
🍁 Happy Reading 🍁
Tiga hari kemudian.
Bali.
Kondisi Alma sudah memungkinkan untuk di bawa keluar kota. Dokter yang menangani Alma pun juga sudah menghubungi rumah sakit yang ada di Jakarta dan mengirim hasil pemeriksaan Alma lewat email pada dokter yang akan menangani Alma di Jakarta.
Semua izin dan keperluan Alma untuk melakukan penerbangan juga sudah Abbey urus.
Abbey juga sudah menjelaskan pada Alma tentang penyakit Alma dan mengatakan kalau untuk sementara Alma tidak bisa bersekolah dan harus melakukan serangkaian pengobatan di Jakarta. Untungnya Alma anak yang baik, ia tidak menangis saat Abbey mengatakan dirinya tidak bisa sekolah untuk sementara waktu, ia malah bersemangat untuk sembuh agar bisa kembali bersekolah.
Dari semua persiapan yang sudah Abbey urus, hanya satu yang belum Abbey urus. Yaitu tempat tinggal selama di Jakarta, karena rencananya Abbey baru akan mencari tempat tinggal kalau sudah tiba di Jakarta dan yang pasti tempat tinggal yang dekat dengan rumah sakit tempat Alma berobat.
Sebenarnya Chika dan dokter yang menangani Alma menyarankan Alma dan Abbey untuk tinggal di rumah singgah, tapi Abbey belum yakin untuk tinggal di rumah singgah karena katanya rumah singgah itu bentuknya seperti kamar kelas tiga di rumah sakit, satu rumah ada sepuluh kamar dan setiap kamar di huni lima sampai enam anak dan orangtua yang menjaga juga tidur di dalam kamar itu. Sedangkan Abbey, dia sangat membutuhkan privacy untuk membuat komik.
Bandara.
Dan sekarang Alma, Abbey, Chika dan Annet sudah berada di bandara.
"Hubungi kami kalau sudah sampe yah." ucap Chika pada Abbey sebelum Abbey dan Alma masuk ke ruang tunggu karena Chika dan Annet tidak ikut ke Jakarta.
Dan di balas dengan anggukkan kepala oleh Abbey.
"Alma, denger-denger kata Bunda yah Sayang." kini Chika beralih pada Alma.
"Iya Tante." jawab Alma.
"Teh Abbey juga harus jaga kesehatan yah disana." ucap Annet.
"Iya, kalian disini gak usah terlalu khawatir." balas Abbey.
"Aku pasti nyusul kalian ke Jakarta, tapi tunggu akhir bulan." ucap Chika.
"Gak usah di paksain Chik, aku gak pa-pa kok, aku bisa sendiri urus Alma." balas Abbey.
"Iya aku tau. Aku tau kamu Bunda yang hebat, tapi aku ngelakuinnya bukan buat kamu tapi buat Alma." balas Chika.
Abbey terkekeh kecil mendengar jawaban Chika.
"Ya udah sana masuk." perintah Chika.
"Ya udah, kami masuk yah. Dadah..." balas Abbey.
Abbey pun mendorong stroller Alma. Alma sengaja berbaring di stroller atas saran dokter yang menangani Alma di Bali, karena takut Alma terjatuh atau terbentur kalau Alma dibiarkan berjalan sendiri.
🍁 🍁 🍁
Jakarta.
Saat Abbey dan Alma sedang dalam perjalanan menuju Jakarta, hari ini Rico juga harus terbang ke Singapura karena ada sedikit masalah pada bisnisnya disana.
"Berapa lama kamu nanti disana?" tanya Runi.
"Di lihat dulu masalahnya, kalau masalahnya rumit, mungkin butuh satu sampai tiga bulan sampai bisnis kembali berjalan normal. Kalau masalahnya tidak rumit, yah paling tidak sampai satu bulan." jawab Rico.
"Soal endors gimana? Tutup endors atau jalan terus?" tanya Iyan.
"Jalan terus aja, tapi tanya dulu sama owner-nya mau endorsnya dalam bentuk konten yang gimana? Kalau mau dalam bentuk harus ada aku-nya, suruh dia langsung kirim barangnya ke Singapura tapi kalau gak, kalian bikin sendiri aja." jawab Rico.
"Baik A'." balas Iyan.
"Kalian kerja yang bagus, jangan sampai mengecewakan klien. Aku udah pusing mikirin masalah yang di Singapura, kalian disini jangan sampai bikin masalah lagi." nasehat Rico.
"Siap A'." balas tim Rico kompak.
"Mbak aku titip perusahaan yah." ucap Rico pada Runi.
"Iya." balas Runi.
"Laporin ke aku kalau mereka kerjanya gak becus. Biar aku suruh mereka bikin konten sama beruang kutub." Kata Rico lagi.
Bukannya takut, tim Rico malah terkekeh mendengar kata-kata Rico.
"Ya udah, aku masuk yah." Pamit Rico lalu masuk ke ruang tunggu.
"Kasihan Aa, hidupnya sekarang hanya untuk kerja, kerja, kerja." celetuk Fano.
Setelah nikah siri settingan Laura dan Rico berakhir, tim Rico baru tau hubungan Rico dan Abbey karena saat itu Rico terpuruk karena tidak bisa menemukan Abbey dimana-mana.
"Segitu cintanya Aa sama Abbey, sampe-sampe dia gak mau buka hatinya untuk perempuan lain dan setia nunggu Abbey." sahut Iyan.
"Itu namanya laki-laki setia! Gak kayak kalian, tampang pas-pasan, dompet pas-pasan, sok-sok mau jadi playboy!" sahut Runi.
"Bukan playboy Mbak, tapi nyari yang cocok!" balas Iyan.
"Cih nyari yang cocok! Cara nyocokkinnya lewat bawah gitu?" sindir Runi.
"Gak tau Mbak, kita bukan cowok kayak gitu." sahut Ardi.
Runi hanya memutar bola matanya malas.
Iya sih tim Rico tidak seperti laki-laki yang Runi bilang barusan, tapi kebanyakan laki-laki kan sekarang seperti itu.
"Udah... Udah... Ayo balik ke kantor, masih banyak yang harus di kerjain di kantor.
🍁 🍁 🍁
Bersambung...