
🍁 Happy Reading 🍁
Jakarta.
Sesampainya di Jakarta, Abbey dan Alma langsung pergi ke rumah sakit yang di rujuk dokter di Bali. Sedangkan koper-koper Abbey dan Alma dititipkan di pos satpam rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit Alma langsung melakukan pemeriksaan ulang oleh dokter spesialis, seperti tes darah dan tes sumsum tulang belakang, gunanya untuk mengetahui jenis leukimia yang di derita Alma.
Setelah satu jam lebih melakukan pemeriksaan ulang, dokter pun meminta Abbey dan Alma pulang dulu karena hasil laboratorium baru keluar esok hari.
"Besok kami akan menghubungi Ibu kalau hasil laboratorium sudah keluar." ucap dokter Reksa, dokter paruh baya yang menangani Alma.
"Baik dok. Kalau begitu kami permisi dulu." balas Abbey.
"Oh iya, Ibu dari Bali kan?" tanya dokter Reksa.
"Iya dok." jawab Abbey.
"Sudah ada tempat tinggal selama di Jakarta? Karena pengobatan Ananda Alma ini bukan satu-dua hari atau satu-dua minggu, tapi bahkan berbulan-bulan tergantung jenis leukimianya." tanya dokter Reksa.
"Um... untuk sekarang belum sih dok, tapi rencana pulang dari sini saya baru mau cari kos-kosan." jawab Abbey.
"Kenapa tidak tinggal di rumah singgah? Biaya kos-kosan di sekitar sini sangat mahal. Kalau tinggal di rumah singgah kan gratis." tanya dokter Reksa.
"Um... Sebenarnya sih mau dok, tapi kalau di rumah singgah saya gak punya privasi untuk bekerja. Karena kebetulan pekerjaan saya adalah pembuat komik online, jadi selain menggambar saya juga harus memikirkan alur cerita." jawab Abbey.
"Kalau memang mau seperti itu, ada juga kok rumah singgah yang modelnya seperti rumah petak. Jadi setiap kamar di dalamnya ada dua petak, petak belakang dapur dan kamar mandi dan petak depan ruang tidur. Ruang tidurnya juga cukup luas. Jadi sangat nyaman untuk ditinggali." balas dokter Reksa.
"Yang benar dok? Apa ada biaya kalau mau tinggal di rumah singgah itu?" tanya Abbey
Dokter Reksa menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada. Tapi memang rumah singgah baru beberapa kamar yang jadi, kalau tidak salah baru sekitar sepuluh atau lima belas, dan sedang dalam proses penambahan kamar." jawab dokter Reksa.
"Kira-kira masih ada kamar yang kosong gak yah dok?" tanya Abbey.
"Rumah singgah ini masih baru, baru beberapa hari yang lalu di resmikan, saya rasa masih banyak kamar kosong disana. Coba saja datang kesana, mana tau saja cocok." kata dokter Reksa lagi sambil memberikan kertas bertuliskan alamat rumah singgah itu.
"Iya dok, terimakasih informasinya. Kalau begitu kami permisi dulu." Pamit Abbey.
🍁 🍁 🍁
Rumah singgah Harapan Ceria.
Kini Abbey dan Alma sudah berada di depan gerbang rumah singgah yang dokter Reksa katakan.
Di lihat dari luar, rumah singgah ini sangat nyaman dan luas, tidak seperti rumah singgah yang ada dibayangan Abbey sebelumnya.
"Selamat siang Bu, ibu mau masuk?" tanya seorang Ibu muda yang sepertinya baru pulang berbelanja.
Sontak Abbey menoleh ke arah si Ibu.
"Ini rumah singgah untuk anak-anak penderita kanker kan yah Bu?" tanya Abbey memastikan.
"Iya Bu. Anak Ibu penderita kanker juga yah?" tanya Ibu muda itu sambil melirik Alma.
Abbey menganggukkan kepalanya.
"Saya baru sampai dari Bali, dokter yang menangani anak saya menyarankan saya untuk tinggal rumah singgah ini, makanya saya tau tempat ini." jawab Abbey.
"Oh. Ya sudah Bu, mari masuk kalau begitu. Bicara langsung sama pengurusnya, karena kebetulan saya juga penghuni di rumah singgah ini. Anak saya juga mengidap kanker." balas Ibu muda itu lalu membuka pintu gerbang.
"Oh..." Abbey pun masuk kedalam sambil mendorong stroller dan menyeret kopernya, sedangkan koper Alma dan satu tas jinjing di bawakan oleh si Ibu muda.
🍁 🍁 🍁
Bersambung...