
🍁 Happy Reading 🍁
"Oh Ibu dari Bali. Kalau saya dari Surabaya." ucap si Ibu muda sambil mereka berjalan memasuki rumah.
"Saya Vita, tapi panggil saja Mama Rora, nama anak saya Aurora." ucap Ibu muda itu memperkenalkan dirinya.
"Saya Lena, panggil saja saya Bunda Alma, karena nama anak saya ini Alma." balas Abbey.
Sengaja Abbey memperkenalkan dirinya memakai nama barunya Lena Hapsari.
"Kira-kira masih banyak gak yah Bu kamar yang kosong?" tanya Abbey.
"Masih Bu. Kamar yang terisi aja masih delapan, sedangkan seluruh kamar di bangunan A ini ada lima belas." jawab Mama Rora.
"OOOh... memangnya ada berapa bangunan?" tanya Abbey.
"Katanya mau di bangun tiga bangunan. Bangunan B, yang itu, udah jadi sih tapi belum ada barang-barangnya. Kalau bangunan C masih tahap penyelesaian, kemungkinan dua bulan lagi selesai. Kalau bangunan B mungkin dua Minggu lagi sudah bisa ditempati." jawab Mama Rora.
"Banyak juga yah." sahut Abbey.
"Iya Bun, karena sekarang makin banyak anak-anak yang mengidap kanker, terutama kanker darah." Jawab Mama Rora.
"Iya juga sih." balas Abbey.
"Tapi dari beberapa rumah singgah yang saya tempati, baru rumah singgah ini yang nyaman, selain kamarnya pisah dengan anak-anak lain dan lumayan besar, ada taman juga di belakang, jadi kalau anak-anak bosan di dalam yah, bisa santai-santai di taman. Terus ada bioskop mininya, ada playgroundnya, pokoknya di jamin betah lah anak-anak tinggal disini." ucap Mama Rora.
"Kalau boleh tau Rora sudah berapa lama sakit Mam?" tanya Abbey.
"Sudah hampir dua tahun." jawab Mama Rora.
Hati Abbey terasa perih mendengar jawaban Mama Rora. Abbey langsung membayangkan Alma yang harus melakukan pengobatan selama dua tahun. Melihat Alma di rawat di rumah sakit selama beberapa hari saja hati Abbey sudah hancur, apalagi kalau sampai bertahun-tahun. Abbey tidak yakin bisa kuat selama itu.
Tapi melihat Mama Rora yang bersemangat, Abbey jadi banyak belajar, kalau senyum seorang ibu adalah pondasi utama untuk kesembuhan sang anak. Kalau Ibunya semangat dan tidak putus asa, anak juga akan bersemangat untuk sembuh.
"Kalau Alma sendiri?" Mama Rora balik bertanya.
"Baru Mam, baru beberapa hari yang lalu saya tau." jawab Abbey.
"Oh. Tetap semangat yah Bun demi anak-anak kita." balas Mama Rora dan dibalas dengan anggukkan kepala oleh Abbey.
Sampailah mereka di bangunan A. Mama Rora pun meminta Abbey untuk menunggu di ruang tamu sedangkan Mama Rora memanggil pengurus rumah singgah.
🍁 🍁 🍁
Setelah berbicara dengan pengurus rumah singgah, pengurus rumah singgah pun mengajak Abbey untuk memilih kamar yang ingin Abbey tempati.
Setelah melihat-lihat Abbey pun memutuskan untuk menempati kamar nomor 12 karena kamar itu berada di bagian belakang jadi bisa melihat ke arah taman dari dalam kamar.
Seperti yang dokter Reksa katakan kalau tinggal di rumah singgah ini sama sekali tidak di pungut biaya. Bahkan anak-anak penderita kanker mendapat makanan yang di masak langsung oleh ahli gizi. Tapi memang untuk orangtua yang menemani anak-anak mereka tidak di tanggung makan, makanya di kamar di sediakan dapur yang isinya sudah lengkap, ada kompor satu mata, kulkas mini rice cooker dan dispenser. Di ruang tidur juga sudah disediakan tempat tidur double bed ukuran nomor tiga dan juga lemari dua pintu serta satu meja dan kursi. Pokoknya setiap kamar, mendapat fasilitas yang lengkap.
Bahkan bagi orangtua yang terpaksa harus pulang kerumah, pihak rumah singgah juga sudah menyiapkan pengasuh yang akan menjaga anak mereka selama orangtua pulang ke rumah mereka dan itu gratis karena mereka dibayar langsung oleh para pemilik rumah singgah. Sedangkan uang sumbangan yang di berikan pada donatur khusus untuk biaya operasional rumah singgah.
🍁 🍁 🍁
Bersambung...