Kekasih Rahasia Sang Selebgram

Kekasih Rahasia Sang Selebgram
Bab 31


🍁 Happy Reading 🍁


Dokter.


Kini Alma sudah berada di ruang pemeriksaan.


"Sejak kapan anaknya panas Bu?" tanya dokter sambil meletakkan steteskop di dada Alma.


"Baru ini dok. Tadi pagi masih baik-baik saja." jawab Abbey.


Setelah memeriksa dada Alma, dokter pun memeriksa mulut kemudian mata Alma.


Tak lama mata dokter terpaku saat melihat lebam di lengan Alma.


"Apa anaknya tadi jatuh?" tanya dokter.


"Tidak dok, gurunya bilang tadi saat sedang main dengan teman-temannya tiba-tiba saja anak saya muntah lalu pas di periksa gurunya badan anak saya panas tinggi. Gurunya juga sudah memberi obat penurun panas tadi sebelum saya sampai di sekolah karena takut anak saya kejang." jawab Abbey.


Dokter menghela nafasnya kasar sambil mengernyitkan keningnya.


Ada satu penyakit yang saat ini menjadi kecurigaan dokter tapi dokter tidak berani mengatakannya terlalu dini karena tidak ingin membuat Abbey panik.


"Kalau begitu saya resepkan obat penurun panas dan antibiotik kalau dalam tiga hari panas anak ibu tidak turun-turun atau turun naik, saya sarankan ibu langsung pergi ke rumah sakit untuk melakukan cek darah." ucap dokter.


"Cek darah dok? Apa penyakit anak saya berbahaya makanya sampai harus cek darah?" tanya Abbey.


"Tidak Bu, cek darah hanya untuk mengetahui virus apa yang ada dalam tubuh anak ibu yang membuat anak ibu sampai panasnya gak turun-turun. Kalau pemberian antibiotik tidak mempan itu berarti ada virus yang menyerang tubuh anak ibu dan pemberian obat pun juga harus sesuai dengan virus yang menyerang tubuh anak ibu." jawab dokter menjelaskan.


"OOOh.." Abbey membulatkan mulutnya.


Dokter pun menuliskan resep obat untuk Alma.


"Ini Bu resepnya, tebus di bagian apotik yah." ucap dokter sembari memberikan resep itu pada Abbey.


"Makasih dok." jawab Abbey.


Abbey memberikan resep itu lagi pada Chika.


"Chik tolong tebusin obatnya yah, biar aku yang gendong Alma." ucap Abbey sambil memberikan resep itu pada Chika.


Chika menganggukkan kepalanya lalu cepat-cepat keluar dari dalam ruang pemeriksaan. Sedangkan Abbey, ia mendekati Alma yang masih berbaring di ranjang pasien.


"Ayo Sayang kita pulang." ucap Abbey sambil menggendong Alma.


"Iya kita pulang, tapi tunggu Tante Chika tebus obat dulu yah." jawab Abbey sambil berjalan menuju pintu.


"Terimakasih dok." ucap Abbey pada dokter sebelum keluar dari ruang pemeriksaan.


"Sama-sama Bu." jawab dokter.


"Cepet sembuh yah anak cantik." ucap dokter pada Alma sambil mengelus rambut Alma.


"Iya dokter. Terimakasih." malah Abbey yang menjawab mewakili Alma.


Abbey pun keluar dari ruang pemeriksaan.


"Gak lama kan Bun?" Alma melanjutkan pertanyaannya setelah keluar dari ruang pemeriksaan.


"Iya Sayang, gak lama kok." jawab Abbey.


Sedangkan dokter, ia menghela nafasnya kasar setelah Abbey dan Alma keluar dari ruangannya.


"Semoga saja dugaan ku salah. Kasihan anak sekecil itu kalau sampai terkena penyakit yang berbahaya." gumam dokter.


Sambil menunggu Chika, Abbey dan Alma pun duduk di ruang tunggu.


Tak sampai sepuluh menit Chika pun menghampiri Abbey dan Alma.


"Udah?" tanya Abbey saat melihat kedatangan Chika.


"Udah, yuk pulang." jawab Chika.


"Abbey pun berdiri dari duduknya dengan Alma yang masih dalam gendongannya.


"Sini biar aku aja yang gendong Alma." ucap Chika.


"Gak usah, kamu bawa motor aja. Tangan aku masih gemetaran." tolak Abbey.


"Ya udah." balas Chika.


Abbey dan Chika pun keluar dari praktek dokter dan berjalan menuju parkiran. Sekarang tujuan mereka adalah pulang ke rumah.


🍁 🍁 🍁


Bersambung...