
🍁 Happy Reading 🍁
Apartemen.
Kini Runi sudah berada di gedung apartemen Rico.
Seperti dugaan awal Runi, kalau di depan gedung lebih banyak lagi wartawan yang menunggu Rico.
"Heran deh, kenapa bisa sebanyak ini wartawannya? Apa ini karena pengaruh Laura." gumam Runi.
Untungnya pihak keamanan gedung apartemen sudah membuat pembatas yang tidak boleh di lewati wartawan, jadi begitu Runi keluar dari mobil, Runi bisa cepat masuk ke dalam gedung apartemen.
Sekarang Runi sudah berada di unit apartemen Rico.
"Astaga Rico!!!!" pekik Runi saat melihat Rico yang sudah terkapar di lantai ruang tengah. Runi melihat sebotol whisky di meja, tapi isi di dalam botol masih banyak, nampaknya Rico hanya meminum satu gelas whisky saja dan langsung tepar.
"Rico... Rico... bangun Rico!" Runi mencoba membangunkan Rico dengan menepuk-nepuk pipi Rico.
"Eugh..." Rico pun melenguh sambil mengerjapkan matanya.
"Mbak Runi." Lirih Rico saat matanya sudah terbuka lebar.
"Tumben kamu minum whisky? Abbey mana?" tanya Runi sambil membantu Rico duduk.
"Abbey pergi Mbak, dia ninggalin aku." jawab Rico sambil menangis.
"Dia gak mau terima dengan nikah siri settingan kamu ini?" tanya Runi.
Rico menganggukkan kepalanya.
"Aku gak bisa hidup tanpa Abbey, Mbak. Aku gak bisa Mbak. Tolong bantu aku Mbak." rengek Rico.
Runi menghela nafasnya kasar.
"Sabar Co, sabar. Dia pasti balik kok sama kamu." balas Runi sambil menepuk punggung Rico untuk menenangkan Rico.
KRIIING...
Tiba-tiba ponsel Runi berdering.
Runi pun mengambil ponselnya dari dalam tasnya.
"Bawa sini hape-nya Mbak, gara-gara dia, aku sama Abbey jadi putus!"
Runi menggelengkan kepalanya.
"Tenangkan dirimu Co, saat ini posisi mu sedang terjepit, kamu hanya bisa menuruti kata-kata Pak Leo." balas Runi.
"Diam yah, biar aku jawab telepon dari Pak Leo." kata Runi lagi.
Runi pun menggeser tombol hijau di layar ponselnya lalu mengaktifkan pengeras suara agar Rico juga mendengar percakapannya dengan Pak Leo.
"Halo Pak." jawab Runi.
"Apa Rico sedang bersama mu?" tanya Pak Leo.
"Iya Pak. Sekarang saya sedang bersama Rico di apartemennya." jawab Runi.
"Kalian sudah lihat kan berita di televisi?" tanya Pak Leo.
"Sudah Pak, malah sekarang wartawan sudah banyak menunggu di depan lobi." jawab Runi.
"Sebentar lagi mereka juga pergi, karena saya sudah mengumumkan besok pagi jam sepuluh Rico dan Laura akan mengadakan konferensi pers di ballroom hotel milik Laura. Jadi besok sebelum jam sepuluh Rico harus sudah sampai di hotel itu. Nanti saya akan memberikan skrip apa yang harus Rico katakan di depan media. Kamu kasih tau Rico yah." balas Pak Leo.
"Saya gak mau! Bapak sudah keterlaluan mengatur hidup saya! Saya belum mengambil keputusan tapi Bapak sudah menyebarkan foto, bahkan Bapak sampai nyewa laki-laki yang mirip dengan saya untuk berfoto!" Teriak Rico.
"Rico!" geram Runi sambil membulatkan matanya.
"Kalau kamu gak suka yah sudah buat konferensi pers mu sendiri kalau begitu dan pastinya kamu tau kan konsekuensinya apa?" balas Pak Leo.
Tanpa mau mendengar makian dari Rico lagi, Pak Leo pun langsung menutup teleponnya.
"Aaarrrgh.... Praaaank..." teriak Rico sambil melempar gelas yang berisi cairan whisky ke tembok.
Runi hanya bisa menghela nafasnya kasar melihat Rico yang frustasi seperti ini. Bukan hanya Rico yang kesal dengan kearoganan Pak Leo, Runi juga kesal dengan Pak Leo karena kembali mengulangi kesalahannya tujuh tahun lalu.
🍁 🍁 🍁
Bersambung...