Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
93. Seafood


Ghea dan Beeya sudah berlari ke arah Iyan yang tengah memejamkan mata. Ghea dengan jahilnya membuka kacamata Iyan. Ghea sedikit terkejut dan menyenggol tangan Beeya. Ada bulir bening yang menetes di ujung matanya.


"Om nangis."


Beeya menyeka lembut ujung mata Iyan, dan dengan lembut dia membangunkan sang kekasih. Ketika dia membuka mata, Iyan melihat Beeya sudah menatapnya.


"Kamu menangis kenapa? Kamu mimpi apa?"


Iyan terdiam sejenak, tetapi tatapan Beeya masih tertuju pada Iyan seorang.


"Cerita sama aku," pinta Beeya.


Iyan pun mendudukkan tubuhnya. Dia menatap Beeya dengan sangat intens.


"Aku bertemu dengan Ayah." Beeya segera memeluk tubuh Iyan. Ada kebahagiaan yang menjalar di hati Beeya. Akhirnya Iyan bisa bertemu dengan sang ayah tercinta walaupun hanya dalam mimpi.


"Sudah jangan sedih lagi. Ayah akan sedih kalau kamu terus-terusan sedih." Iyan semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Beeya. Menelusupkan wajahnya di perut Beeya karena posisi Beeya tengah berdiri.


"Tante, Adek lapar."


Kemesraan Iyan dan Beeya harus terhenti ketika Ghea mulai merengek. Iyan dan Beeya pun malah tertawa. Mereka berdua seakan tidak terganggu oleh kehadiran Ghea.


"Bersihin tubuh dulu, ya. Baru kita nyari makan."


Kedatangan Beeya membua5 mata Iyan memicing. Apalagi Beeya hanya memakai sport bra yang memperlihatkan perutnya yang putih seprti susu.


Tatapan tajam Iyan mampu membuat Beeya melihat penampilannya dari atas hingga ke bawah. Iyan segera mengambil jaket dan memasangkannya pada tubuh Beeya.


"Aku gak suka kamu terbuka di tempat umum," tegasnya.


Beeya pun mengangguk. Padahal wajar Beeya menggunakan pakaian seperti itu di pantai. Namun, Beeya akan menjadi manusia penurut jika di depan Iyan.


Ghea menginginkan makan di restoran seafood. Iyan dan Beeya dibawa oleh anak itu ke sebuah restoran seafood.


"Ini restoran paling enak. Adek sering ke sini sama Mas, Daddy dan Mommy."


"Pacar," panggil Beeya pelan.


"Gak apa-apa."


Beeya pun menghela napas kasar. Iyan sudah banyak mengeluarkan uang untuknya. Dia tidak ingin merepotkan Iyan lagi. Tanpa mereka berdua sadari, Ghea sudah menulis apa yang dia inginkan dan memberikannya kepada pelayan.


"Adek mau pesan apa?" tanya Iyan agar tidak terjadi perdebatan di di antara Iyan dan Beeya.


"Adek sudah pesan."


Iyan dan Beeya saling pandang. Sejak kapan bocah ini memesan makanan. Apa ketika mereka hampir berdebat.


Makanan pesanan Ghea sudah tiba. Mata Beeya melebar ketika dia melihat apa yang keponakan Iyan pesan. Beeya menggelengkan kepala, ternyata cara makan anak Sultan itu berbeda," batinnya.


"Cobain, deh. Ini makanan paling enak di restoran seafood ini."


Beeya mencoba apa yang Ghea pesan. Ucapan Ghea tidak main-main. Masakan di restoran seafood itu sungguh nikmat.


"Enak 'kan." Beeya pun mengangguk.


Beeya menoleh ke arah Iyan yang sedari tadi tidak mengeluarkan suara. Ternyata Iyan tengah sibuk mengerjakan pekerjaan yang Radit berikan.


"Mau nyoba ikan bakar gak?" tawar Beeya. Iyan menggeleng kecil. Beeya menghela napas kasar.


"Ayang," panggil Beeya. Dahi Iyan pun mengkerut ketika mendengar panggilan baru yang keluar dari mulut Beeya.


"Mau gak, Yang?" Beeya sudah menyodorkan ikan bakar ke mulut Iyan. Pacar dari Beeya pun memakannya dan dia akui masakan di restoran ini memang enak.


"Aku ngerjain PR dari Bang Radit dulu," ucap Iyan. Dia tak segan mencium kening Beeya dengan. sangat dalam.


Sebelum dia mengerjakan tugas dari Radit, matanya berkeliling terlebih dahulu ke setiap sudut bangunan. Matanya memicing ketika melihat spot yang sama ketika dia menghubungi si triplets tadi.


"Itu kan-"