Kekasih Rahasia Sang Selebgram

Kekasih Rahasia Sang Selebgram
Bab 33


🍁 Happy Reading 🍁


Enam tahun yang lalu.


Satu bulan setelah Abbey berada di Bali, Abbey baru mengetahui kalau dirinya tengah hamil dan kehamilannya sudah jalan dua bulan.


Tadinya Abbey berencana memberitahu Rico perihal kehamilannya, namun saat melihat berita di media kalau Laura juga tengah mengandung, Abbey pun mengurungkan niatnya untuk memberitahu Rico, hatinya hancur melihat berita itu. Abbey semakin yakin kalau Rico dan Laura bukan nikah siri settingan.


Abbey yang sudah putus asa pun berniat menggugurkan kandungannya, tapi niatnya itu juga Abbey urungkan karena Abbey tidak tega.


Semua keluarga Abbey juga tahu tentang kehamilan Abbey dan hendak mendatangi Rico untuk memintai pertanggung jawaban Rico, tapi dengan sangat memohon, Abbey meminta semua keluarganya untuk tidak mendatangi Rico dan tidak ada yang memberitahu Rico perihal kehamilannya, Abbey ingin menanggung semuanya ini sendirian.


Abbey juga meminta semua keluarganya untuk tutup mulut jika suatu saat Rico ataupun siapa pun datang mencari keberadaannya. Seluruh keluarga Abbey pun mengatur strategi agar Rico tidak mengetahui keberadaan Abbey. Keluarga Abbey yang bekerja di kependudukan pun membantu Abbey untuk mengubah identitasnya dan memasukkan data asli Abbey sebagai TKW ke China untuk antisipasi kalau suatu saat Rico datang mencari Abbey.


Dan membuat status Abbey menjadi janda yang di tinggal mati oleh suaminya agar Abbey tidak mendapat hujatan selama tinggal di Bali. Maklum saja daerah yang Abbey tinggali masih sangat kuat adat istiadatnya. Abbey bisa di usir dari wilayah tempat tinggalnya kalau masyarakat setempat tau Abbey hamil anak di luar nikah.


Tiga bulan setelah itu, media kembali di hebohkan dengan berita Laura yang keguguran. Abbey sudah tidak peduli mau berita itu settingan atau sungguhan, yang Abbey tau Rico sudah mencampakkannya demi menikah siri dengan Laura. Titik.


🍁 🍁 🍁


Bali.


Keesokan harinya.


Panas Alma tidak kunjung turun. Bahkan lebam di tubuh Alma semakin banyak. Abbey yang merasa ada sesuatu yang salah dengan tubuh Alma tanpa perlu menunggu dua hari lagi seperti yang dokter klinik katakan, Abbey langsung membawa Alma ke rumah sakit.


Di rumah sakit, Alma langsung di infus dan di rawat inap. Sampel darah Alma juga sudah diambil untuk di periksa.


Dua jam kemudian.


Perawat datang menghampiri bangsal Alma. Abbey dan Annet yang menemani Alma langsung menoleh ke arah perawat.


"Orangtua Alma..." ucap perawat.


"Iya saya sus." jawab Abbey.


"Di panggil dokter Bu, keruangannya." ucap perawat.


"Baik sus." balas Abbey.


"Alma, Bunda ketemu dokter dulu yah, Alma sama Tante Annet dulu yah." pamit Abbey.


"Mmm..." jawab Alma sambil menganggukkan kepalanya.


"Iya Teh." Jawab Annet.


Sebelum meninggalkan Alma, Abbey mencium putri semata wayang nya terlebih dulu setelah itu barulah Abbey keluar dari kamar rawat kelas tiga tempat Alma di rawat.


"Sus, kenapa harus ke ruang dokter yah? Apa penyakit anak saya berbahaya?" tanya Abbey pada suster yang mengantarnya ke ruang dokter. Ibu mana yang tidak parno saat anaknya sakit.


"Nanti dokter yang jelaskan yah Bu." hanya itu jawaban suster.


Makin parno sajalah pikiran Abbey.


Kini Abbey sudah berada di depan ruangan dokter. Perawat mengetuk terlebih dulu pintu ruangan dokter sebelum membuka pintu itu.


"Silahkan masuk Bu." ucap perawat mempersilahkan Abbey masuk.


Abbey pun masuk ke dalam ruangan dokter dengan jantung yang rasanya sudah melorot ke lambung.


Setelah Abbey masuk, perawat menutup kembali pintu dan meninggalkan Abbey dan dokter yang menangani Alma berduaan di ruangan itu.


"Silahkan duduk Bu." ucap dokter laki-laki paruh baya.


Abbey pun duduk di kursi yang berhadapan dengan kursi dokter.


"Orangtua Alma?" tanya dokter sekedar memastikan.


"I-iya dok." jawab Abbey gemetaran.


Dokter paruh baya itu menghela nafasnya kasar. Melihat dokter menghela nafasnya kasar, Abbey semakin yakin kalau kondisi Alma memang tidak baik-baik saja.


"Sebenarnya saya berat sekali mengatakan ini. Tapi ini tetap harus saya sampaikan." ucap dokter paruh baya itu.


Deg... Deg... Deg...


Jantung Abbey berdetak sangat kencang, ia sangat takut mendengar apa yang ingin dokter paruh baya itu sampaikan.


"Dari hasil tes darah, saya mendiagnosa anak Ibu mengidap kanker darah atau Leukimia." lanjut dokter paruh baya.


DUWAAAAAR....


🍁 🍁 🍁


Bersambung...