya Bu. Sekali lagi terimakasih yah Bu." balas Abbey.


"Sama-sama Mam." balas Bu Kemala.


Bu Kemala pun keluar dari UKS. Setelah Bu Kemala keluar, Abbey pun menghubungi Chika untuk datang ke sekolah Alma. Rencananya Abbey ingin langsung membawa Alma ke dokter untuk di periksa.


Chika yang sama paniknya dengan Abbey saat mendengar kabar Alma sakit pun langsung meluncur ke sekolah Alma dan tak sampai dua puluh menit Chika pun sampai di sekolah Alma.


Saat Chika sampai ternyata Alma sudah bangun. Tanpa menunggu lagi Abbey pun langsung pamit pulang pada Bu Kemala lalu membawa Alma ke dokter.


Karena Abbey sedang panik, jadi Chika lah yang membawa motor sedangkan Alma di dudukkan di tengah-tengah. Sepanjang perjalanan Abbey terus memeluk Alma sambil terus menciumi kening putri semata wayangnya itu.


🍁 🍁 🍁


Bersambung...