
Ghea seperti alarm yang dikirimkan ketiga kakaknya untuk Iyan. Ketika Iyan dan Beeya menoleh, ternyata anak itu hanya mengigau. Beeya tertawa dan langsung mendorong tubuh sang pacar.
"Belum sah, pacar. Kalau mau begituan halalin dulu akunya." Beeya tertawa ketika mengatakan itu. Beda halnya dengan Iyan.
Mendengar kata halal membuat otak Iyan berputar. Dia membuka tas ransel yang dia bawa. Terselip sebuah kotak merah maroon kecil di bagian dalam tas tersebut. Dia mengambilnya, tangannya membuka kotak tersebut. Lengkungan senyum terukir di wajah tampannya.
"Apa langsung nikah aja?" gumamnya. "Jadi, gak perlu ikat-ikatan," lanjutnya lagi.
Iyan hanya menghela napas kasar. Dia teringat akan ucapan kakak pertamanya. Apa yang dikatakan oleh kakaknya memang benar.
"Apa yang harus Iyan lakukan, Ayah?"
.
Beeya memandangi wajahnya di cermin. Di belakangnya ada seorang anak perempuan yang tengah tertidur dengan begitu lelapnya. Beeya teringat akan perkataan Iyan di rumah makan tadi.
#flashbck on.
Iyan meraih tangan Beeya ketika keponakannya menikmati cumi dan juga gurita. Beeya pun menatap ke arah Iyan yang sudah terlihat serius.
"Kenapa?" tanya Beeya dengan sangat lembut.
"Jika, aku meminta kamu untuk jadi pendamping hidup aku. Apa kamu mau?"
Pertanyaan Iyan yang mampu membuat Beeya tak bisa menjawab. Dia melihat tidak ada keraguan di sana. Hanya sorot penuh keseriusan yang Iyan berikan.
"Chagiya."
Beeya pun menghela napas kasar. Tangannya sudah berada di atas punggung tangan kekasihnya.
"Sedari awal, aku menjalani hubungan dengan siapapun tidak main-main. Aku selalu menjalin hubungan dengan sangat serius," tuturnya. "Termasuk sama kamu."
Ada kelegaan di hati Iyan. Bibirnya pun melengkung dengan sempurna ketika mendengar apa yang dikatakan oleh sang kekasih hati.
"Malah aku yang ingin bertanya kepada kamu," ujarnya. Dahi Iyan mengkerut ketika mendengar ucapan Beeya.
"Apa kamu mau bersanding dengan wanita yang penuh kekurangan seperti aku?" tanya Beeya dengan mata yang penuh keseriusan. "Aku ini gak sempurna. Aku ini masih mengalami trauma dan belum kembali pada diriku yang semula. Apa kamu mau?"
Iyan mengusap lembut punggung tangan Beeya. Menatapnya dengan sangat intens.
"Perihal trauma kamu, aku akan membantu kamu sembuh dari trauma yang menghantui kamu. Aku akan selalu setia berada di samping kamu. Menemani kamu lepas dari trauma yang masih membelenggu."
Beeya tersenyum hangat mendengar ucapan dari Iyan. Dia sangat merasakan bagaimana tulusnya perasaan Iyan kepadanya.
"Apa aku tidak terlalu tua untuk kamu?" ujar Beeya. "Usia kita beda lima tahun loh. Itu bukan rentang usia yang sedikit."
Iyan segera pindah tempat duduk dan kini berada tepat di samping Beeya. Dia mengambil ponselnya dan aplikasi kamera dia buka.
"Adek, tolong fotoin Om sama Tante centil," pinta Iyan.
Anak perempuan comel itu mendengkus kesal. Namun, dia menuruti apa yang dikatakan oleh Iyan. Sebelumnya dia harus mencuci tangan dengan bersih agar ponsel sang paman tidak kotor.
Beeya dan Iyan sudah tersenyum ke arah kamera. Ghea sudah membidik gambar kedua orang dewasa di depannya. Tanpa banyak bicara, dia segera mengembalikan ponselnya kepada Iyan, dan bergegas menghabiskan cumi dan gurita yang sangat dia suka.
Iyan tersenyum ketika melihat hasil jepretan dari Ghea. Iyan menunjukkan kepada Beeya gambar mereka berdua. Sang kekasih pun tersenyum melihatnya.
"Apa di foto ini kamu terlihat tua?"
Beeya menatap Iyan dengan sangat serius. Dia melihat wajah tampan kekasihnya dengan sangat jelas.
"Kamera ponsel kamu terlalu jahat." Iyan malah tertawa dan mencubit gemas pipi Beeya.
#off.
Bibir Beeya terus melengkung dengan sempurna ketika mengingat kejadian tadi di restoran. Beeya meraih ponselnya. Dia membuka galeri foto dan memperlihatkan fotonya bersama Iyan.
"Apa aku masih terlihat seumuran dengan pemuda tampan ini?"
Beeya meletakkan ponselnya di atas meja rias. Dia memangku tangannya dan memandang foto itu dengan senyum yang terus melengkung di bibirnya.
"Wajahku yang terlalu imut atau wajah pemuda ini yang terlalu boros?"
...****************...
Komen dong. ..