Kekasih Rahasia Sang Selebgram

Kekasih Rahasia Sang Selebgram
Bab 44


🍁 Happy Reading 🍁


"Nus..."


"Iya A'."


"Kamu beli sambel ini dimana?" tanya Rico.


"Online A'." jawab Yunus.


"Apa owner-nya suka jualan live?" tanya Rico.


"Iya. Kenapa? Aa suka sama sambelnya? Nanti bisa aku pesenin A', mau berapa botol?"


"Apa yang live Abbey?" tanya Rico.


Yunus menggelengkan kepalanya.


"Masa sih?" Rico tidak percaya.


"Kenapa memangnya A' kok Aa pikir Abbey yang live?" tanya Yunus.


"Gak pa-pa." jawab Rico.


"Coba minta akunnya, biar aku lihat sendiri mereka live." pinta Rico.


"Ini akun T*kToknya dan ini akun Instagram." ucap Yunus sambil memberikan nama akun CaBey Bunda Alma pada Rico.


"Tapi mereka kalau live jam-jam delapan A'." ucap Yunus.


"Ummm.." balas Rico sambil memfollow akun T*kTok dan Instagram CaBey Bunda Alma.


"Emangnya kenapa sih Co? Apa rasa sambelnya sama seperti buatan Abbey?" tanya Runi penasaran.


Rico menggukkan kepalanya.


"Sebanyak apapun sambel yang aku makan di dunia ini, hanya sambel buatan Abbey yang rasanya seperti ini, rasa sambelnya punya ciri khas tersendiri." jawab Rico.


"Sekalipun koki yang buat dengan resep yang Abbey kasih, rasanya gak akan sama." kata Rico lagi.


"Ya udah A' pantengin aja live-nya nanti jam delapan. Tapi sejauh aku mantengin live mereka, aku sama sekali gak pernah liat Abbey masuk dalam live. Kalau Abbey pernah masuk, gak mungkin aku gak kasih tau Aa." ucap Yunus.


"Aku yakin Abbey suruh orang untuk live dan dia hanya bekerja di balik layar karena aku tau Abbey gak akan pernah mau live-live kayak gitu, dia orangnya pemalu." jawab Rico.


Tim Rico menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Rico. Waktu bekerja sebagai asisten Rico saja, Abbey tidak pernah mau di wawancara kalau ada gosip tentang Rico.


🍁 🍁 🍁


Rumah singgah.


Sekarang ibu-ibu di rumah singgah sedang menikmati makan bersama.


"Mama-mama semua, aku punya ide baru nih untuk varian sambel kita." ucap Abbey.


"Varian apa Bunda Alma?" tanya Mama Rora.


"Sambel cumi. Gimana menurut kalian?" jawab Abbey.


"Bagus tuh, bagus. Dicoba aja Bunda Alma." balas Mama Rora dan di sahuti dengan anggukkan kepala oleh para Mama yang lainnya tanda mereka setuju.


"Oke, besok kita bikin. Tapi jangan di kasih tau dulu nanti dalam live." balas Abbey.


Pukul 19.45


Makan malam pun selesai.


Mama Rora dan Mama Bisma pun bersiap-siap untuk melakukan live, Mama Syifa dan Mama Bisma menemani dua Mama itu live untuk mencatat orderan. Sedangkan Mama-mama yang lainnya termasuk Abbey masuk ke kamar mereka masing-masing untuk menemani anak-anak mereka sekalian menonton live Mama Rora dan Mama Bisma.


Kamar Alma.


Begitu masuk ke dalam kamar, Abbey melihat Alma yang sudah tidur.


Sejak kemoterapi pertamanya seminggu yang lalu, tubuh Alma jadi mudah lelah dan selera makannya juga berkurang. Biasanya setelah makan malam, Alma akan berkumpul dengan teman-temannya di ruang televisi, tapi sejak di kemoterapi, setelah makan malam, Alma lebih memilih untuk masuk ke kamar dan tidur.


Abbey berjalan mendekati tempat tidur lalu duduk di tepi tempat tidur. Abbey menatap dalam-dalam wajah Alma. Melihat wajah Alma, Abbey menjadi merasa sangat bersalah.


"Maafin Bunda yah Sayang, Bunda gak bisa cariin kamu donor sumsum tulang belakang." lirih Abbey.


Sebelum Alma melakukan kemoterapi, dokter menyarankan Alma untuk langsung melakukan donor sumsum tulang belakang karena cara itulah yang paling ampuh untuk menyembuhkan leukimia apalagi pada anak-anak.


Sedangkan donor yang paling cocok itu hanya bisa di dapatkan dari saudara kandung, dengan kata lain jika Alma ingin mendapatkan donor sumsum tulang belakang harus dari kakak atau adik kandung Alma, tapi sayangnya Alma tidak mempunyai kakak atau adik kandung.


Dokter juga memberikan opsi kedua yaitu donor dari ayah kandung, yah walaupun tingkat kecocokannya hanya 1%, tapi lagi-lagi Abbey tidak mampu menghadirkan Ayah kandung Alma untuk menjadikan pendonor. Abbey pun mengajukan dirinya sendiri tapi sayangnya sumsum tulang belakang Abbey dan Alma sama sekali tidak cocok.


Karena tidak memiliki pendonor, mau tidak mau Alma harus menjalani terapi obat-obatan terlebih dulu setelah itu baru di lakukan kemoterapi.


🍁 🍁 🍁


Bersambung...